Yang Sedap Tapi Tersembunyi di Belitung

Aku punya teman. Dia punya pulpen. Pulpennya selalu menuliskan nama-nama tempat makan ramai. Setiap kali bingung mau makan di mana, kawan tadi punya satu pakem: cari yang ramai. Yang ramai pastilah enak. Ada kalanya benar, ada kalanya tidak.

Kawan saya tadi, jika dihadapkan pilihan mendukung klub sepak bola, hampir pasti pilihannya berputar-putar di antara Manchester United, Real Madrid, Juventus, AC Milan, Barcelona, Inter Milan, atau Liverpool. Susah berharap dia akan menunjuk West Ham, Sevilla, apalagi Consadole Sapporo.

Logika ini menurut Rolf Dobelli (penulis buku The Art of Thinking Clearly) berakar dari masa pra sejarah. Yang mana kala itu manusia zaman dulu, ketika sedang berburu/diburu, akan cenderung mengikuti gerak keramaian ketimbang berpikir kemudian beraksi sendiri. Atas nama kelangsungan hidup.

Mereka yang pernah/sedang tinggal di Bandung, utamanya di area Setiabudi dan Gegerkalong, sudahlah akrab dengan warung makan AEP (Asli Enak Pisan) dan Sate Ayam di dekat Alfamart Gerlong Girang. Selalu ramai. Dan memang sedap masakannya.

Di beda kesempatan, ada pula tempat makan ramai yang cuma penuh orang tapi sedapnya medioker. Kusebutkan salah satunya: sate ayam Heri di Sabang, Jakarta Pusat. Mahal iya, sedapnya biasa saja. Es Teler 77, Solaria, dan tempat makan lain yang kebanyakan cabang tak usahlah dibicarakan. Nama memang besar dan membesar, tapi soal rasa malah mengecil.

Sewaktu berlibur di Belitung, aku dan istri mampir ke tempat makan (dan minum) yang ramai dan tak ramai. Harus adil. Ingat kata Pramoedya, terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran. Kami mampir ke Kopi Kong Djie dan Mie Atep. Tempat terakhir nanti saja kusebut namanya.

Warung kopi ini sudah ada ejak 1973. Tidak, aku tidak salah ketik. Lihat saja sendiri, tulisannya memang ‘ejak 1973’. Aku memesan coklat susu, istriku kopi susu. Harganya lebih murah dari tempat ngopi asal Amerika itu. Ya terang saja.

Mana kopi, mana coklat?

Mana kopi, mana coklat?

Aku tiada berbohong kawan

Aku tiada berbohong kawan

Tempat air diseduh pakai tungku

Tempat air diseduh pakai tungku

“Ini pakai kopi Belitung Pak?”

“Itu campuran arabika dan robusta. Kopinya dari Jawa dan Lampung,”

Yang namanya kopi Belitung itu tidak (atau belum) ada kawan.

“Di sini tidak ada yang tanam kopi.  Yang bikin khas ya campurannya itu. Kami racik sendiri,” kata si bapak yang lupa kutanya nama dia. (pembaruan: ternyata ada, menurut artikel ini)

Bapak itu generasi kedua. Kong Djie adalah nama bapaknya. Generasi ketiganya belum ketahuan siapa. Anaknya yang kuliah di Selandia Baru memilih kerja di sana.

Waktu itu Kamis malam. Warkop itu sepi. Kupikir akan sangat ramai.

“Di sini ramainya kalau pagi. Orang-orang ngopi sebelum kerja. Atau selepas absen mampir ke sini dulu sebentar,”. Sepagi itu, rayuan kasur dan selimut hotel masih begitu kuat Pak, ketahuilah.

Aku tak paham kopi. Dari dulu. Tapi kalau coklat yang kuminum itu sedikit aku bisa paham. Rasanya lebih pekat dan pahit dari yang biasa kalian minum wahai orang kota. Lebih sedap kubilang.

Dibanding kopi, aku lebih bisa lagi merasai mie. Sedap atau tidaknya lebih kentara. Mie Atep begitu tersohor bagi pelancong. Sepeda motor pun kami parkirkan di sana. Duduk, pesan, lalu makan.

Mienya lebih tebal dari mie burung daraaaaa enaknyaaaa nyambung teruuuus. Kuahnya cukup kental. Ada mentimun, kentang, dan satu bahan dari terigu yang biasa ada di capcay itu. Ah lupa, udang kecil pun disertakan.

Rasa kuahnya manis dan gurih. Berhubung kepekaan rasaku belum sedetail koki, cukuplah kubilang begini: enak, makanlah. Satu setengah porsi, karena satu kurang, dua kebanyakan.

Suasana di Mie Atep.

Suasana di Mie Atep.

Mie Atep ada di Belitung, bukan Sunda.

Mie Atep ada di Belitung, bukan Sunda.

Yang paling enak kusimpan paling akhir. Ingatlah bagaimana Leicester City bisa jadi juara Liga Inggris musim lalu. Sedikit sekali orang menduga. Rasio taruhannya saja 5000/1. Artinya, kalau memasang satu juta rupiah, kalian akan memenangkan lima miliar rupiah. Cukup untuk stok tempe seumur hidup.

Kedai Ishadi berjarak cuma 100 meter dari Green Tropical Village Resort. Menunya biasa saja: nasi goreng, pempek, kwetiau, mie goreng. Tapi ada juga yang kurang dikenal orang Jawa (pikirku sih begitu) semisal pantiaw.

Kupesan pantiaw karena menu nasi dan mie goreng sedang kosong. Pempek juga, karena sedang ingin saja. Makanan kami bawa pulang ke penginapan.

Oh tuhan. Kenapa bisa ada makanan seenak ini?

Itu adalah pempek terenak yang pernah kumakan. Peringkat pertama sebelumnya ditempati pempek KPAD Gegerkalong. Empat tahun lalu sekeluarga asal Palembang pindah ke Bandung, coba-coba berjualan pempek. Harganya kala itu Rp10.000.

Pempek di Kedai Ishadi ada dua jenis: lenjer dan kapal selam. Tapi ukurannya kecil. Yang bikin enak, kulit luarnya tidak terlampau keras. Dan yang paling juara adalah cukanya. Begitu gurih dan sedikit manis. Istriku yang doyan makan mengamini.

Pantiaw ternyata semacam kwetiau. Namun kuahnya kental. Lebih kental dari Mie Atep. Warna kuahnya putih ada tekstur kasar. Aku tak yakin itu apa, kemungkinan telur. Tapi mungkin juga bukan. (pembaruan: ternyata itu dari ikan, tapi apa jenisnya sulit dilafalkan) Rasanya gurih. Kwetiaunya biasa saja, tapi kuahnya istimewa. Cukup, aku jadi terbayang-bayang.

Pantiaw

Pantiaw

Pengusaha kuliner sekalian, mengukur tingkat kepuasan pelanggan itu sederhana. Jika pelanggan membeli lagi dan merekomendasikannya, maka ia puas. Seperti yang kulakukan ini.

Dari Belitung ini bisa kuambil pengalaman. Warung makan yang ramai kadang memang benar-benar sedap masakannya, tapi yang sepi tak serta merta berarti tidak sedap. Cobalah, itu tak akan membunuhmu. Ini bukan masa berburu dan tidak ada kjokkenmodinger di samping guamu.

©Shesar, Belitung 9 Oktober 2016

mager di atas kasur

Encourage Club #3: Sejarah, Budaya, dan Sedapnya Interaksi Sosial

Karena tak melulu foto yang dicari para penikmat jalan-jalan. Bagi sebagian, pengalaman bepergian ke daerah baru bukan selalu soal memburu foto apik nan ciamik. Tidak, bukan soal kegiatan mendokumentasi tidak penting apalagi menarik. Tapi ada hal lain yang bisa dinikmati selain jepret menjepret.

Dalam penelitian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada 2003, ditemukan bahwa faktor budaya dan alam jadi penarik utama kunjungan wisatawan mancanegara. Sudah tentu seseorang berwisata untuk melihat dan merasai sesuatu yang beda dari habitatnya. Contohnya, orang gunung penasaran ingin ke pantai. Dan orang pesisir ingin mendaki guna tahu apa rasanya puncak gunung itu.

Sudah banyak sekali biro perjalanan dan tur operator yang menjual paket wisata dengan alam dan budaya sebagai produk utama. Namun, belum banyak yang mengajak wisatawan meresapi budaya (juga memahami sejarah) penduduk setempat.

Ceruk pasar alias niche market. Begitu pakar pemasaran menamainya. Di sanalah Campa Tour memilih perannya.

Salah seorang pendirinya, Fitri Utaminingrum, membagikan pengalaman dan wawasannya dalam kelas Encourage Club. Seperti kelas-kelas sebelumnya, kegiatan ini kami hadirkan untuk memperkaya wawasan PNS Kementerian Pariwisata pada khususnya, dan keseluruhan PNS pada umumnya.

Kelas ketiga ini berlangsung 6 Agustus lalu. Dan seperti yang sudah-sudah, beruntung sekali kami mendapatkan lokasi gratisan. Terima kasih GrowInc 🙂

Fitri menceritakan bagaimana awal mula Campa Tour berdiri. Menyingkat yang panjang, mulanya Campa Tour belum mengkhususkan diri menawarkan paket wisata budaya dan sejarah. Diferensiasi menjadi alasannya. Harus menjadi beda agar tidak terkapar di tengah persaingan.

 

Kak Fina ketjeh ngemsi

Kak Fina ketjeh ngemsi

 

Mengapa budaya dan sejarah?

Karena dengan memahami sejarah dan budaya, dengan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, ada nilai dan pengalaman lebih yang bisa dibawa pulang. Campa Tour menjadikan paket yang mereka jual lebih bernilai karena ada pula misi sosial yang dibawa.

Salah satu contoh, Campa Tour mengajari penduduk di salah satu desa di NTT cara melayani wisatawan. Ada kecanggungan di awal, namun seiring waktu berjalan, mereka pun terbiasa.

Satu hal lainnya, dengan mengajak wisatawan memahami budaya dan sejarah, penduduk setempat merasa lebih dihargai.

Satu cerita dari Cirebon, seorang pengrajin topeng merasa senang saat dikunjungi wisatawan. Tak sekedar menonton dan menjepret, tapi juga mencari tahu sejarahnya. Sederhana, tapi si pengrajin merasa dihargai karena keingintahuan seperti itu jarang hadir ke mereka.

Ada pula cerita dari Sumba, yang mana seorang penduduk lokal senang kala wisatawan mau menginap di rumah tradisional.

“Kami senang merasa diperhatikan. Soalnya biasanya wisatawan cuma ke pantai dan berfoto,”. Sesederhana itu.

Dengan berinteraksi penduduk lokal , wisatawan juga diajak untuk memahami apa dan siapa mereka. Apa yang mereka inginkan, siapa mereka sebenarnya. Satu cerita lagi dari tanah Nusa Tenggara, seorang penduduk ditanya apa impian dan harapannya.

Kita di kota barangkali terbiasa memimpikan sekolah di luar negeri, kerja di perusahaan mentereng, punya cuan tak berseri, mobil mengkilap dengan plat nomor yang bikin dahi mengernyit, atau punya usaha dengan cabang di sana-sini. Si bapak dari Nusa Tenggara itu tidak.

“Saya ingin sawah ini tetap ada dan anak saya bisa melanjutkan bertani,”

Bapak tadi tiada berbicara pertumbuhan ekonomi di atas 6%, rasio gini yang membaik, rumah yang lebih baik, atau cuan untuk beli kendaraan. Bapak tadi cuma ingin sawahnya tetap ada untuk diwariskan ke anaknya.

Ini membuka mata bahwasanya Indonesia tak berpusat di Jawa saja. Dunia tak berputar mengorbit Jakarta. Jangan sih. Saya sedikit paham karena bertahun-tahun lalu mendengar banyak orang kasihan pada orang Karimunjawa yang cuma menikmati listrik sejak pukul 6 sore hingga 6 pagi. Gusti, sedari kecil saya menghabiskan liburan keluarga di Karimunjawa, topik listrik 12 jam itu tak pernah sekalipun terdengar di telinga.

Orang kota memang nggumunan. Padahal sebetulnya banyak juga orang Tokyo atau London nggumun bagaimana orang Jakarta kok betah sama kota yang angkutan massalnya nggak oke sama sekali. Kok ya betah naik Kopaja? Barangkali penduduk dunia pertama pun nggumun kok kita nggak modar karena makannya muluk pakai tangan? Duhdek.

Kunci dari gembok itu sederhana: memahami. Dengan lebih dekat pada budaya dan sejarah destinasi yang disambangi, wisatawan bisa tahu dan membuka pikirannya.

Ada membagi, ada pula memberi

Seperti sebelumnya, kelas ini dibuat dua arah. Giliran Kak Fitri bertanya pada peserta. Maka tiap-tiap orang menjelaskan satuan kerja dan tugasnya.

Bang David memberi pengertian mengenai sedikit arah kebijakan pengembangan pariwisata, yang mana promosi sangat ditekankan. Promosi dulu, menarik kunjungan dulu untuk dapat pemasukan, lalu perlahan destinasinya dikembangkan. Ya amenitasnya, kemudahan aksesnya, juga atraksinya.

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS :)

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS 🙂

Kemudian dilanjutkan pula penjelasan dari satuan kerja pemasaran luar negeri, komunikasi publik, hubungan kelembagaan kepariwisataan, dan pengembangan destinasi. Tentu yang kami jelaskan tidak bisa mendalam. Sebagai pegawai baru, ada hal lain yang baru akan kami ketahui bertahun-tahun kemudian.

Tidak mengapa. Setidaknya dari kelas ini kami bisa saling memahami. Dari sisi pemerintah mendapatkan pandangan dari sudut pelaku usaha dan vice versa. Salah satunya, pemahaman bahwa destinasi dimiliki oleh pemda karena adanya otonomi daerah. Pemerintah pusat tidak bisa mengatur seenaknya karena garis komandonya horizontal, bukan vertikal.

Tidak selesai sampai di sini

Ini adalah kelas ketiga usai public speaking sebagai yang perdana dan dilanjutkan tourism beyond sightseeing. Kelas selanjutnya bisa saja bertema hubungan masyarakat, keuangan, maupun topik penelitian. Ada banyak kemungkinan, tapi muaranya satu: sumber daya PNS yang kian baik dan berwawasan. Semoga dilancarkan.

Encourage Club, Langkah Kecil Kami

Rasa-rasanya PNS dan kebobrokan itu sudah berkawan karib sejak lama. Dan kami menolak perkawanan karib itu berlanjut. Sepenuhnya percaya bahwa masih banyak PNS yang cerdas, mau berkembang, tidak bekerja gitu-gitu aja, dan benar-benar punya niat memberi lebih bagi bangsa.

Bermula dari obrolan keresahan di kafe, berteman sepiring makan siang dan segelas jus buah, tercetuslah pikiran untuk melakukan sesuatu yang akan bermanfaat bagi PNS. Untuk terus berkembang tidak bisa kami hanya melulu bercumbu dengan rutinitas. Kami harus belajar. Dari manapun, dari siapapun. Jadi, kenapa tidak membuat sebuah wadah yang memfasilitasi itu?

Instansi kami bukannya tidak memberi kesempatan untuk belajar. Sebelumnya sudah pernah diadakan kelas public speaking, pemasaran, dan pariwisata berkelanjutan. Yang jadi persoalan, kelas tersebut tidak bisa diakses bebas. Tidak semua yang mengikuti punya antusiasme besar, sebaliknya yang punya antusiasme besar bisa mengikuti.

Berenam, kami merancang sebuah wadah untuk itu. Untuk kami belajar, untuk bertukar pikiran, untuk barter ilmu, untuk berjejaring. Tercetus sejak Agustus, tapi wujud nyatanya baru ada saat Januari sudah hampir berlalu.

Kelas perdana kami putuskan untuk belajar public speaking. Sederhana saja alasannya, kemampuan bicara di depan massa penting. Sebagus apapun ide di kepala tidak akan jadi berguna jika mulut dan segenap tubuh tak mampu menjadi penyampai. Baik untuk presentasi, pembukaan, atau berjualan. Gagal membuat pendengar menangkap maksud kita tak lebih baik daripada memendam maksud itu.

Langkah kami dimulai dari yang kecil. Tentu sulit mengundang orang sekelas Panji Pragiwaksono atau Tjokroaminoto. Nama terakhir sulit diakses, nama kedua sudah lama masuk pekuburan. Tapi kami berhasil membujuk Kak Putri Lestari. Keberhasilannya membuat ide besar SabangMerauke tersampaikan ke juri IdeaFest bukanlah satu hal yang bisa diremehkan. Dan terbukti di kelas perdana.

Kak Putri mengajarkan cara bicara di depan publik dengan santai. Tanpa jarak, tanpa niat menggurui. Suasana santai dan asyik. Satu per satu peserta yang hadir maju untuk praktek. Ide-ide di kepala harus ditumpahkan oleh mulut. Tangan juga segenap tubuh harus bergerak meyakinkan. Itu kelas yang menyenangkan.

Ah iya, ada 14 orang yang hadir di kelas perdana itu. Semuanya PNS. Tidak insan pariwisata saja, ada pula insan kesehatan yang datang. Kelas ini memang selalu dipromosikan ke para PNS. Yang terdekat tentu rekan-rekan insan pariwisata, tapi insan bidang lain pun kami ajak. Bahkan mereka yang bekerja di luar pemerintahan pun dipersilakan, namun dengan pembatasan. Bukan karena pelit, namun agar sesuai koridor awal yaitu sebagai wadah belajar PNS.

Praktek :D

Praktek 😀

Langkah pertama :)

Langkah pertama 🙂

Kehadiran insan bidang lain dan yang di luar pemerintahan justru disukai. Dengan begitu teman bertambah dan jejaring semakin luas. Syukur pula jika ada yang berjodoh …

Sudah 400 lebih kata tersusun tapi nama wadah ini malah belum disebut. Baiklah jika pembaca memaksa. Kami menyebutnya Encourage Club. Agar keren, sedikit filosofi akan dituangkan di sini.

Disebut encourage karena wadah ini diharapkan bisa mendorong PNS untuk mau dan mampu mengembangkan diri. Jika kapasitas dan kapabilitas PNS meningkat, keluarannya tak lain tak bukan bangsa yang semakin maju. Saya pribadi menyukai pemikiran dan perkataan Ahok, bahwa masih banyak PNS yang bagus.

Disebut club karena kami berenam tak ingin wadah ini eksklusif milik kami. Dengan menjadikan ini klub, kami ingin lebih banyak orang terlibat. Keterlibatan menghasilkan rasa kepemilikan. Rasa kepemilikan menimbulkan kasih sayang. Kasih sayang berujung di pelaminan. Pelaminan jadi titik mula untuk saling menjaga dan merawat. Dan apa apa yang terawat usianya lama.

Maka ketika kelas kedua berjalan pertengahan Maret ini, ada rasa senang. Senang karena tidak terhenti di kelas perdana. Senang karena mereka yang di luar pemerintahan berkenan hadir. Lebih senang lagi karena rekan-rekan PNS mau datang lagi dan memberi masukan.

Teh Annisa Potter bersedia menjadi pembicara di kelas yang bertajuk “Tourism Beyond Sightseeing”. Si teteh mengisahkan perjalanannya ke 21 negara dalam lima tahun. Perjalanan yang tak melulu mengagumi pemandangan. Lebih dari itu, Teh Potter memberi gambaran mengapa kota ini ramai turis, bagaimana danau kota itu dirawat, juga bagaimana sebuah bekas tempat pembantaian diubah jadi lokasi wisata sejarah.

Di senja acara, ganti Teh Potter yang bertanya beberapa hal tentang kantor kami. Tentu saja menyenangkan bisa memberi gambaran kondisi pariwisata Indonesia saat ini, sesuai pengetahuan kami yang terbatas. Ada terselip beberapa ide cara berpromosi Wonderful/Pesona Indonesia yang semakin baik. Ini menggembirakan.

Men-cerah-kan

Men-cerah-kan

Semakin menggembirakan karena ada masukan mengenai siapa yang selanjutnya layak diundang sebagai pembicara. Bahkan ada pula masukan dalam hal pendanaan. Segala jenis masukan dibutuhkan untuk – seperti yang sudah dibilang di atas – merawat bersama klub ini.

Kelas ketiga, keempat, dan seterusnya harus ada. Dan semoga lebih banyak orang yang datang. Semakin banyak masukan dan usulan. Terus bertambah orang yang bersedia hadir membagi ilmu. Klub ini, kami para PNS, hukumnya fardhu ain untuk terus dapat nutrisi.

Jakarta, 24 Maret 2016

Devina Aureel, Sinergi Prima Kang Mbecak dan Atlet Karambol

gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

Pakem yang berkembang di masyarakat, dari Mesopotamia sampai pusat Surabaya, gadis ayu itu sudah sepatutnya punya tingkah polah anggun, manis, kalem, dan tidak glegek’en (jenis suara saat mengeluarkan gas dari mulut) sembarangan. Gadis ayu harus terjaga bicaranya, kentutnya, dan rapi gambar alisnya. Sayang pakem tadi tidak berlaku di hadapan Devina Aureel.

Devina, terindikasi berasal dari Malang, dengan ayu menyobek-nyobek pakem yang sudah disepakati oleh entah berapa generasi. Semalam, saya tidak habis pikir bagaimana seorang yang begitu manis bisa punya tingkah yang sangat cacat. Cacat di sini adalah sebuah ameliorasi.

Peduli iblis dengan angle depan kamera, Devina selalu pasang muka suka-suka. Ada bintik-bintik di muka? Keren gila macem Fernando Torres. Begitu pikir Devina. Kayanya sih. Bibir monyong, lambe ndomble juga suka-suka dipamerin sama gadis itu. Oh ya, jangan lupakan lubang hidung.

Malam itu pukul 00.69 dini hari. Versi sopannya, 01.09. Dan Devina kampret masih saja bikin saya dan seorang kawan cekikikan di kamar. Ya tentu lewat video di Instagram, masa iya ngarep dia standup comedy di dalam kamar yang isinya dua lelaki lajang. Nanti jadinya smackdown kak.

Melihat Devina, saya jadi teringat karambol lama di rumah dan tukang becak langganan kawan semasa SD dulu. Sama seperti Mba Dev, karambol dan kang mbecak juga pelanggar pakem. Kapan lagi bisa bernostalgia dengan karambol dan kang mbecak dalam syahdunya pergantian hari?

Tentang karambol ini sudah pernah dibahas oleh Mojok. Karambol dengan sangat elegan melabrak pakem kebanyakan olahraga: tiada licin di antara kita. Karpet lapangan bulutangkis kena keringat, tolong dipel bro biar ndak bikin kepleset. Rumput lapangan sepak bola basah selepas hujan, mari kita keringkan dulu kakak.

Lihatlah karambol. Tepung kanji jadi kunci permainan ini. Tiada tepung kanji, koin karambol tidak akan berjalan mulus. Licin adalah teman kata Tsubasa. Sama seperti pedekate. Tanpa kencan dan perhatian ia akan seret. Sayang seratus sayang, perkara asmara belum masuk kategori olahraga.

Kang mbecak juga sama saja. Lihat dan amati. Posisi pengemudi kendaraan jasa ada di mana? Kalau ndak  sejajar ya di depan. Naik taksi, supirnya kalau ndak di depan ya di samping penumpang. Naik kereta, ya jelas masinis di depan. Pun begitu halnya dengan pesawat, delman, dan jinrikisha, becak tradisional Jepang.

Becak Indonesia sungguh ngawur. Kang mbecaknya di belakang, penumpang di depan. Rasanya seperti para penumpang disodorkan ke jalanan. Enak ndak enak sih. Kalau ada apa-apa, misal ketabrak ayam dari depan, penumpang kena duluan. Tapi ya enak juga, bisa lihat pemandangan dengan utuh. Ndak pakai filter model apapun.

Maka jangan heran kalau di kemudian waktu muncul pepatah bijak dan lirik lagu,

“You are the karambol of my eye” atau “You’re my kang mbecak, you’re reality”

Oke yang barusan maksa.

Tengah malam itu, saya terkagum dengan Devina yang fasih menggambar alisnya menjadi dua bukit. Plus matahari di antara keduanya. Begitu pula ketika Devina yang anggun mengkover lagu secara bilingual, Enggres lan Jawa.

“I’m only human. And I bleed when I fall down”

“Aku mek menungsa. Aku berdarah nek tiba”

Menakjubkan. Christina Perri dan Nurhana perlu diduetkan lewat kreativitas Devina. Dengan Manthous sebagai produsernya, pasti akan jadi lagu yang disukai di Suriname.

Hal lain yang perlu dikagumi dari Devina adalah kefasihannya dalam misuh. Kata asyu begitu pas makhrajil huruf dan tajwidnya. Panjangnya dua harakat, tak lebih dan tak kurang. Sungguh pas, enak di telinga.

Medoknya pun gurih, mengutip Indro Warkop. Sekali lagi soal pakem. Lazimnya gadis ayu bakal melorot tingkat keayuannya seketika dia ngomong medok. Tapi apa daya itu semua ditepis Devina. Medoknya Devina aduhai dan semlohai. Sangat renyah dan elegan. Bahkan ia pun bangga dan mengaku gilo kalau ngomong lo-gue. Wahai saudara sejawat, sesuku, selidah medok, Lestarikan kebanggaan terhadap medok.

Saya sudah saja celotehan ndak jelas ini. Pengen sih makin ngalor-ngidul lagi, tapi sayang eek-ku sudah di ujung.

Susah memang kalau sudah di ujung

Susah memang kalau sudah di ujung