Kemarin-kemarin saya menonton di Youtube video Sandhy Sondoro saat menyanyi di acara New Wave tahun 2009. Alamaaaaaaaaaaaak….. itu suara terhebat dari ras Melayu yang pernah saya dengar. Tapi yang hendak saya bahas kali ini bukan itu, melainkan komentar-komentar mengenai si Sondoro. Di forum komentar tersebut, banyak yang bilang seperti ini, “Wah hebat, dia dari Indonesia loh. Bangga jadi warga Indonesia neh. J”. Kemudian suasana adem jadi cukup memanas setelah ada seseorang yang berkomentar bahwa dia cukup jengah dengan manusia-manusia macam tadi. Dia mengaku kurang suka karena kebanyakan dari mereka cuma besar di mulut, tetapi pada kenyataannya tindakan mereka yang mencerminkan kebanggan sebagai warga Indonesia itu nol. Ya contoh kasusnya adalah sok-sokan marah saat ada negara tetangga mengklaim batik, padahal dia sendiri suka menertawakan kawannya ketika kawannya itu pakai batik. Macam Pak Lurahlah, gurulah, mau kondanganlah, dan lain-lain.

Saya sendiri setuju pendapat orang tadi, karena saya pun cukup jengah melihat orang-orang bermental macam itu. Paling sering saya lihat adalah ketika satu sekolahan memajang profil muridnya yang berprestasi saat masa penerimaan murid baru guna menggaet calon-calon murid. Misalnya, si G yang juara tenis tingkat nasional dipajang dengan mewahnya di baliho iklan sekolah. Padahal sekolah tersebut tak punya andil apapun soal prestasi si G, ya tahu sendiri kan kerja guru olahraga itu seperti apa? Tak jauh beda dengan tukang parkirlah.

Saya tak mau jadi manusia bermental macam itu. Oleh sebab itu saat ada pagelaran seni dan budaya (atau apa saja yang asli Indonesia), saya selalu berusaha menonton dan menikmati agar saya punya rasa memiliki. Misal saja kemarin saya menonton pagelaran tari Bali, wayang dan juga ludruk di ITB ( ehm…. ITB nih ye). Saya sendiri pun suka memakai batik ke kampus, lama sebelum di ada anjuran itu di kampus. Intinya, jangan jadi orang yang cuma besar di mulut. Tak usah sok menyuarakan peduli lingkungan kalau anda suka buang sampah sembarangan atau dengan santainya mencemari paru-paru bumi dengan alasan efisiensi waktu. Jangan pula suka misalnya menjelek-jelekkan prestasi  olahraga Indonesia, lha wong padahal anda sendiri tidak peduli pada olahraga itu. Atau sebaliknya, membanggakan suatu prestasi putra Indonesia dan mengaku bangga jadi warga Indonesia padahal kontribusi anda terhadap itu nol.

Masalah pribadi saya saat ini adalah belum juga terjualnya selembar pun tiket konser angklung yang saya tawarkan karena sepertinya sangat susah mencari manusia di kampus saya yang berminat dengan apa yang saya tawarkan. Dan jika di kemudian hari ada masalah lagi soal pengakuan angklung sebagai milik negara X, lalu ada kawan yang ikut-ikutan marah kepada negara X, maka mungkin saya akan punya hasrat menyumpal mulut besarnya dengan segepok kertas, ha-ha-ha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s