Raden Ajeng Kartini. Sesosok dara ini tentu sudah kita semua kenal kan? Jika tidak maka ke-Jepara-an kamu patut dipertanyakan. Lahir dan menapak kedewasaan di kota ukir, Raden Ajeng Kartini termahsyur sebagai pahlawan nasional berkat pemikiran radikalnya ketika itu bahwa kaum perempuan berhak sederajat-semartabat dengan kaum lelaki. Semasa itu adalah jaman feodalisme Jawa, ketika perempuan hanya bertugas 3M (macak, masak, manak). Perempuan dari kalangan pembesar Jawa nasibnya cukup baik karena dalam perkawinan statusnya sah, sehingga hak-haknya terjamin oleh hukum. Beda halnya dengan perempuan dari kalangan biasa. Mereka hanya dijadikan nyai alias gundik alias selir. Tugas mereka seringkali tak lebih dari sebagai budak pelayan bagi bendoronya alias suaminya sendiri. Sebagai bendoro, sang suami bebas memperlakukan gundiknya sesuka jiwa raganya. Gundik alias nyai tak memiliki hak apapun, bahkan untuk darah dagingnya sendiri! Bisa dibayangkan betapa rendah nilai perempuan di masa itu.

Raden Ajeng Kartini yang merasai pendidikan bangku sekolahan, meski hanya di E.L.S. (setingkat SD) menyadari hal tersebut berkat pergaulannya dengan kawan-kawan Eropanya. Sekitaran abad itu adalah masa kejayaan ilmu pengetahuan Eropa. Para pemikir Eropa menyebarkan revolusi di berbagai bidang laiknya virus, ke seluruh dunia, Hindia tanpa terkecuali. Dan lahirlah sang fenomena. Raden Ajeng Kartini mengumukan tulisannya di sebuah media Belanda pada usia remaja, 17 tahun. Beliau membikin kagum banyak Pribumi sebaya juga seniornya. Bagaimana bisa seorang Pribumi, dara pula dengan usia sehijau itu, berani menentang adat Jawa mengumumkan pikiran Eropa-Pribuminya, menginspirasi entah berapa ribu individu di bagian bumi Hindia lainnya untuk berani berpikir dan berpendapat secara bebas?

Jauh ratusan tahun setelah kematian terkenangnya, para warga Indonesia (dan mungkin dunia) pun mengenal kepahlawanannya, namanya, dan kota kelahirannya: Jepara. Mengusik benak penulis adalah ketiadaan lagi tokoh dari Jepara yang mahsyur di tingkat nasional atau bahkan dunia. Dan melalui perbandingan dengan kota-kota lain penulis dapati hal semacam ini:

“Sudah pada wadahnya ada pertukaran pemikiran di antara kaum terpelajar.” (dikutip dari tokoh Miriam de La Croix di novel Bumi Manusia hasil karya Pramoedya Ananta Toer). Sering sekali penulis dapati para remaja di beberapa kota yang penulis observasi saling terjadi pertukaran pemikiran du antara mereka. Terlihat secara baplang tak ada resistensi terhadap pembicaraan yang ‘berat’. Ketika dua orang sedang berdiskusi suatu hal yang ‘berat’, tak serta-merta kawan di sekelilingnya (yang jumlahnya lebih banyak) memotong mengajak beralih ke hal-hal ‘ringan’, tetapi justru terlibat dalam diskusi tersebut, berakibat pada bertambah serunya pertukaran pemikiran. Topik yang dibahas pun bermacam-macam: ekonomi, budaya, pendidikan, agama, dan bahkan politik (topik yang paling dianggap tidak penting di mata anak muda berdasar pengamatan di situs jejaring sosial Facebook). Hal tersebut menyebabkan pudarnya kesenjangan pemikiran antara individu usia mahasiswa dengan usia SMA, atau bahkan SMP. Dari pemuda-pemudi tersebut banyak lahir generasi berprestasi di banyak bidang: sastra, olahraga, pendidikan, dan teknologi. Tidakkah kita sadari bahwa hal itu nyaris tak ditemukan di Jepara? Opini ini penulis munculkan karena seringnya penulis dapati kata temuo (sok bijak, sok dewasa) oleh pemuda-pemudi Jepara setiap kali terjadi perbincangan yang ‘berat’.

Memang kita pernah punya Den-ajeng Tini, sang inspirator. Tetapi itu terjadi lebih dari seabad lalu, beberapa puluh tahun sebelum masa Kebangkitan Nasional (tahun 1908) dimana banyak cendekia, pemikir, dan penggerak bangsa muncul melawan feodalisme dan imperialism. Jika hendak menyalahkan posisi Jepara sebagai kota kecil yang relatif sepi, maka patut ditengok dahulu bahwa itu bukanlah satu halangan. Rembang melahirkan Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya pujangga Indonesia yang pernah dinominasikan sebagai peraih nobel di bidang ; atau Pacitan sebagai tempat lahir dan dewasanya Susilo Bambang Yudhoyono, yang jika kamu tak mengenalnya maka patut dicap durhaka kepada bangsa dan negara Indonesia. Jika usia muda dijadikan dalih, maka sejarah Den-ajeng Tini patut dijadikan tameng karena tulisan pertama beliau yang dibaca publik terkarya ketika usia baru menapak angka 17, sebaya dengan anak-anak SMA jaman sekarang bukan? Tengok lagi, itu tulisan pertama beliau yang dipublikasikan, bagaimana dengan tulisan awalnya? Pada usia sepagi apa beliau pertama kali menintakan pemikirannya? Di masa terkekang, pikiran dan raga, seperti itu pula? Subhanallah…. Memang masa muda adalah masa paling menyenangkan, itu tak terbantahkan, tapi ada patutnya diimbangi dengan apa yang penulis bahas di atas.

Dasar utama penulisan artikel ini adalah perkataan Herbert de La Croix, satu lagi tokoh di novel Bumi Manusia hasil pemikiran Pramoedya Ananta Toer:

“Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Semua pribadi dan bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.”

Jadi, pemuda-pemudi Jepara, mari berpikir, saling menukarkannya kepada yang lain, menuliskannya, dan bergerak untuk membuat pemikiran tersebut jadi nyata. Pemuda-pemudi lain bisa, Jepara pun bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s