Senja di langit semakin terlihat berkuasa di atas sana. Ia jingga, dihiasi gumpalan awan yang acak bentuknya. Satu kali awan itu bisa berbentuk kuda, kemudian awan di sisi utaranya bisa saja serupa macan, larilah awan kuda itu terbirit-birit dibantu angin, sekonyong-konyong muncul awan mirip rupa naga. Kedua awan itu bertubrukan, bersatu menjadi segumpal besar awan berbentuk…. Entahlah apa sebaiknya aku menyebutnya, bentuknya terlalu ngawur dan acak-acakan, tak terjangkau imajinasiku. Itulah indahnya karya seni Tuhan. Bentuknya ngawur dan sering tak terjangkau ilmu-ilmu bikinan manusia, sehingga bisa bebas diartikan sesuai imajinasi. Aku dan dia sama-sama mengidolakan kerajaan langit beserta seluruh rakyatnya, menobatkannya sebagai karya Tuhan nomer satu di dunia. Pun karena kesamaan itu, saat kencan kami lebih sering memandang langit daripada mata pasangan sendiri, kecuali saat langit sedang kelabu tentu saja. Aku dan dia sering sekali berdebat mengenai rupa awan yang kami pandangi. Yang baginya serupa kepala anjing adalah serupa belahan dada perempuan buatku.

“Dasar mesum!” hardiknya. Ia cemburu pikirku.
Hanya debat kecil seperti itu selalu bisa kuselesaikan.
“Sudahlah, toh kita berdua kan sama-sama suka pada langit. Kau mau aku jadi pecinta laut?” Dia sangat benci laut, semata-mata karena dia tak bisa berenang dan tak tahan terombang-ambing oleh ombak laut saat naik kapal. Ini adalah rangkaian kalimat paling amuh guna meredakan ngambeknya.

Senja yang jingga kini mulai tercampur oleh biru tua-nya malam. Sudah satu jam lebih aku menunggu di sini. Di Jalan Braga, tempat dimana aku yang pengecut ini dan dia pertama kali berkencan.

Nama dia Mawar. Sosoknya yang ayu sudah kuselidiki sejak usiaku masih sangat hijau, 13 tahun. Paras ayunya itu pertama kali tertangkap oleh mataku saat ada karnaval 17-an. Padahal usianya masih 10 tahun tetapi aku sudah bisa melihat potensi kecantikannya. Analisisku ini karena pengaruh telenovela yang sering kutonton bersama ibuku. Selepas karnaval itu paras ayunya lenyap begitu saja laiknya uap, tapi setidaknya aku sudah mengambil beberapa potretnya, yang sayangnya saat dicetak hanya satu yang hasilnya tak cacat. Jadilah satu potret itu satu-satunya barang yang jadi pelampiasan kangenku.

Pikirku Tuhan memang suka berencana unik, agak tak sopan kalau kubilang aneh. Saat aku memasuki tahun terakhirku di SMA Mawar muncul lagi, membawa semerbak ayu parasnya itu yang sudah ratusan purnama menghilang dan cuma bisa kupandangi lewat potretnya. Semerbak paras ayunya semakin wangi, kuibaratkan dulu ia kepompong yang cantik dan kini ia sudah mekar sempurna menjadi kupu-kupu dengan topeng bidadari kahyangan.

Terbiasa memandangi potretnya kurasa berpengaruh cukup buruk pada nyaliku. Selama berbulan-bulan aku cuma mengamati dan menikmati keayuannya dengan radius beberapa puluh meter. Ketika sosoknya menjadi semakin dekat, radarku mulai bekerja. Tubuhku merinding, jantungku berdetak dengan frekuensi yang lebih dari normal, kata seorang kawan mukaku suka jadi putih-kebiruan pula, dan tak pula ketinggalan lidahku dikunci oleh suatu kekuatan gaib yang tak mampu dijelaskan oleh ilmu fisika.

Baru saat dua bulan menjelang pertandingan akbar buat para murid kelas 3 SMA, berkat suatu kejadian yang pikirku disutradarai dan diproduseri oleh Tuhan, aku dan dia saling kenal dan semakin dekat setelahnya. Topik yang membuat aku dan dia saling merasa cocok adalah seperti yang kusebut tadi, kerajaan langit dan seluruh rakyatnya. Aku suka mengajaknya pergi ke sebuah bukit, bercapek-capek mendaki cuma untuk lebih dekat dengan pemandangan langit. Di sana aku dan dia merebahkan diri di tanah, memandang lukisan langit dan mendiskusikannya, dibumbui beberapa candaan dan cubitan di pipi masing-masing.

Saat aku harus pergi meninggalkan kotaku demi ilmu-ilmu baru yang akan kutambang di sebuah perguruan tinggi, aku dan dia berjanji untuk tetap menjaga silaturahmi dengan media kartu pos dan surat. Kuno memang, tapi aku dan dia setuju bahwa perasaan gembira saat menerima kartu pos atau surat tak bisa digantikan oleh sms, mms, e-mail, mention, ataupun BBM. Aku dan dia saat SD dulu memang sama-sama suka melakukan persahabatan pena.

Sampai saat ini, saat senja jingga mulai luntur berganti biru tua-nya malam, aku sengaja menyimpan kalimat sakral “Aku cinta kamu” atau yang sejenisnya. Aku punya alasan sendiri :

Aku tak ingin kalimat itu membelenggunya. Ia bukan robotku yang bisa kuatur seenak udelnya dengan remote controlku. Aku ingin ia bebas seperti burung, menjelajah langit sepuas hati dan beristirahat di ranting pohon kapan saja ia merasa capek. Aku punya keyakinan kuat kalau ia memang anugerah terindah buatku pasti suatu saat nanti ia akan kembali padaku dan secara ikhlas penuh rasa sukarela mau ‘kupelihara’ sampai salah satu antara aku dan dia dijemput Izrail.

Besok aku mau melanjutkan petualangan hidupku di Kalimantan, ke sebuah kota kecil yang beranjak besar bernama Sangatta. Untuk alasan itu aku mengiriminya sebuah kartu pos dengan pesan singkat :

“Kutunggu di tempat paling terkenang untuk kita. Selepas ashar”

Ambigu memang, dan itu kusengaja karena jika ia sepemikiran denganku perihal lokasi tempat itu maka kuartikan seenaknya tanpa minta pendapat Tuhan lebih dulu bahwa aku dan dia berjodoh. Dan jika ia datang akan kukatakan padanya,

“Bersediakah kamu menjadikanku imammu? Menemanimu sampai Izrail menjemput salah satu dari kita?”

Aku akan terus menunggunya di sini, di Jalan Braga tempat pertama kali aku dan dia berkencan, sampai langit subuh biru-jingga terlukis di langit.

********************

Sore hari saat senja sedang cantik-cantiknya di langit sana, seseorang berpakaian jingga menghampiri rumahku. Bukan tahanan penjara Amerika, bukan… bukan pula pemain timnas Belanda. Ia adalah Pak Damiri, tukang pos langgananku. Kusebut langganan karena dua bulan sekali dia mengantarkan kartu pos atau juga surat. Pengirimnya pun selalu ‘dia’.

Aku mengenal dia beberapa bulan menjelang kakak-kakak kelasku menghadapi ujian akhir nasional, tetapi sejatinya aku sudah menyadari sosoknya semenjak minggu-minggu pertama dunia SMA-ku. Kami para perempuan tentu saja bisa dengan cepat menyadari bahwa kami diperhatikan, terutama sekali dia yang punya catatan ditaksir, disukai, atau ditembak lelaki yang meyakinkan. Pastilah inderanya tajam.

Aku tahu dia selalu mengintipku di balik tembok saat aku makan di kantin, berolahraga di lapangan sekolah, atau saat aku dengan khusyuk mengikuti jalannya kegiatan belajar di kelas. Dari sudut mataku, bisa kulihat sekilas ia sering senyum sendiri saat memandangiku dari jauh. Kudengar ia sangat pemalu, jadi sering aku mengerjai dia dengan cara ini :

1) Kubalas menatapnya sehingga dia akan sembunyi di balik tembok.
2) Sesegera mungkin aku berjalan mendekatinya, tepat dari arah yang berseberangan darinya
3) Ia pun langsung tampak kikuk, mukanya agak pucat.
4) Dan yang paling jahil, ia pernah satu kali ngompol di celana saat aku sengaja berhenti untuk menyapanya.

Namun meski sikapku seperti itu, aku punya penilaian positif untuknya. Sementara laki-laki lain yang menyukaiku selalu pamer, entah fisik maupun hartanya, ia justru sering terlihat bertingkah aneh dan bodoh, tanpa merasa bahwa itu adalah hal yang memalukan. Saat laki-laki lain berpuisi dan bermanis kata di hadapanku ia justru gugup dan malu-malu saat bertemu denganku. Pun kegemarannya unik. Ia penggemar sejarah dan museum, padahal laki-laki seusianya lebih gemar dengan urusan musik, otomotif, atau game.
Satu hari aku berniat menguji nyalinya. Waktu itu sore hari yang cerah, tanpa mendung, tanpa jingganya senja. Aku bersepeda di trotoar Jalan Asia-Afrika, berdasar informasi bahwa sore itu ia sedang sendirian menikmati isi Museum Konferensi Asia-Afrika, dengan rencana seperti ini :

1) Saat ia ada di depan pintu museum aku akan menyapanya
2) Karena pandanganku tidak tertuju ke depan maka aku akan berpura-pura jatuh
3) Ia akan datang menolongku
4) Kita lihat apakah ia punya nyali untuk berkenalan denganku

Rencanaku sore itu sukses, terima kasih kepada Tuhan yang sudah meng-acc doaku.
“Perkenalkan, namaku Sora… Lembu Sora.” Itulah untuk pertama kali aku tahu namanya langsung dari mulutnya. Pikirku orang tuanya salah memberi nama karena lembu tak lain tak bukan bersinonim dengan sapi, tapi setelah ia menjelaskan dengan rinci aku jadi paham. Itu adalah nama salah seorang tokoh Kerajaan Majapahit. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bapak dan anak minatnya sama rupanya.

Segera saja aku dan dia menjadi akrab berkat kesamaan minat pada langit. Hal yang paling kusuka adalah ia selalu mengalah saat aku dan dia berdebat soal imajinasi kami pada bentuk awan. Ia pernah membawaku ke sebuah bukit yang teduh, dengan hamparan padang rumput yang luas dan seempuk karpet rumah, untuk menikmati langit. Berjam-jam kami hanya berbaring di rumput, menunjuk awan ini, awan itu, burung ini, burung itu, cubit-cubitan. Belum pernah aku merasa sedamai itu sebelumnya, kecuali saat orang tuaku memelukku di tidur-tidur malamku. Aku mencintai laki-laki aneh, kikuk, dan konyol itu.

Ia kemudian pergi ke Bandung, menempuh bangku kuliah di sana. Dan sebuah skenario Tuhan yang menyenangkan terlaksana, tiga tahun kemudian ayahku dipindahtugaskan ke Bandung.

Aku membalik kartu pos darinya, kuharap ada sebuah kalimat pernyataan cintanya padaku. Aku tahu dia mencintaiku, tapi beberapa perempuan selalu membutuhkan pernyataan verbal agar benar-benar yakin pada seorang laki-laki, dan aku salah satunya. Tak ada rangkaian kalimat yang sempat kuharapkan, hanya kalimat yang agak kurang jelas maksudnya.

****************************

Di sini, di Jalan Asia-Afrika, di depan Museum Konferensi Asia-Afrika, tempat pertama kali aku dan dia berkenalan secara resmi, pertama kali kudengar nama Lembu Sora langsung dari si pemilik nama, langit semakin dikuasai warna hitam, senja yang jingga sudah sepenuhnya luntur disapu oleh waktu. Aku masih menunggu lelaki itu. Aku yakin ia terlambat karena suatu hal yang akan bisa kumaklumi. Aku yakin karena sejengkal, sedetikpun ia tak pernah bohong padaku. Aku akan dengan konsisten menunggunya di sini sampai nanti subuh biru-jingga nampak di langit, si laki-laki kikuk dan pemalu itu, Lembu Sora, laki-lakiku.

***************************

Telepon genggamku berdering, kuangkat segera.

“Sora, pesawatnya ga jadi berangkat besok siang, terjebak demonstrasi di bandara Soekarno-Hatta. Sebagai ganti para penumpang tujuan Sangatta diminta naik pesawat perintis, malam ini juga jam 10.” di ujung telepon sana seorang temanku pegawai maskpai penerbangan menyampaikan sebuah kabar.

Kutengok arloji, jarum kecil di angka 2, dan jarum besar di angka 8. Kupanggil taksi, bergegas aku menuju rumah kost, dan bandara Husein Sastranegara. Duduk di bangku belakang taksi, kuambil selembar kartu pos dan kutulis :

“Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT Yang Maha Pemberi… Berikanlah Mawar jodoh terbaik di bumi ini. Salam hangat dari Sangatta.”

6 responses »

  1. Ichiya says:

    saya suka sekali…. cerpennya bagus…

  2. halo, mas/bro saya nemu blognya saat saya searching google dengan keyword kartu pos. Suka postcrossing kah?

  3. Mimeo says:

    sangat berbeda dalam mengungkapkan perasaan kepada seseorang
    lembut,kasih sayang, saling menghormati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s