Sore itu tanpa sengaja saya bertemu salah seorang pesepakbola Jepang yang bermain di Indonesia di sebuah pusat perbelanjaan. Tak disangka ia sangat ramah dan mau saya ajak ngobrol. Di akhir percakapan saat saya meminta ijin untuk menuliskan percakapan kami di blog saya, ia tak keberatan asalkan namanya tak disebut. Alasannya? Ia tak ingin ada yang salah paham dengannya berhubung ia baru beberapa bulan di Indonesia.

Saya mengajaknya ngobrol sedikit mengenai Jepang secara umum, karena saya bercita-cita untuk pergi ke Jepang suatu saat nanti. Topik pertama yang saya ajukan adalah apa perbedaan signifikan antara kehidupan di Jepang dengan Indonesia. Jawabannya tidaklah mengejutkan. Ia bilang di Indonesia lebih semrawut daripada Jepang, dan biaya hidupnya jauh lebih murah. Seperti ia misalkan saat makan di restoran Bandung, makanan paling murah adalah seharga Rp. 50,000-an, padahal di Jepang dengan uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli bento (bekal makan yang biasanya dibeli anak sekolahan, sesuai uang saku mereka).

Kami tak mau panjang lebar membicarakan masalah perekonomian sehingga topiknya segera kami ganti. Karena ia adalah seorang olahragawan dan saya juga gemar berolahraga, maka seperti sudah dialurkan bahwa kami akan membicarakan topik itu. Ia bilang ia cukup terkejut dengan antusiasme masyarakat Indonesia, khususnya Bandung, terhadap sepakbola. Ia terkejut karena nama Indonesia di kancah sepakbola internasional jarang sekali terdengar tetapi masyarakatnya begitu antusia pada olahraga itu. Biasanya yang menjadi olahraga terpopuler di suatu negara adalah olahraga yang juga paling berprestasi di negara itu. Ia mencontohkan fanatisme rakyat Australia pada kriket dan prestasi hebat mereka yang bersaing ketat dengan Inggris, negara yang pertama kali membawa olahraga tersebut ke Australia.

Kalau begitu apa olahraga terpopuler di Jepang? Baseball! Jawabnya penuh keyakinan. Hampir semua orang Jepang menggemari baseball, hampir semua orang Jepang bermain baseball semasa kecilnya, bahkan saya juga. Waktu kecil pun saya bermain baseball bersama teman-teman saya. Setiap ada turnamen Koshien, lingkungan sekitar saya, terutama remaja-remaja usia SMA, sibuk berlatih untuk bisa bertanding di Koshien, karena di sana adalah panggung tertinggi baseball SMA. Saat tak ada latihan bersama klub terkadang saya menyaksikan pertandingan itu melalui TV.

Meski sepakbola adalah olahraga terpopuler di dunia, meski kami pernah menyelenggarakan Piala Dunia, meski kami pernah punya pahlawan sekelas Hidetoshi Nakata, tetapi baseball tetaplah nomer satu di Jepang.
Kenapa bisa begitu?

Masyarakat Jepang punya kesadaran bahwa setiap bangsa diberi kelebihan tersendiri pada masing-masing bidang. Seperti bangsa Eropa dengan musik dan filsufnya, atau Jepang dengan industri komiknya. Kami sadar bahwa Tuhan memberi kelebihan di bidang sepakbola pada orang-orang Brazil, Argentina, Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Belanda, Portugal, atau Prancis ; kriket pada orang-orang Inggris, Australia, atau India ; bulutangkis pada orang-orang China, Korea, Malaysia, dan kalian. Masyarakat Jepang sadar bahwa sehebat apapun pesepakbola Jepang tetaplah hanya jadi minoritas meski kami punya Nakata, Inamoto, atau Nakamura yang pernah bermain di liga top Eropa. Kami sadar bahwa bakat terbesar kami adalah baseball sehingga kami tetap menjadikannya olahraga nomer satu. Meski begitu bukan berarti kami putus harapan pada olahraga lain. Kami terus berharap suatu saat bisa mengangkat tropi Piala Dunia, atau melampaui kehebatan kalian di bulutangkis.

Singkat saja obrolan kami, tak sampai setengah jam karena ia sudah harus pergi lagi. Arigato gozaimasu.
Selepas obrolan singkat itu saya jadi memikirkan olahraga di Indonesia. Saya menjadi menebak-nebak alasan mengapa sepakbola tetap menjadi olahraga nomer satu di negeri ini meskipun terus saja puasa gelar selama belasan tahun. Padahal ada olahraga lain yang lebih berprestasi dan mengahrumkan nama negeri ini di dunia internasional. Semisal bulutangkis yang rutin menjadi penyumbang medali emas olimpiade sejak tahun 1992, dan disegani bahkan oleh seorang pesepakbola Jepang, atau tenis yang pernah melahirkan Angie Widjaja dan Christo Rungkat yang menjuarai Wimbledon Junior (salah satu turnamen junior tertinggi di dunia), atau perahu naga yang pada Asian Games 2010 kemarin secara mengejutkan mengalahkan hegemoni China yang notabene adalah negara asal mula olahraga tersebut.

Kisruh PSSI akhir-akhir ini mencerminkan bahwa betapa masyarakat Indonesia menaruh perhatian yang begitu besar (bahkan menurut saya berlebihan) pada sepakbola. Sejatinya korupsi dan permainan licik tidak hanya ada pada organisasi induk sepakbola itu saja tetapi juga pada induk olahraga lain. Hal ini saya ketahui saat ngobrol dengan beberapa teman olahragawan. Saya contohkan saja pada bulutangkis yang mengalami penurunan prestasi yang mengkhawatirkan tetapi lihatlah reaksi masyarakat? Terkesan adem ayem saja.

Tambah lagi ketergantungan klub-klub sepakbola pada dana APBD, yang mana setiap tahunnya menyusu dana miliaran rupiah. Ketergantungan ini tentu saja merugikan cabang olahraga lain. Pernah saya membaca tulisan bahwasanya cabang olahraga perahu naga di sebuah kabupaten mengalami kendala berlatih karena tidak memiliki sarana utama, yaitu perahu naga itu sendiri, padahal harganya ‘cuma’ Rp. 35 juta/perahu. Bandingkan dengan gelontoran dana APBD kabupaten itu pada klub sepakbolanya yang ikut serta di liga yang masih belum tertata rapi sebesar Rp. 3 miliar! Bagaimana bisa sebuah cabang olahraga yang jarang berprestasi mendapat dana lebih banyak dibandingkan cabang olahraga yang sudah menunjukkan prestasinya mengalahkan China si Raja Olahraga Asia?

Saya teringat kepada Korea Selatan yang sadar bahwa mereka sulit menandingi Jepang dalam hal produksi game console, sehingga mereka memutuskan untuk berfokus di game online. Dan kita semua tahu saat ini Korea menjadi pemimpin di pasar game online. Teringat juga kepada ucapan seorang tokoh di komik Eyeshield 21, Hiruma Yoichi pernah berkata yang intinya seperti ini : “Untuk apa terus memikirkan dan memimpikan apa yang tidak kau punya? Berusahalah sebaik mungkin dan jadilah yang terbaik dengan apa yang kau punya.”
Jadi apakah masyarakat Indonesia akan terus mengesampingkan potensi-potensi olahraga yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita? Semoga saja tidak.

© Kamar kost, Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s