“Banyak orang yang mencari kenikmatan tetapi lebih banyak lagi yang tidak menyadari kenikmatan yang sudah dimilikinya.” Begitulah kiranya status di akun facebook salah satu teman saya.
Gara-gara ingat itu saya jadi memikirkan sesuatu sepanjang waktu saya main game Harvest Moon. Sesuatu yang mengganjal saya semenjak semester pertama kuliah.

Jika saya pikir-pikir lagi, saya jadi heran, mengapa sepertinya negara kita begitu ngotot di sektor telekomunikasi dan seolah melupakan satu sektor lain yang apabila kita telaah sesungguhnya itu adalah kekuatan utama negara kita?

Coba tebak, apa anugrah terbesar dari Tuhan untuk negeri kita ini? Yah… jawaban anda mungkin bisa bermacam-macam, tetapi ada satu jawaban yang selalu lekat di kepala saya, yaitu kekayaan alam.
Kita dianugrahi kekayaan alam yang sangat ‘wah’, mulai dari timah, emas, minyak, batubara, laut yang kaya ikan, tanah yang subur, dan lain-lain. Saya teringat salah satu tulisan di internet yang isinya percakapan dengan seorang warga Singapura. Kiranya seperti ini :

“Saya kagum dengan negara anda. Hampir semuanya ada di negara anda, dari minyak sampai nuklir. Tanahnya sangat subur, hampir semua tanaman bisa tumbuh di sana. Sesungguhnya Indonesia mampu menjadi negara besar dengan kekayaan alamnya itu. Saya iri dengan negara anda.”

Seperti yang sudah saya tulis di awal bukan? Kita tak sadar atau lupa bahwa kita dianugrahi kekayaan alam yang tak mampu disaingi negara lain. Mengapa bisa seperti itu? Sederhananya seperti ini :

Seseorang yang sudah terbiasa mengendarai mobil pastinya tak akan pernah tahu bukan bagaimana kurang nyamannya berpanas-panas ria mengendari motor?

Coba kita pikir mengapa Eropa bisa menjadi maju seperti ini? Tak lain tak bukan adalah karena mereka biasa hidup dengan kondisi yang susah. Tanaman yang tumbuh kurang subur dan cuaca yang cukup ekstrem adalah beberapa diantaranya. Sedangkan di Indonesia, masyarakatnya sejak dulu terbiasa dengan kemudahan (jika dibandingkan dengan Eropa). Mau tanam apa saja bisa, melaut oke, cuaca pun tak cukup mendukung. Semakin lama kita pun terlena dan tak menyadari kenikmatan tersebut.

Seharusnya, seperti kata orang Singapura tadi, kita bisa menjadi negara besar dengan seluruh kekayaan alam yang kita miliki. Ingat sandang, pangan, papan yang dipelajari sewaktu SD?
Dengan kesuburan tanahnya, Indonesia bisa menjadi raja di sektor pangan. Hampir semua bisa tumbuh di tanah kita, bahkan gandum yang merupakan tanaman sub tropis pun bisa tumbuh di beberapa tempat di Indonesia. Bayangkan, kita bisa mengekspor ribuan ton beras ke negara-negara di Asia dan Afrika, gandum dan rempah-rempah ke Eropa, Australia, dan Amerika, dan banyak potensi ekspor komoditas pertanian lainnya.

Bukankah kebutuhan primer manusia adalah pangan? Tanpa sandang dan papan manusia masih bisa hidup, tetapi tanpa pangan? Mustahil. Seperti Tuan Krab bilang, “Kuasai perut mereka, setelah itu kuasai uang mereka.”

Jadi mengapa harus ngotot di sektor telekomunikasi? Bukannya saya anti dengan sektor itu loh. Sebagai orang yang mempelajari ilmu komunikasi, saya paham betul arti penting komunikasi. Tanpa berkomunikasi memang manusia masih bisa hidup, tetapi yakinlah, seminggu saja anda tak punya kawan bicara, otak anda pasti menjadi sedikit tak waras, saya sendiri pernah mengalaminya.

Masalahnya adalah, sektor telekomunikasi bisa dikembangkan oleh hampir semua negara dan batasan utamanya salah satunya yang terbesar hanyalah kekuatan ekonomi. Lagipula kita masih belum bisa mandiri dalam hal teknologinya. Sementara sektor pertanian, ini sudah menyangkut kondisi geografis, dan tetek bengek lain yang sudah tak bisa diutak-atik lagi karena merupakan ketetapan Tuhan. Tak semua negara punya kekayaan alam seperti Indonesia.

Jadi, alih-alih mengejar kenikmatan lain yang susah didapat, mengapa kita tidak mendayagunakan secara maksimal kenikmatan yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan sejak ratusan tahun lalu.
Kalau teman SMA saya membaca ini pasti saya akan dibodoh-bodohkan. Alasannya adalah dulu saya juga diterima di Agrobisnis Universitas Brawijaya, tetapi tak saya ambil karena waktu itu sedang berlibur di Karimunjawa.

“Oh wedhus tenan. Dadi cah Telkom og malah ngomongke wong tani, gendheng kowe nang.” Mungkin begitu kata teman saya nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s