Bicara soal warung saya menjadi sebal melihat perkembangan minimarket-minimarket waralaba yang semakin menggurita saja. Menyebalkan karena para bagi saya para pewaralaba itu dengan pengecut membeli hak bisnis dari waralaba dengan nama yang sudah populer, dan dengan suksesnya merebut pasar para pengusaha kecil yang memulai dari nol dengan warungnya atau toko ritel berdikari. Sepertinya semakin ke sini sistem perekonomian Indonesia semakin mengarah kepada kapitalisme, dimana yang punya modal besarlah yang akan menang, dengan kata lain para pengusaha kecil hanya mendapat sedikit perlindungan dari pemerintah.

Di mata saya warung-warung itu tidaklah sekedar tempat dimana orang-orang bertransaksi guna memenuhi kebutuhannya masing-masing, tapi juga sebuah representasi mini Indonesia yang mana masyarakatnya suka berkumpul untuk sekedar bercakap-cakap, atau istilah populernya ‘makan ga makan asal kumpul’.
Coba perhatikan, umumnya para pembeli di warung tak hanya sekedar membeli barang kemudian pergi tetapi sering menyempatkan diri untuk ngobrol dengan entah pemilik warung atau orang lain yang kebetulan juga membeli sesuatu di warung itu. Bahkan tak sedikit warung yang menyediakan sedikit tempat untuk tempat nongkrong, maka jadilah interaksi sosial yang terkadang menarik untuk dicermati. Dan bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk sosial? Dan warung memfasilitasi itu sehingga manusia tetap berpijak pada sifat paling mendasarnya.

Coba bandingkan dengan minimarket-minimarket waralaba? Sangat jarang kita temui pemandangan seperti itu, kalaupun ada pembeli yang ngobrol dengan petugas kasir tentunya tak bisa berlama-lama karena bisa jadi akan ditegur, atau ada temannya yang sirik karena dianggap alih-alih bekerja malah bersantai. Singkatnya, hubungan antara stakeholder minimarket waralaba dengan pembeli cuma sebatas hubungan dagang, sulit mengharapkan timbulnya interaksi sosial yang menarik. Lagipula, seperti yang saya singgung sebelumnya, para pewaralaba itu di mata saya adalah para pengecut. Bandingkan dengan para pemilik warung atau toko ritel berdikari yang memulai usahanya dari nol. Mereka susah payah membangun usahanya dengan mengambil segala resiko, sistem manajemen yang dipelajari sendiri, dan membangun kepercayaan pelanggan dengan waktu yang tidak singkat. Sementara minimarket waralaba dengan nama yang sudah populer, sistem manajemen yang distandarisasi, bantuan manajerial dari pewaralaba, perlindungan wilayah, dan kepercayaan konsumen yang sudah terbangun.

Ada sebuah toko ritel berdikari di kampung halaman saya yang menjadi toko langganan kami. Saya sudah berbelanja di toko itu sejak tahun 1996, menyaksikan sendiri bagaimana awalnya toko itu hanya toko kecil biasa dengan pilihan barang yang tak terlalu banyak dan kemudian pada awal 2000-an melakukan renovasi toko karena usahanya mengalami kemajuan yang cukup bagus, hingga akhirnya pada tahun 2005 berhasil membuka cabang yang pertamanya, masih di kota yang sama. Sayang sekali penjajahan minimarket waralaba masuk ke kota saya pada tahun 2007, dan setelah setahun lebih melawan akhirnya toko berdikari itu menutup cabang pertamanya tadi karena para penjajah itu semakin merajai. Kog rasanya masyarakat kita lebih suka dengan produk penjajah ya?

Kesimpulan dan saran, minimarket-minimarket waralaba jika dibiarkan berrtumbuh maka akan mengancam para pengusaha-pengusaha kecil yang berjuang dengan warung dan toko berdikari mereka. Jadi mari biasakan berbelanja di warung atau toko berdikari agar kapitalisme tidak merajai negeri kita.

2 responses »

  1. gilang says:

    Bisnis itu selalu kotor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s