Selasa, 26 April 2011 saat itu cuaca kota Bandung seperti biasanya cerah dengan sedikit awan mendung. Pukul 13.xx ketika sedang sibuk memperhatikan dosen mengajar tiba-tiba saja ada yang teriak, “Gempa!!!” dan seperti dugaan langsung saja sebagian besar mahasiswa panic dan berhamburan keluar kelas. Saya sendiri masih anteng di tempat duduk (waktu itu saya berposisi paling dekat dengan pintu keluar), dan saya sendiri pun sadar ada gempa karena teriakan tadi bukan karena merasakan sendiri goyangnya gedung kampus, meskipun beberapa detik kemudian saya merasakan sendiri goyangan tersebut. Goyangan yang saya rasakan itu lebih kecil dari goyangan gempa pada Oktober tahun 2009 lalu, jadi saya pikir dengan nalar bahwa gedung kampus tak akan roboh, lha wong pas Oktober 2009 itu saja gedungnya baik-baik saja. Dan sebetulnya saya sudah mengantisipasi untuk berlindung di bawah meja dosen kalau-kalau goyangan gempa bertambah dahsyat.
Duduk anteng di kursi saya mengamati teman-teman saya. Sebagian besar panik bukan main, posisi kursi di kelas saja sudah tak beraturan, dan di kelas hanya ada seorang manusia yang setenang saya, si dosen! Salut deh…

Dua kali digoyang gempa saya selalu memperhatikan kelakuan mahasiswa kampus saya dalam menghadapi ancaman gempa, dan satu kalimat saja : panik tak terkendali.

Waktu digoyang gempa Selasa kemarin, saya melongok keluar kelas, dan astaga… ada beberapa mahasiswa yang masuk ke dalam lift alias elevator! Dan hampir semua lari menuju tangga utama, nyaris tak ada yang memanfaatkan tangga darurat yang posisinya dekat dengan elevator. Kacaunya lagi waktu itu kami ada di lantai 4 yang kira-kira butuh waktu minimal 30 detik untuk sampai keluar gedung kampus, padahal umumnya hanya butuh waktu kira-kira 15 detik untuk sebuah gedung mulai mengalami kerusakan. Dengan kata lain bisa-bisa kita malah tak pernah bisa menyelamatkan diri jika memilih cara sesegera mungkin lari keluar gedung dengan batas waktu yang tidak mencukupi.

Lebih mengejutkan lagi, saat goyangan gempa Oktober 2009 lalu, ada junior saya yang meringkuk di pojokan dan berdzikir menyebut nama Tuhan dengan gemetaran tanpa berusaha berlindung!

Berdasar pengalaman saya itu, memang sudah saatnya diadakan sosialisasi dan simulasi tindakan pengamanan diri selama gempa. Saya sendiri bisa bersikap tenang seperti di atas selain karena karakter saya yang memang tidak gampang panik tapi juga karena sering melihat latihan tindakan pengamanan diri selama gempa di anime dan mangan Jepang. Dan karena tidak semua orang punya karakter dan pengetahuan seperti saya maka sosialisasi dan simulasi sudah seharusnya dilakukan di berbagai institusi, mengingat sekarang ini cukup sering goyangan gempa menyapa Nusantara agar tak ada lagi tindakan bodoh dan membahayakan keselamatan dikarenakan kepanikan berlebihan dan tak terkontrol serta kurangnya pengetahuan mengenai tindakan pengamanan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s