Desingan kereta ramai sangat malam ini. Tak hanya oleh desingan kereta ramai malam ini, tapi juga gigitan angin malam di kulit, juga kelelawar yang mondar-mandir tak jelas urusannya. Malam ini di stasiun Tugu hanya ada seorang gadis duduk di bangku, berselimut jaket hitam lumayan tebal, entah apa mereknya dan berapa harganya aku tak tahu, ini jaket milik seorang lelaki.

Lelaki pemilik jaket itu datang mendekat, membawa dua buah mug di kedua tangannya.
“Ini kopimu.” Kuterima kopi itu, dan kuseruput. Hangat.

“Sejak kapan kau suka kopi?” tanya lelaki itu

“Sejak malam ini.” Jawabku

“Ada alasan khusus?”

“Ada.”

“Haaaaa… tumben kau punya alasan khusus mengenai sesuatu yang tidak biasa. Apa itu?”

“Warnanya serasi dengan malam.”

Lelaki itu diam, wajahnya terlihat bodoh… “Alasan konyol”

Kami diam dalam dekapan waktu, entah berapa putaran menit.

“Jadi, mana kereta yang kau tunggu?”

“Nanti masih lama…” jawabku enteng. Muka lelaki itu merah kemudian.

“Berapa lama lagi? Aku sudah di sini menemanimu sejak siang tadi!” jelas sekali lelaki itu murka padaku

“Kenapa tak pulang saja?” tanyaku, lagi-lagi seentengku sendiri

“Oooo… bagus sekali ya. Kau membuatku menemanimu menunggu kereta sejak siang dan sekarang dengan enteng kau suruh aku pulang… ha bagus sekali!”

“Bagaimana kabar Ani?”

“Jangan seenaknya mengalihkan topik! Hei, tatap mataku!” tentu saja aku tak mau menatap mata lelaki itu. Semarah apapun ia, matanya itu selalu saja indah, setidaknya buatku.

“Sehat-sehat saja, hubungan kalian itu?”

“Tak pernahkah kau belajar untuk menjadi tidak menyebalkan?”

“Selalu kog. Cuma kau saja yang menganggapku begitu.”

“Aha! Itu dia, itu! Aku tak paham kenapa cuma aku yang kau perlakukan berbeda, dalam artian negatif!”

“Jadi… bagaimana kabar hubungan kalian?”

“Cih… kau tak akan berhenti tanya sebelum kujawab kan?” aku mengangguk. Kopi kuseruput lagi, hmmmm… masih enak teh hangat.

“Kalau bukan karena kau, aku sudah putuskan ia dari dulu… Kenapa sih kau meminta hal aneh itu padaku, hah?!”

“Dia sahabatku, sejak kecil. Aku tahu dia orang yang baik, dan ia menyukaimu sejak SMP. Tambah lagi ia sangat tidak terbiasa patah hati.”

“Tapi aku tak pernah mencintainya, bahkan setelah 3 tahun kami berpacaran!”

“Nanti juga kau bisa mencintainya kog.” Semakin banyak keentengan kata-kata yang kuucap, lelaki itu semakin murka.

“Omong kosong! Kau ini sadis! Tak memikirkan perasaanku! Apa kau pikir aku tak tersiksa batin jauh dari orang yang kucintai dan harus berpura-pura mencintai orang yang sama sekali aku tak punya rasa padanya?”

“Siapa? Orang yang kau cintai itu?”

“Cih… dasar sok tak tahu. Kau pikir untuk alasan apa aku mau menuruti permintaan untuk memacari sahabatmu itu? Kau pikir aku akan betah menunggu kereta semenjak siang kalau itu bukan karena permintaanmu?”

“Beruntungnya aku… dan eh, kapan kalian menikah?”

“Itu tak masuk dalam permintaanmu! Kau kan hanya memintaku memacarinya!”

“Kau tak kasihan pada Ani?”

“Dan kau tak kasihan padaku?”

“hmmm itu susah dijawab…”

Lelaki itu memegang pipiku, memutar kepalaku menghadap mukanya, jari telunjuknya kaku menodong hidungku,
“K-a-u-s-i-a-l-a-n-! Sekarang katakan kemana kau akan pergi, dan kapan keretanya akan datang. Jawab sebelum aku menamparmu!”

Aku tetap tenang menghadapi kemurkaan yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajah lelaki itu. Kuambil buku diariku lalu kusodorkan padanya.

“Baca itu dulu baru akan menjawabmu.”

“Kau pikir aku akan mau menurutimu lagi hah?!”

“Baca sajalah.”

20 menit lamanya ia membaca buku paling rahasiaku, catatanku sejak SMP. Lelaki itu menutup buku kecil itu, menatap mataku. Murkanya sudah lenyap.

“Jadi, maukah kau menjadi kereta itu? Membawaku dalam perjalanan hidup bahagia selamanya? Dalam sebuah pernikahan?” astaga, aku melamar lelaki itu!

Wajah lelaki itu semakin dekat, semakin dekat, mata yang indah itu… napasnya bisa kurasakan, kami berciuman, lama…

Kelelawar masih saja mondar-mandir, menonton adegan dewasa cuma-cuma yang tersaji. Aku tenang, karena kelelawar tak akan bilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s