Game Developer Indonesia, Bersatulah!

Dalam event Indonesia Bermain yang digelar pada 22-23 Oktober kemarin dimana berhasil menarik minat lebih dari 7000 pengunjung, ada beberapa hal yang patut untuk dicermati, buat saya sendiri yang paling menarik adalah ada beberapa exhibitor yang merupakan developer game, yaitu : Anantarupa Studios, Sangkuriang Studio, Teelos Games, Altermyth, Nightspade, Elventales, dan Agate Studio sendiri sebagai organizer-nya. Saya bilang menarik karena setelah cukup lama kita cuma menjadi konsumen dari game-game impor, entah konsol, PC, Facebook, mobile, atau platform-platform lain akhirnya pada event tersebut para game developer berani unjuk diri ke masyarakat.

Bicara soal game developing, Indonesia sejatinya bukanlah anak kemarin sore. Sejak awal tahun 2000-an sudah mulai bermunculan beberapa nama putra bangsa yang punya prestasi cukup membanggakan di dunia game. Salah satu yang saya ingat adalah Ferry Halim yang pernah memenangkan sebuah penghargaan bergengsi untuk situs gamenya (nama penghargaannya saya sudah lupa). Ada juga developer individual lain yang cukup dikenal di kalangannya seperti Wandah Wibawanto, dan Frida Dwi yang sudah menelurkan cukup banyak game yang gameplay-nya sederhana namun tetap memiliki unsur fun.

Frida Dwi, game developer asli Indonesia

Untuk game developer pun kita pernah punya Matahari Studios yang mengerjakan outsource dari publisher sekelas EA, Codemasters, Sony, dan Take-Two. Saya ingat sekali mereka pernah ambil bagian mengerjakan game Stuntman di platform PS2. Game ini cukup bagus dan mendapat rating 8 out of 10 dari Gamespot. Bisa dibilang Matahari Studios adalah induk dan embrio perkembangan dunia game di Indonesia, karena setelah Matahari Studios muncul game developer lain seperti Altermyth, dan Menara Games yang beberapa stafnya dulu pernah menimba ilmu di Matahari Studios.

Bahkan saya dulu sangat antusias menunggu game berjudul Inspirit Arena, game bergenre real time strategy (RTS) dari Altermyth. Namun sayang sekali sampai sekarang entah apa kabar game tersebut. Pernah juga ada kabar tentang game online asli Indonesia yang bertema musik dan sosial, kalau tak salah ingat judulnya Music Inc., dan nasibnya sama seperti Inspirit Arena, menguap entah kemana. Padahal menurut saya kedua game tersebut sangat menjanjikan dan bakal menjadi batu loncatan game-game buatan Indonesia di panggung internasional.

Inspirit Arena, (harusnya) game RTS dari Altermyth

Grafik game Inspirit Arena

Sangkuriang, developer yang bermarkas di Bandung juga memiliki game online dengan konten yang sangat lekat nuansa Indonesianya yaitu Nusantara Online. Berbeda dengan nasib dua pendahulunya, game ini sudah rilis dan bisa dimainkan oleh umum. Namun, dari pengamatan saya game ini perkembangannya sangat lamban. Saya bilang begitu karena sudah lebih dari 3 tahun masa pengembangannya tapi masih banyak sekali kekurangan di game ini. Di event Indonesia Bermain kemarin saya berkesempatan mencoba game ini.

Kesimpulan saya, game ini butuh usaha sangat keras untuk memikat gamer lokal, mengapa? Karena kita tidak bisa lagi menarik minat gamer cuma berbekal tagline game asli Indonesia. Konsumen sudah pandai memilih, meskipun game tersebut asli bikinan saudara sebangsa, namun jika kualitasnya terpaut jauh dari game impor maka jangan harap ada publisher dan gamer yang bakal melirik. Game Nusantara Online sendiri sampai saat ini baru memiliki 2000-an pengguna, sangat jauh dibandingkan game online impor yang bisa memiliki pengguna sebanyak 100 ribuan lebih.

Screenshot Nusantara Online dari Sangkuriang

Ya, barangkali ini memang kebiasaan buruk kita, suka hangat-hangat tahi ayam. Di awal-awal sangat heboh namun seterusnya melempem, jago membuat konsep namun pengembangan disisihkan, atau pandai merilis game namun maintenance¬-nya buruk. Proyek game yang besar (online, konsol, dan PC) memang menjanjikan return yang besar namun investasi dan resiko pun tak kalah bikin waswas. Dana miliaran bisa menguap karena game gagal rilis, atau bisa berhasil rilis tapi pemasarannya buruk sehingga jumlah penggunanya jauh dari target.

Menimbang resiko yang ada dan pengalaman game developer sebelumnya, maka tak heran beberapa game developer lebih senang berkecimpung di platform yang lebih ringan seperti mobile, Android, dan Facebook. Biaya pengembangan game di platform tersebut lebih murah dibandingkan dengan platform serius semisal konsol XBOX 360 dan PS3.

Sebagai contoh game, fenomenal Angry Birds hanya membutuhkan biaya pengembangan sebesar US $140,000 dan meraup pendapatan hingga US $70 juta (500 kali dari biaya pengembangan). Bandingkan dengan game Grand Theft Auto IV yang butuh biaya lebih dari US $100 juta, dan meraup pendapatan lebih dari US $1.5 miliar (15 kali dari biaya pengembangan).

Di platform juga ada game seperti City Ville yang memiliki monthly active users (MAU) lebih dari 50 juta. Kita bayangkan saja dengan pendekatan pesimis bahwa 10% dari pengguna itu memberi kontribusi pendapatan sebesar US $2/ bulan, maka Zynga (developer game City Ville) sudah meraup uang sebesar US $10 juta/ bulan, dan jika keadaan tersebut bertahan selama minimal 3 bulan maka Zynga akan meraup uang sebanyak US $30 juta hanya dari satu game yang mereka produksi. Kondisi-kondisi di atas semakin mengukuhkan bahwa game di platform ringan tidak kalah dari game platform serius dalam hal besarnya penghasilan yang bisa diraih.

Keberhasilan game-game ringan seperti Angry Birds dan game-game Facebook buatan Zynga (Mafia Wars, Zynga Poker, Farm Ville, dan City Ville) membuat industri game di Indonesia semakin berkembang. Banyak game developer yang berdiri dengan modal yang minim, dan berbekal semangat. Hal ini karena fakta bahwa membuat game yang bagus dan menarik minat banyak orang tak lagi membutuhkan biaya besar.

Namun, membuat game ‘serius’ tetap saja menjadi impian hampir semua game developer. Siapa sih game developer yang tak ingin membuat game sekelas Final Fantasy, Dragon Quest, Ragnarok Online, Grand Theft Auto, atau Metal Gear Solid? Saya rasa hampir tak akan ada yang mengacung saat pertanyaan itu dilontarkan…

Final Fantasy XIV dari SquareEnix

Metal Gear Solid 2 dari Konami

Korea Selatan berhasil menjadi raja di negeri sendiri dan negeri orang berkat industri game online mereka yang berkembang sangat pesat, mengapa Indonesia tidak bisa?

Programmer handal? Kita punya banyak! Desainer game yang mumpuni? Ada! Sound enginer? Soal bikin musik kita tak kalah! Game artist? Yang jago visual di negeri ini melimpah, nyatanya banyak yang outsource bikin animasi CG pesanan studio-studio terkenal berlevel internasional.

Secara sumber daya Indonesia punya semuanya, lalu apa yang kurang? Menurut saya cuma satu, kerjasama.

Ada satu pepatah yang menurut saya sangat bagus,

“Satu orang ilmuwan Jepang kalah dari satu orang ilmuwan Amerika, namun 10 orang ilmuwan Amerika akan kalah dari 10 orang ilmuwan Jepang yang bekerjasama.”

Ya, kerjasama adalah kuncinya. Saya membayangkan jika banyak game developer bekerjasama membuat satu proyek besar untuk menghasilkan satu game ‘serius’ yang bisa menggebrak dunia game internasional, tentu dunia akan mulai memandang dua mata mengenai potensi industri game di Indonesia.

Satu game besar, dengan desain yang ciamik, musik yang menarik, gameplay yang tetap menekankan unsur fun, grafik yang sedap dipandang, dan konten game yang bernuansa Indonesia. Nantinya dengan dukungan puluhan juta gamer Indonesia untuk meramaikan game ini di dunia maya dan nyata, dan publikasi media yang gencar tentu akan menjadi media pemasaran yan sangat efektif bagi game ini. Nama dari game tersebut tentu akan ramai dibicarakan gamer-gamer dari negara lain, dan game tersebut akan dimainkan oleh puluhan atau bahkan ratusan gamer di seluruh dunia.

Mungkin akan terjadi kendala selama pengembangan game tersebut, paling kentara tentunya dalam hal pembagian keuntungan karena tim besarnya berasal dari banyak game developer. Tapi mari sekali ini saja semua pihak bekerjasama untuk mengangkat nama Indonesia di panggung industri game dunia, karena begitu negeri ini mendapat nama baik di panggung dunia keuntungan jangka panjang akan diperoleh, dan keuntungan itu akan dirasakan oleh semua pihak yang terlibat.

Besok, 2 – 6 November 2011 bertempat di JCC Senayan, akan dihelat gelaran besar bagi dunia game Indonesia yaitu Jakarta Game Show, ini adalah gelaran pertama bagi event tersebut dimana akan ada banyak gamer, developer, dan pubslisher Indonesia berkumpul. Semoga ini menjadi momentum bagi perkembangan selanjutnya bagi industri game di Indonesia, dimana saya berharap bentuk kerjasama untuk sebuah proyek besar yang saya impikan bisa mulai terpikirkan oleh mereka.

Ayo Indonesia, kita bisa!!!

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s