Selama belum terjun ke sawah, kita tak akan pernah tahu bagaimana asyiknya bersawah.”

Pernah mendengar pepatah di atas? Pastinya belum, karena itu cuma karangan saya pribadi saja yang menetas tiba-tiba di kepala. Pepatah karangan saya di atas sedikit banyak menjadi garis besar tulisan saya kali ini, tentang cerita saya, seorang mahasiswa yang sedang mengumpulkan macam-macam ilmu di sebuah kampus swasta di kota Bandung.

Lahir dari keluarga yang syukur alhamdulillah bias memenuhi beraneka kebutuhan saya, terutama di sektor pendidikan, saya secara beruntung bisa mencicipi pendidikan terbaik, setidaknya versi kota kecil tempat saya lahir dan pernah mengalami masa menjadi ababil.

Sejak SD saya selalu dimasukkan ke sekolah negeri yang bertitel angka 1 dan diikuti nama kota kecil saya. Sejak SD saya selalu berada di lingkungan sekolah yang selalu menekankan bahwa kami adalah terbaik dan tidak mau kalah (atau mengalah) dari sekolah tetangga.

Sejak SD saya selalu diwanti-wanti bahwa kemenangan atas sekolah lain itu nyaris menjadi sebuah kewajiban, dan terkadang ada penekanan yang tak perlu seperti bahwa apapun caranya, selama itu berbuah kemenangan, maka bisalah ditoleransi. Selama 12 tahun, saya mendengar wejangan yang nyaris sama persis, saya hapal betul, saya menjadi mahfum sekali apa artinya dianggap yang terbaik dan usaha-usaha untuk mempertahankan status itu.

Namun semua berubah saat saya masuk ke dunia anak kuliah. Saya yang sejak kelas 2 SMA mengincar universitas yang dianggap salah satu terbaik di negeri, Universitas Gajah Mada di Jogja. Bagaimana dengan UI? Terlalu jauh kata orang tua saya. ITB?  Terlalu teknik kata otak saya.

Kemudian saya dihempaskan oleh rencana Allah di sebuah kampus yang kenal saja tidak (waktu itu saya ikut tes cuma karena diajak teman), sebuah kampus yang direkomendasikan oleh orang-orang yang saya tanyai pendapat cuma karena ada nama sebuah BUMN menempel di belakang.

Bukan saya yang keterlaluan, nyatanya masyarakat kota setempat pun tidak mengenal kampus saya itu, kecuali warga sekitar kampus dengan radius ± 3 km. Apalagi tetangga saya, tiap kali saya bilang nama kampus saya itu, mereka cuma punya satu respon : “Kalau udah lulus langsung kerja di sana (nama BUMN tersebut) ya?” Maklum, kampus di Bandung yang mereka kenal cuma ITB, kampus lain semacam Unpad pun mereka tak tahu, apalagi kampus saya yang umurnya lebih muda dari saya.

Kesan pertama mengenai kampus saya ini adalah : kecil sekali. Maklum lah, kampus yang paling pertama saya kunjungi adalah UGM, yang bagi saya cukup pantas untuk dinobatkan menjadi wilayah kelurahan tersendiri kalau merujuk luas lahannya.

Singkatnya, masa-masa awal menjalani hidup sebagai mahasiswa, hati saya menolak untuk berada di sini. Pikiran dan hati saya masih kecanthol di UGM. Selain karena merupakan salah satu yang terbaik, juga karena saya sangat menikmati dan gandrung dengan kota Jogja, bahkan sampai sekarang.

Semester kedua, saya mendaftar lagi untuk bisa menjadi mahasiswa UGM melalui jalur SNMPTN. Saya melakukan persiapan, melengkapi amunisi ilmu yang diperlukan. Segala macam aktivitas saya hentikan, saya fokus penuh dengan ambisi saya untuk masuk ke UGM. Dan saya gagal, proposal kedua saya ditolak lagi oleh Allah. Meski begitu saya tidak berontak, saya kemudian menerima kenyataan bahwa UGM bukan jodoh saya, sama sekali bukan.

Hubungan saya dengan kampus saya sebenarnya cukup simpel untuk dianalogikan. Saya seperti menikahi seorang perempuan yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Tak pernah ada masa pendekatan apalagi pacaran, yang ada langsung prosesi lamaran yang dilanjut ke pelaminan.

Dan butuh waktu setahun lebih untuk kemudian bisa menerima dengan ikhlas semuanya. Saya sadar betapa bodohnya ketika membandingkan kampus ini dengan UGM secara apple-to-apple. Bagaimana tidak bodoh jika anda membandingkan perusahaan IT berumur balita dengan perusahaan yang sudah mapan semacam Apple atau Microsoft?

Ditambah lagi dengan cerita dari teman saya yang kuliah di UGM mengenai kondisi teraktual dari kampusnya semakin membuat saya bisa menerima keadaan dan melupakan UGM. Sekedar tahu, teman saya ini orangnya mempunyai satu kemiripan dengan saya, yaitu tak pernah memanis-maniskan apa yang hambar atau bahkan pahit, dengan kata lain dia bercerita soal keadaan UGM dengan setransparan mungkin. Hitam ya hitam, putih ya putih.

Saya yang sekarang sudah sangat menyukai kampus saya. Saya membanggakan bermacam kelebihannya, saya bisa menerima kekurangannya.

Saya menyukai toilet kampus yang bersih, lebih bersih dari kampus lain yang pernah saya kunjungi. Saya menikmati kelas-kelas yang nyaman dan sejuk dengan fasilitas-fasilitas yang tersedia. Saya menyukai tangga darurat yang selalu kosong dan bisa saya manfaatkan sebagai tempat untuk berolahraga (lari-larian naik tangga). Saya mencintai perpus kampus yang menurut saya adalah perpus paling nyaman yang pernah saya singgahi.

Saya menyukai LCD TV yang belum pernah saya jumpai di kampus lain, yang terkadang cukup bermanfaat di saat-saat tertentu (salah satunya saat helatan SEA Games kemarin dan saat final Liga Champion).

Dan yang paling saya suka dan kagum adalah SDM pilihan kampus ini. Saya kagum dengan betapa rajinnya para office boy yang berhasil menjaga kebersihan kampus, terutama toiletnya. Saya kagum dengan beberapa dosen yang begitu brilian dalam mendistribusikan ilmu yang mereka punya. Saya kagum dengan etos bisnis kolega-kolega saya.

Allah begitu baik pada saya. Ia membuat saya merasakan bagaimana rasanya berada di kampus yang tidak dianggap terbaik, setelah sekian lama berada di lingkungan sekolah yang merasa diri paling baik. Saya kini mengerti bagaimana rasanya diremehkan, rasanya tidak memiliki beban terhadap sebuah status. Dan itu bukanlah penggembos semangat, malahan sebuah stimulus yang mendorong kami untuk membuktikan diri bahwa si kelas bulu bisa mengalahkan si kelas berat, Persib bisa runtuhkan Madrid, swasta tidak kalah dari negeri.

Saya kagum dengan kolega-kolega yang ingin membuktikan diri bahwa kami tidak inferior di hadapan trio macan kampus Indonesia : UI, ITB, dan UGM. Pernah satu kali saya berpesan kepada seorang teman saat ia mengikuti satu lomba, bahwa tim dari UI merupakan satu tim yang tangguh. Saya berkata begitu karena salah satu teman SMP saya yang brilian otaknya, mewakili UI di lomba yang sama.

Dan hasilnya? Tim kampus saya menduduki peringkat di atas UI! Satu hal yang tak pernah saya prediksi sebelumnya. Dan kemudian cerita serupa mengekor. Sudah tak terhitung lagi jumlah prestasi kolega-kolega yang berhasil mengungguli kampus-kampus lain yang lebih ternama.

Dalam bidang lain kami boleh kalah, tapi dalam bidang manajemen, jangan pernah hapus kami dari daftar calon juara. Ini sekadar kejumawaan pribadi saya, bukan atas nama kampus. Bukan karena ingin sombong, tapi sekedar motivasi berdasar prestasi dan potensi!

Teringat dengan momen menarik saat mengikuti perkuliahan di kampus, dosen saya berujar :  “Menurut kalian apa saya ini lebih pintar dari kalian? Tidak! Saya cuma lebih dulu tahu daripada kalian!”

Ya, jangan pernah merasa inferior kolega-kolega. Kampus kita, Institut Manajemen Telkom, yang lokasinya ada di Gang Picung, ya betul, masuk gang! Tidaklah kalah dari kampus-kampus ternama itu, mereka lebih dulu ada dari kita, tapi belum tentu lebih brilian dari kita.

Kampusmu bukan penentu suksesmu, tapi apa yang kau perbuat selama masa kuliahmulah.

Gedung kecil tempat saya beroleh macam-macam ilmu

12 responses »

  1. v-three says:

    great…, ulasan yang membumi…status kampus hanya embel2 yang menempel di gelar sarjana kita nanti…, yang terpenting adalah kualitas performa kita sebagai lulusan itu yang akan dinilai…

    maree kita buktikan !!!

    Kita Bisa !!!
    IM Telkom Bisa !!!

  2. nastiti says:

    hidup IM TELKOM..!!!

    berintegritas, berilmu, berjiwa mandiri..

    we stand, we proud..😀

  3. Rendy Candra says:

    Terus semangat dan optimis !…

    Tunjukkan bahwa kita bisa …🙂

  4. wah sesar ternyata ..😀
    mantab!

  5. Azmi Alfalah says:

    semangat kang..
    IM Telkom pasti bisa..

  6. @ikhwanism says:

    yang penting lulus jadi orang SUKSES titik🙂

  7. N1144 says:

    two thumbs up!! ^^

  8. stmb3x says:

    kata2nya pak Bardy L yah?😀

  9. ggmu says:

    glory glory im telkom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s