http://www.4shared.com/mp3/Lx4sdXsm/The_Archies_-_Sugar_Sugar__Ost.html
Ini satu genre tulisan yang jarang sekali saya produksi, dan bahkan ini pertama kali saya memposting tulisan ber-genre seperti ini, bisa jadi ini yang pertama dan terakhir…

Selalu ada perasaan sangat tidak enak saat saya melakukan kesalahan, utamanya jika itu mempunyai dampak bagi orang lain. Pernah saat masih berstatus anak SMA dulu, ketika sedang tanding sepak bola, saya melakukan kesalahan dengan membiarkan bola lewat begitu saja dan masuk ke gawang. Padahal saya memangku harapan yang cukup besar dari kawan satu tim sebagai seorang bek yang bisa diharapkan. Masih untung saat itu pertandingan berakhir dengan skor sama, meski begitu saya merasa bersalah karena seharusnya pertandingan itu bisa kami menangkan. Saya pulang dengan puluhan kerikil menyangkut di hati.

Bisa dibilang, tanpa berniat narsis, saya ini orang yang siap disalahkan dan menerima kesalahan jika memang sayalah si pelakunya. Entah siapa yang mengajari, sifat itu sudah ada sejak masih kanak-kanak hingga usia kepala dua sekarang ini. Buktinya adalah saat pembantaian oleh dosen penguji kemarin hari. Saya diserang bertubi-tubi, ketidaktahuan saya diumbar dengan vulgar di ruangan yang dihuni lima orang, dan saya tidak membela diri sama sekali. Buat apa? Saya pikir tak patut membela diri karena apa yang dihantamkan dosen penguji kepada saya itu semuanya betul, saya yang salah, saya yang masih cetek ilmu.

Saya satu spesies yang suka dikoreksi dan mengkoreksi. Saya sangat terbiasa mendengar omongan orang bahwa saya terlalu ini, saya kurang itu, dengan bahasa yang keras, kasar, biasa saja, ataupun halus. Dikoreksi seperti apapun saya belum pernah memasukkannya ke lemari dendam di hati, paling mentok saya merasa gondok selama beberapa puluh menit.

Begitu pula kemarin saat saya membaca blog kawan. Ada rasa sangat tidak enak di hati saat mengetahui saya melakukan salah pada kawan itu. Saya begitu salah menerabas aturan dunianya. Apapun alasannya, salah tetap salah, minta maaf harus disampaikan, meski begitu perasaan tidak enak di hati tetap saja menempel.

Kawan, barangkali caraku untuk berakrab denganmu memang salah, kelewat salah, memang aku yang bodoh tidak bisa memahami aturan duniamu. Tak ada maklum bahwa latar belakang dunia kita berbeda, salah tetap salah, dan aku sudah dihukum dengan perasaan kelewat tidak enak ini.

Memang betul aku mencoba akrab. Inilah aku, spesies yang selalu ingin akrab dengan orang-orang yang kuanggap lebih superior dariku karena dengan begitu akan ada hal yang bisa kupelajari, kutiru, dan mungkin saja kumodifikasi.

Terakhir kalimat, bolehkah aku mengajukan saran? Sebaiknya boleh karena aku selalu ingin orang di sekitarku menjadi lebih baik, karena dengan begitu aku bisa tertular virus positif yang dibawanya.

(1) Mungkin ada baiknya jika hal itu ingin benar-benar kau jaga tak perlulah kamu memberitahukan delapan digit sakral itu kepada seorang yang belum kamu kenal lama, seperti spesies satu ini. Terkadang tidak tahu sama sekali itu membuat keadaan jadi lebih baik. Jujur aku masih sangat tak mengerti, ibarat aku ini punya kunci tapi tak boleh aku gunakan, tapi biarlah begini, biarlah aku tetap tak memahami ^_^ ;

(2) Suatu saat nanti biarkan dunia menengok isi pikiranmu, ide-idemu yang kau lukis di atas software perangkai kata. Aku punya dugaan banyak hal hebat terekam di pikiranmu, dan barangkali jika orang boleh menengoknya itu akan bermanfaat buat mereka ; dan terakhir, tetaplah menjadi siput yang mengeong ^^

Miauw, satu-satunya siput yang mengeong (sumber : athenatt.devianart.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s