Karimunjawa, gugusan pulau di sebelah utara pulau Jawa yang masih masuk ke dalam bagian Kabupaten Jepara. Siapa sih yang sekarang tidak mengenalnya? Bermula dari pulau kecil biasa-biasa saja, kini Karimunjawa menjadi salah satu destinasi utama para pelancong dalam dan luar negeri. Banyak pelancong berkunjung berarti bertambah pula pemasukan bagi penduduk lokal, entah dari penyewaan kamar, alat-alat snorkel, perahu, jasa guiding, maupun dari berjualan makanan-minuman. Bertambahnya jumlah pelancong ini pun tak luput dari insting tajam para investor. Dan ini lah yang mengganggu benak saya.

Cerita ini berdasar curhatan seorang kawan. Saya cukup antusias mengikuti ceritanya, sehingga ada cukup banyak yang bisa saya ingat, berikut kisah kawan saya itu saya tuturkan dengan gaya bercerita saya…

Masih saya ingat jelas kejadian itu, terjadi pada tahun 2004 saat saya masih remaja yang menjejak tahun terakhir berseragam putih-biru. Suasana rumah yang biasanya sepi tiba-tiba saja ramai oleh suara telepon, kunjungan dari saudara dan orang yang tak saya kenal.

Cerita bermula dari ketertarikan seseorang untuk membeli pulau keluarga kami. Ya, pulau keluarga kami. Saya di sini bercerita sebagai seorang putra Karimunjawa, meski tidak tulen sepenuhnya. Ibu saya asli Karimunjawa, lahir di sana dan menjelajah hidup di sana sampai kemudian saat remaja beliau bersekolah di Jawa (sebutan orang Karimunjawa untuk Jepara daratan). Almarhum kakek saya adalah sesepuh di Karimunjawa, beliau merupakan rujukan bagi para pendatang di Karimunjawa, yang ingin menetap, melakukan penelitian, atau sekedar berwisata. Singkatnya, keluarga besar saya adalah orang Karimunjawa asli, tulen.

Sekedar tahu, pulau-pulau di Karimunjawa banyak yang dimiliki oleh penduduk setempat, ini tulen karena ada sertifikatnya. Darimana datangnya sertifikat itu saya tak tahu, ibu saya pun begitu. Jadi jika ada yang menyebut pulau itu milik negara, saya kurang setuju karena nyatanya ada sertifikat kepemilikan tanah yang dikeluarkan negara.

Saat rumah saya mulai lebih bising dari biasanya itu saya mencari tahu sebab musababnya. Biang keroknya adalah Bengkoang, nama pulau keluarga kami. Sejatinya pulau Bengkoang itu cuma salah satu pulau di Karimunjawa pada umumnya. Hanya ada beberapa peleton pohon kelapa sebagai penghuninya, yang buahnya sering mangkrak begitu saja tak dipanen oleh keluarga kami, maklum jaraknya jauh dari rumah kami di pulau utama.

Peta Kepulauan Karimunjawa, comotan dari Google

Pulau yang nyaris terlupa itu tiba-tiba saja menjadi bahan rapat besar di keluarga kami, gara-garanya ada seseorang yang berniat membeli pulau itu seharga Rp 3,000/m². Ya, saya tak salah tulis! Tiga ribu rupiah per meter persegi!

Saya, meskipun masih remaja ingusan begini tidak sampai bodohnya mau menjual pulau cuma seharga tiga bungkus makanan ringan per meternya, bahkan sejatinya saya tidak mau pulau itu dijual. Namun tidak begitu dengan pakdhe dan budhe saya (paklik saya termasuk sepemikiran dengan saya). Berikut penggalan perdebatan yang masih terekam di kepala saya :

Pakdhe (P)      : “Udah lah jual saja, mumpung ada yang beli. Pulaunya kan luas, kalau dibagi nanti hasilnya lumayan”

Ibu (I)               : “Jangan Mas, kemurahan itu, tunggu sampai ada tawaran yang lebih bagus.”

Pakdhe (P)      : “Oh gitu ya, kamu pengen nunggu sampai aku mati, terus duitnya kamu mabil sendiri!”

Pakdhe saya ini memang orangnya cepat naik darah, jadi mikirnya suka ngawur, alhasil suasana jadi tak nyaman lagi.

Paklik (PL)      : “Bukan gitu Mas maksudnya Mbah H (nama ibu saya). Mbak H pengennya pulau kita bisa dijual lebih mahal, supaya nanti uang yang dibagi lebih banyak, kan lebih enak to.”

Pakdhe (P)      : “Apanya?! Ngaku aja pada nunggu aku mati! Udah pada tahu aku ini udah tua, sakit-sakitan! Mbok ya biar aku punya duit banyak sebelum aku mati!”

(Tambahan, waktu itu yang datang melakukan transaksi adalah orang Indonesia, namun saya mendengar bahwa ia cuma kurir belaka karena aslinya yang berniat membeli adalah investo luar negeri. Saya tak tahu aturan soal kepemilikan pulau, tapi bisa jadi ini untuk memanfaatkan celah di aturan yang berlaku.)

Maksud dari ibu saya adalah menunggu tawaran dari pihak lain agar pulau itu dihargai Rp 15,000/m². Saya sendiri bilang terus terang kepada ibu bahwa saya menolak keras penjualan pulau. Saya bepikir di kemudian hari pasti aka nada kerugian jangka panjang yang akan keluarga kami rasakan. Saya bermaksud untuk mengusulkan agar pulau itu dikelola sendiri, dijadikan lebih produktif, membangun resor misalnya.

Tapi apalah arti celotehan remaja ingusan seperti saya? Bangun resor? Siapa yang punya duit? Siapa yang mau ngurus? Itulah beberapa respon yang saya dapat, yang kemudian hari bisa saya maklumi karena dari kakek sampai paklik saya semuanya adalah PNS! Sama sekali tak terselip entrepreneur barang seorangpun.

Keluarga kami, utamanya pakdhe tertua saya itu (ibu saya punya 3 mas, 2 mbak, dan 1 adik), hanya berpikir pendek. Kebetulan ada orang yang mau membeli pulau yang cukup luas, padahal selama ini pulau itu tak terurus dan tidak menghasilkan uang. Kurang lebih begitulah pakdhe saya berpikir.

Sekedar tahu, banyak penduduk lokal yang tak punya visi tentang cara untuk memanfaatkan pulau yang dimiliki, kecuali hanya memanen buah kelapa.Maka dari itu, saat ada orang yang berniat membeli pulau dengan harga total yang ‘wah’ yang terpikir adalah segera menjualnya sebelum nanti tak ada lagi yang berminat.

Ini salah menurut saya. Andai mereka bisa melihat tren pariwisata di Karimunjawa, barangkali mereka mau sabar menunggu tawaran yang lebih bagus. Tapi ini pun tidak bisa dibenarkan oleh nurani saya.

Jalan terbaik dan terideal adalah tidak menjual pulau-pulau itu. Pulau itu bisa dimanfaatkan lebih, dengan cara bekerjasama untuk membangunnya menjadi sebuah pulau yang memiliki nilai lebih. Salah satu caranya adalah mengajak investor untuk menanamkan modal. Dengan begitu secara ekonomi, pemasukan bagi penduduk lokal akan lebih berjangka panjang, bukan mendapat segepok uang kemudian kehilangan hak atas pulaunya sendiri.

Keindahan Pantai Karimunjawa (sumber : comotan dari FB temen)

Namun sayang sekali belum pernah saya temui orang Karimunjawa yang berpikir seperti itu. Berdasar pengamatan saya, salah satu penyebab utamanya barangkali kurangnya SDM lokal yang cerdas. Layaknya pulau kecil lainnya, mereka yang kemudian memiliki kesempatan untuk menambah ilmunya di jenjang kuliah jarang ada yang kembali ke Karimunjawa untuk membangun kampung halamannya. Tak ada ilmu yang bisa disalurkan, tak ada idealisme khas anak muda yang ditularkan.

Idealisme yang saya maksud adalah idealisme untuk menjadikan Karimunjawa sepenuhnya milik orang Karimunjawa sendiri, tulen! Beberapa kali saya membagi pikiran saya ini kepada sepupu dan kawan saya yang asli Karimunjawa, namun belum ada yang mau sejalan dengan saya.

Sekedar tahu, saya rasai sendiri Karimunjawa sudah mulai ‘beralih kepemilikan’. Saat saya bekunjung dan menginap di rumah saudara, rasa kekeluargaan mulai tekikis karena ada tamu pelancong yang ikut menginap, dan saudara saya terpaksa sibuk meladeni tamunya. Dan saat beberapa bulan lalu beniat mengunjungi Bengkoang, saya ditarik ongkos mendarat.

“Yah gimana lagi Mas, udah aturan si bos sih” kata si penjaga pantai, teman main masa kanak-kanak saya.

Saya ingin kembali ke Karimunjawa dengan menggenggam banyak uang, membeli lagi pulau kami yang sudah terlanjur dijual. Saya ingin membuat Karimunjawa sepenuhnya milik orang Karimunjawa sendiri, tulen! Insya Allah, doakan.

3 responses »

  1. B.PREMANA says:

    Setuju mas,investor2 terkadang tidak wajar membeli tanah dengan harga yg begitu murah,jangan jual ke bule2 yang pura2 pakai nama org lokal,kita dukung karimun jawa untuk bangsa indonesia,saya juga pengen tinggal di sana,kalau ada tanah ,meskipun hanya 100 meter persegi….salud cara pemikiran mas,terus berjuang untuk cita cita nya.

  2. Ila petra buana says:

    Kalau belum terlanjur dijual cari saja investor yang mau mengelola, mereka membangun dan mengelola hanya untuk 20 s/d 30 thn dengan pembagian 20 s/d 30 persen untuk pemilik tanah, setelah masa pengelolaan habis usaha tersebut 100 persen milik keluarga besar anda, coba bergaining ke investor pembeli tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s