Jangan Usik Saudaraku, Orang Utan Itu!

Hati sedih tercampur baur dengan rasa marah. Ingin rasanya meneteskan beberapa butir air dari mata, tapi entah kenapa saya tak juga bisa. Campur baur rasa itu muncul ketika melihat melihat saudara-saudaraku di Kalimantan sana dianiaya, dibantai, disampahkan. Bukan saudaraku sesama Jawa, bukan saudaraku orang Dayak, bukan orang Madura, bukan. Saudaraku itu warnanya jingga, saudaraku itu orang pedalaman, orang utan.

Aku sudi dengan segenap rela menyebut mereka itu saudaraku, karena nyatanya kami memang saudara, saudara satu pencipta. Jika iPad itu saudaranya Macbook, sah saja bukan kalau aku bersaudara dengan orang utan?

 

They need our love :')

 

Saudara-saudaraku itu dianiaya, dibantai, lalu disampahkan hanya karena mereka dilabeli hama orang para konglomerat sawit. Saudaraku digusur paksa dari rumah tanpa sertifikat mereka. Saudaraku itu kehilangan anak-anaknya. Saudara-saudaraku itu marah, wajarlah, sudah naluriah.

Tangan mereka yang mengacung dilawan dengan bedil, dan badik. Dada mereka tembus, kepala mereka dipancung! Sungguh aku miris, hatiku teriris. Bagiamana manusia-manusia itu tega?

Aku benci manusia-manusia pengecut seperti mereka. Pengecut karena merampas rumah makhluk yang lebih lemah dari mereka, pengecut karena hanya ada urusan duit di kepalanya, pengecut karena sudah kehilangan kasih sayang di hatinya.

Aku ingin ada di sana, di Kalimantan, di tengah-tengah mereka. Melindungi nyawa saudara-saudara jinggaku itu dari kebengisan para pengecut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s