Buat saya, perempuan yang cengeng dan kelewat manja itu tidak ada menariknya barang secuil pun. Sikit sikit cerita masalahnya, sikit sikit minta tolong. Memang ada betulnya hal itu sudah kodrat perempuan, tapi kalau kelewatan ya geuleuh juga. Jadi, pada dasarnya saya ini pengagum perempuan yang tangguh. Wujudnya bisa seorang aktivis, pendekar, jurnalis, atau petualang. Nah untuk poin terakhir ini lah saya punya beberapa orang yang saya kagumi.

Ada beberapa kandidat yang hendak saya jadikan tokoh utama di tulisan kali ini, antara lain : Marina Kusumawardhani, Trinity, Medina Kamil, Riyani Djangkaru, dan seorang kawan dari Paimo yang saya lupa namanya.

Marina Kusumawardhani dan Trinity saya nominasikan karena mereka berdua sudah pernah solo backpacking alias melancong sendirian. Hebat karena mereka itu perempuan, padahal ada beberapa laki-laki yang cengeng, tak berani melancong sendirian, ckckckck.

Marina Kusumawardhani (sumber : comotan dari Facebook-nya)

Trinity (baju merah) (sumber : ga nyomot, dokumentasi pribadi saya)

Medina Kamil dan Riyani Djangkaru, meski dalam setiap petualangannya selalu ditemani oleh orang lain (setidaknya yang terekam oleh kamera), tapi tetap saja hebat karena butuh fisik super dan mental tokcer agar bisa melakukan segala macam aksi yang sudah ditayangkan di tipi itu.

 

Medina Kamil, Eksotis... (sumber : salah satu thread Kaskus oleh kaos305)

 

Riyani Djangkaru (sumber : 3.bp.blogspot.com)

Kawannya Paimo, namanya entah siapa, sempat terlintas di kepala karena dia bersepeda seorang diri di Eropa. Yang ini juga perempuan loh. Sebagai sesama pesepeda jarak jauh, saya super salut.

Ini dia Paimo, barangkali ada yg belum kenal... (sumber : avonturguide.blogspot.com)

Dan saya harus memilih salah satu… Medina Kamil. Kenapa dia? Karena menurut saya pengalaman bertahan hidupnya adalah yang paling membuat saya mengacungkan jempol.

Berdasar cerita yang saya ikuti, ekspedisi ke tanah Papua itu adalah yang pertama kali buat dia sebagai presenter Jejak Petualang. Dan pada ekspedisi pertamanya itulah ia langsung diberikan ujian yang bukan mainan susahnya. Ia dan rekan setimnya terombang-ambing di laut selama lebih dari 12 jam karena boat yang mereka tumpangi terbalik karena hempasan ombak.

Setelahnya ia terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni bersama tim Jejak Petualang lainnya selama empat hari. Harus bertahan hidup dan menunggu tim SAR dengan ketidakpastian tentu saja menuntut survival skill yang tidak ecek-ecek, dan Medina Kamil berhasil. Sungguh saya salut. Setelahnya, bisa kita lihat di acara Jejak Petualang selanjutnya, Medina Kamil berkembang menjadi seorang petualang yang berani menantang bermacam hal. Naik gunung ribuan meter oke, nyelam oke, berakrab dengan satwa liar pun ayo.

Semoga, suatu hari nanti saya bisa bertemu dengannya. Bukan buat berfoto, tapi untuk mendengarkan cerita dan kisah petualangannya. Jempol sekali lagi buat Medina Kamil. (^_^) d

Juara versi saya, Medina Kamil (sumber : ombakselatan.wordpress.com)

2 responses »

  1. sevenofcloud says:

    wow, salut banget sama cewe2 ini!
    semoga bisa ngikutin jejak mereka!😀

    Annisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s