Kisah IYCS, Sudut Pandang Seorang Volunteer

IYCS, ajang kumpul pemuda hebat!

“Teman-teman, ada yang mau ikut jadi volunteer acara Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) ga?” ~ Tya. Begitulah kiranya sms yang saya terima pada Sabtu (4/2) saat sedang asyik menjelajah arena ITB Fair. Tentu saja ajakan ini saya terima, kebetulan sekali karena saya juga sedang mengerjakan projek jurnalistik saya yang ingin menulis tentang pemuda Indonesia yang peduli dan punya visi untuk Indonesia, yang tidak diam terhadap masalah di sekitarnya. Singkat cerita saya mendapat tugas sebagai LO (Liaison Officer) para observer di Wisma Depsos di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Observer sendiri adalah para pemuda yang sudah melakukan perubahan selama setahun kebelakang, jumlah yang terpilih adalah 100 orang, dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara, woooow sekali kan?!

Hari 0 (Hari Pertama)

Kegiatan pertama di hari pertama adalah bangun pukul 4 pagi. Ya, sesubuh itu (malah belum masuk waktu subuh ding) saya sudah harus bangun karena pukul 5 sudah harus ada di BTC untuk naik shuttle pergi ke Bandara Soekarno-Hatta guna menjemput peserta. Bukan masalah karena saya sudah terbiasa bangun subuh, dan kebetulan saya juga penasaran dengan rupa Bandara Soetta karena seumur-umur saya belum pernah ke bandara internasional, ha-ha-ha ndeso ya.

Sialnya saat sampai di pool ternyata tiket yang dipesan cuma satu kursi, sehingga saya terpaksa naik shuttle pukul 6. Yah terima saja lah, setidaknya dengan begitu saya jadi punya sedikit waktu untuk sarapan dan melahap beberapa cerita pengajar muda di buku Indonesia Mengajar.

Sesampai di bandara, saya sibuk bopong dus air mineral dan sekantong plastik roti untuk keperluan konsumsi peserta. Saat istirahat duduk-duduk di terminal 1A, ada bapak yang menegur, “Mas, pakai aja trolinya biar ga capek.” Saya ini polos soal bandara dan fasilitasnya, maka saya jawab, “Bayarnya berapa Pak?”. Rupanya itu pertanyaan yang kelewat awam karena pakai troli bandara itu gratis, maklum saya ini mahasiswa kantong pas-pasan, maka masalah seperti barusan wajib diusut perihal keuangannya -_-“.

Setelah sampai di titik kumpul, absen ini-itu, dijelasin itu-ini, saya bertugas untuk mengawal bis pertama yang datang. Jumlah orang yang ikut bis pertama ada 25 orang, pas dengan jumlah tempat duduk, tapi nyatanya ada satu tempat duduk kosong yang lalu tidak saya pakai karena lebih suka duduk lesehan di bawah sambil menghafal muka peserta. Celakanya, AC bis itu sedang sakit alias tidak berfungsi normal. Jadi bisa pembaca rumuskan sendiri bagaimana rasanya ada di bis tersebut jika membuat rumus dengan variabel AC rusak * jumlah orang di bis ukuran sedang * cuaca siang hari Jakarta.

Sesampai di wisma kekecewaan saya luntur karena ternyata kondisi wismanya tidak senaif yang saya bayangkan. Kenapa naïf? Karena tempat menginap lain adalah hotel, dan bayangan saya tentang wisma ya bakal ala kadarnya.

Selain capek karena baru menyentuh wisma pada pukul 15.00, saya dan beberapa teman lain dibuat pusing karena ternyata sopir bisnya tidak mau berangkat mengantarkan peserta ke Saung Angklung Udjo (SAU) dengan alasan masih capek dan ingin istirahat. Selain itu ia juga mengaku diberi pesan cuma untuk mengantar dari bandara sampai ke wisma, sudah itu saja di hari pertama. Saya dan teman-teman yang tak tahu detail urusan transportasi tentu saja bingung bukan main karena pukul 17.00 peserta sudah harus diberangkatkan lagi menuju SAU. Tambah lagi ada observer yang belum didata dan sampai di wisma sehingga harus menunggu mereka karena tak mungkin nantinya ditinggal saja di wisma dan tidak mengikuti acara di hari pertama.

Alhamdulillah semuanya bisa diatasi, dan pukul 17.30 semua peserta yang berjumlah lebih dari 60 diberangkatkan dari wisma memakai bis lain yang sudah datang, meski terpaksa harus melebihi jumlah kursi yang ada. Saya sendiri pergi ke SAU menggunakan sepeda motor, yang untung saja jalanan malam itu tidak macet sehingga bisa sampai SAU tidak kelewat telat.

Saung Angklung Udjo (poto : Jendry Naibaho)

Acara makan gaya Sunda di SAU :9 (poto : Jendry Naibaho)

Sesampai di SAU acara sudah berjalan beberapa bagian, para peserta pun sudah hadir meski belum semuanya. Acara yang pertama saya saksikan adalah sebuah game yang bertujuan untuk mencairkan suasana dan saling mengakrabkan peserta. Seperti yang sudah bisa diduga, acara tersebut meriah, heboh, dan cukup seru. Saya tak terlalu memperhatikan aturan mainnya sehingga tak bisa cerita lebih banyak dari ini.

Ini dia yang ditunggu-tunggu peserta, panitia, dan volunteer! Komedian berdiri kesukaan banyak orang, Adriandhy alias Ryan, yang tempo waktu juara StandUp Comedy di Kompas TV. Ini pertama kalinya saya melihat penampilan langsungnya, dan desas desus bahwa laki-laki satu ini lucu terjawab benar. Sedari dulu saya menyukai guyonan cerdas seperti yang dulu dipraktekkan oleh Warkop Prambors. Guyonan jenis ini lebih menarik daripada lawakan yang isinya cuma ngeledek fisik orang, kalau seperti itu sih saya juga bisa bung! Bisa dibilang bahwa komedian berdiri itu cerdas dan kreatif, salut!

Sajian acara berikutnya adalah penampilan dari Babendjo, grup arumba (alunan rumpun bambu) dari SAU. Yang belum tahu, arumba itu dasarnya terdiri dari gambang melodi, gambang pengiring (mainin kord), angklung (jumlahnya kalau ga salah ada 30), serta perkusi (bisa kendang, atau alat perkusi lainnya semisal bongo). Oh ya ada juga alat yang satu set dengan drum (yang bunyinya cess cess itu loh) yang berguna untuk mengatur tempo, maaf saya lupa namanya -_-“. Selain itu arumba bisa loh dikolaborasikan dengan marching band (dilakukan oleh grup Nawawi Ansamble, salah satu peserta IMB 2), atau gitar.

Menurut saya, penampilan Babendjo sudah bagus, namun masih kalah kreatif dari musiknya Nawawi Ansamble. Entah memang begitu atau hanya di penampilan mereka malam itu saja? Apapun itu penampilan mereka bisa dinikmati oleh peserta. Acara jadi semakin ramai karena vokalis Babendjo mengajak peserta dan panitia untuk turun panggung, ikut bergoyang mengiring musik arumba. Ada yang goyangnya ngaco, ada yang asoooy, ada juga yang malah mirip orang senam dan selebrasi penonton sepak bola, aha-ha-ha-ha.

Sayang disayang, para peserta dan panitia tidak diajak untuk ikut bermain angklung, padahal itulah yang saya nantikan. Maklum, sejak tahun 2010 saya aktif bermain angklung (sekarang sedang vakum karena fokus di skripsi), jadi melihat angklung tangan ini rasanya gatal dan ingin menggetarkan sesuatu (kan mainin angklung harus digetarin angklungnya).

Lelah, saya kembali menuju wisma. Dan masih belum boleh tidur karena harus menunggu observer, mengecek jumlah mereka, serta memastikan tidak ada yang tertinggal. Saya baru bisa tidur sekitar pukul 00.04, dan besok sudah harus bangun pukul 4 subuh karena wajib membangunkan observer pukul 5 subuh karena pukul 6.30 harus ikut olahraga di Sabuga bersama Pak Dahlan Iskan. Selamat tidur, sampai jumpa di hari kedua, hoooaaahm. (masih nyambung)

© Shesar_Andri | 15/2/2012 | sudut kecil kamar kost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s