IYCS Hari Kedua (Bagian I) : Senam Bareng Pak Dahlan Iskan

Selamat ulang tahun buat saya sendiri, he-he-he. Pas banget ya tulisan ini lahir bersamaan dengan ultah saya ke-22 (ya ampun tak terasa sudah dobel 2 usianya). Kali ini saya akan menceritakan pengalaman jadi volunteer IYCS di hari kedua.

Hari 1 (Hari Kedua)

Menurut saya pribadi, hari kedua ini adalah yang paling berkesan dan punya banyak cerita, mulai dari menyaksikan secara live perdana Pak Dahlan Iskan, Sandiaga Uno, dan Joko Widodo. Jadi tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian.

Senam Bareng Pak Dahlan Iskan

Satu tokoh senam, yang muda ikutan ^^ (poto : Jendry Naibaho)

Acara yang paling perdana di hari ini adalah (lagi-lagi) bangun jam 4 pagi. Alasannya adalah harus membangunkan para observer pukul 5 pagi, karena pukul 6.30 sudah harus ada di Sabuga, kini bernama Sorga (Sasana Olahraga Ganesha), yang mana di sana sudah menanti Pak Dahlan Iskan, mantan direktur Jawa Pos (koran favorit saya nih) yang kemudian naik pangkat jadi Direktur PLN, lalu kini naik pangkat lagi jadi Menteri BUMN.

Alhamdulillah para observer tak terlalu sulit untuk dibangukan, sehingga kami semua bisa sampai di Sabuga dengan tepat waktu. Saya semula berpikir begitu, namun ternyata sesampai di sana Pak Dahlan Iskan sudah selesai lari paginya, dan sudah bersiap untuk senam.

Saya sendiri karena cuma pakai sandal, alhasil lari pagi berbekal kaki berlas nyeker, ha-ha-ha. Kebetulan sekali sudah lama tidak jogging, sehingga saya ingin mengetes stamina. Jadilah saya lari dengan kecepatan seperti sedang ikut lomba. Barangkali terlihat seperti cari perhatian, tapi pada dasarnya saya ini suka olahraga, jadinya selalu saja semangatnya berlebih ^^

Eh ternyata di lapangan pasir sana, Pak Dahlan Iskan sudah mulai senam pagi, dan sudah banyak pula peserta IYCS yang bergabung. Saya dan banyak peserta lain yang terlambat cuma kebagian di baris belakang, karena tentu banyak pula yang ingin ada di baris depan, ada Pak Dahlan Iskan gitu loh.

Sekedar info kurang penting, senamnya sendiri cukup mudah dan menyenangkan, diiringi lagu berbahasa mandarin yang kalau diterjemahkan ke bahasa Jawa kira-kira seperti ini : “Kuwi ngomong apa to ya? Ora mudeng babar blas.”

Selesai senam, Pak Dahlan Iskan naik ke panggung yang disediakan dadakan, untuk bertanya jawab dengan para peserta IYCS. Yang saya kagumi adalah beliau menjawab banyak pertanyaan yang diajukan para peserta, hampir semua dijawab dengan memuaskan. Saya bilang hampir semua karena ada beberapa yang jawabannya menurut saya tidak memuaskan.

Beberapa hal yang ditanyakan antara lain mengenai kebijakan ekonomi (dijawab juga loh, padahal semestinya itu bidangnya Menteri Perekonomian) , soal kepemudaan, kepemimpinan. Ada peserta yang bilang bahwa saat ini Indonesia mengalami krisis kepemimpinan, itu satu hal yang saya tidak setuju. Bagi saya Indonesia saat ini punya banyak orang yang pantas jadi pemimpin, hanya saja susah untuk membuat mereka muncul ke permukaan karena terhalang oleh bermacam intrik politik.

Saya bukanlah orang yang terlalu memandang seseorang sebagai ‘dewa’, maka dari itu saya ingin mengkritisi beberapa hal dari Pak Dahlan Iskan.

1)      Ada satu momen ketika Pak Dahlan Iskan berbicara mengenai kekuatan ekonomi Indonesia yang bertumpu pada sektor riil dan penguatan industri lokal, tapi ironisnya Pak Dahlan Iskan sendiri memakai sepatu produksi luar negeri. Saya tahu persis ini adalah soal selera. Nah begitu juga yang dipikir banyak orang di negeri ini mengenai produk lokal. Mereka bukan tak mau memakai dan membeli, tapi kembali ke masalah selera dan kecocokan. Karena sudah kadung cocok dengan produk luar, ya mereka sampai saat ini jadi terbiasa beli dan pakai produk itu.

Buat Pak Dahlan Iskan, coba deh beli dan pakai sepatu kets lokal, misalnya Specs. Menurut saya itu tidak kalah nyaman kog, jika nanti sudah terbiasa.

2)      Pak Dahlan Iskan juga bilang bahwa pemimpin terbaik sebuah daerah adalah putra daerah itu sendiri. Nah, kalau begitu selepas jadi menteri apakah Bapak siap dan mau jika diberi amanat untuk memimpin Magetan? Saya sendiri sempat nyeletuk, “Pak Dahlan, kapan mau balik ke Magetan (maksudnya jadi pemimpin di sana)?” Tapi sayang karena beliau sudah dikerubuti banyak orang, pertanyaan itu tidak terjawab (barangkali juga tak terdengar)

Oh ya, saya juga menangkap bahwa beliau tidak cukup bahagia dengan ritme hidupnya sekarang ini. Karena saat itu ia menyinggung, apa bisa disebut bahagia kalau pagi-pagi saya sudah harus bangun lalu diskusi dengan anak-anak muda, lalu langsung harus balik ke Jakarta? Saya sendiri tak ingin dan tak berani bilang bahwa beliau tidak menikmati pekerjaan dan kesibukannya, hanya saja saya menebak beliau ingin sekali punya waktu luang untuk beristirahat, menikmati waktu senggang bersama keluarga yang entah sudah berapa lama tak beliau nikmati.

Selain itu ternyata beliau ini pendukung Liverpool! (toss dulu Pak, ha-ha-ha) Semoga tetap sehat, bahagia, dan selalu sukses ya Pak ^^

Menjemput Orang Cukup Penting

Selepas bugar pagi bersama Pak Dahlan Iskan, kami kembali ke wisma dan hanya punya waktu sejam lebih sedikit untuk sarapan pagi, mandi, dan lain-lain (misalnya guling-guling di kasur, nongkrong di kamar mandi, atau nelpon si ehem ehem). Mengapa buru-buru? Karena hari ini acara utamanya adalah mendengarkan speech dan diskusi bersama para tokoh sekelas : Anies Baswedan, Joko Widodo, Tri Mumpuni, Sandiaga Uno, dan Ridwan Kamil.

Sesampai di Gedung Merdeka (selama 3.5 tahun kuliah di Bandung, ini pertama kalinya saya berada di gedung super bersejarah ini), tak disangka saya diberi tugas untuk ikut menjemput artis yang akan tampil menghibur di acara hari ini. Orang yang pertama kali harus saya jemput adalah Jubing Kristianto. Horeeee sekali kawan! Sedari dua tahun belakangan saya selalu menikmati petikan gitar musisi satu ini. Satu kata untuk menggambarkannya, indah.

Cukup mengejutkan mengetahui fakta bahwa Mas Jubing datang ke Bandung naik shuttle, saya pikir dia akan datang naik pesawat. Yah secara dia itu cukup punya uang lah untuk menikmati jasa penerbangan (yang sayangnya tidak sebagus harapan kita).

Sesampai di pool yang dituju, saya langsung mencari sosok Mas Jubing. Yang belum tahu nih, Mas Jubing itu keturunan cina, kalau orang jawa biasa manggil cino (jangan artikan saya ini rasis ya, karena saya sendiri punya banyak temen cino dan tak pernah soal ras ada masalah dengan mereka), posturnya tinggi tegap, rambutnya hitam kelimis dan pendek. Kalau ketemu dia dijamin tak akan mengira dia itu seorang artis (memang tidak terkenal juga sih), tapi kalau anda seorang gitaris dan tidak kenal dia, ya mohon wawasannya diperluas lagi, he-he-he.

Gitaris akustik favorit saya nih ^^ (poto : muri.org)

Tak disangka, Mas Jubing malah duduk di bangku belakang, saat saya tawari dia cuma bilang, ah engga apa-apa, santai saja. Duh saya malah yang jadi ga enak. Mas Jubing orangnya sangat enak diajak ngobrol, rasanya seperti ngobrol dengan orang yang sudah kenal kelewat lama, padahal ketemunya baru sekian menit lalu ^^

Dia cerita banyak, mulai dari awal mula main musik, kuliahnya di bidang hukum, karirnya sebagai jurnalis di Tabloid Nova selama 13 tahun (mungkin inilah jalur yang mempermudah dia masuk ke dunia hiburan), pengalamannya tampil di luar negeri, pendapatnya mengenai industri musik Indonesia, juga sebuah wejangan bahwa mengikuti passion itu memang terbaik, tapi perhatikan juga sisi finansialnya J

Orang cukup penting kedua yang harus dijemput adalah Bakhes. Yang satu ini saya betul-betul tak tahu. Konon dia ini vokalis di drama musikal Laskar Pelangi, tapi karena sekalipun saya belum pernah nonton drama itu maka maafkanlah ketidaktahuan saya ini -_-“

Bakhes rupanya juga turun di pool yang sama. Saya sempat bertanya ke Mas Nando (rekan untuk soal jemput-menjemput), kenapa sih kog jemputnya ga barengan aja biar lebih hemat waktu dan biaya? Setelah dijawab saya baru mengerti ternyata urusan seperti ini harus personal, arrtinya si orang istimewa harus diperlakukan istimewa pula, jangan sampai ia merasa kurang atau malah tidak istimewa. Alhamdulillah, satu lagi ilmu baru nyanthol di kepala.

Setelah bertemu Bakhes saya langsung berpikir, “Alhamdulillah si Bakhes itu berjenggot, ada temannya nih saya.” Dan alhamdulillah pula kali ini saya langsung duduk di jok belakang, sehingga dia kebagian tempat yang semestinya (jok depan di samping pengemudi).

Bakhes, paling kiri, berjenggot (poto : FB-nya Bakhes)

Bakhes ini orangnya juga ramah. Dia banyak cerita soal karirnya sebagai voice over di acara Super Family di ANTV dan Open Mic di Metro TV. Satu kesan yang saya tangkap mengenai Bakhes adalah dia orang yang kalau ngomong dipikir dulu, jika ia tak tahu menahu perihal sesuatu dia tidak sok tahu. Singkatnya Bakhes ini hanya akan ngomong sebatas ilmu yang dia punya, salut (saya merasa harus belajar lebih jauh mengenai hal ini).

Di bagian selanjutnya saya akan menulis cerita tentang Ayu Okvitawanli, gadis 21 tahun yang sudah bergelar Master dari universitas di Belanda, gaya speech Pak Joko Widodo yang pantas buat diikutkan stand-up comedy, dan juga obrolan sekira 60 detik bersama Pak Anies Baswedan yang semoga bisa bermanfaat untuk kelangsungan projek jurnalistik saya, amin. Diantos nya, enteni ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s