Goris Mutaqim dan Zaini Alif ‘Ngadu’ Ide Sociopreneurship


NGADUide #6! Yeaaah, akhirnya acara bulanan ini datang lagi, kedua kalinya saya berpatisipasi. Acara yang berlangsung tiap hari Jumat minggu pertama ini diadakan lagi di Boemi Nini, Bandung. Buat yang belum tahu, NGADUide itu singkatan dari Ngobrol Asik Dunia Usaha. Acaranya sendiri gratis, jadi buat kaum kantong cekak seperti saya acara semacam ini jadi cukup haram untuk dilewatkan, apalagi dengan label mahasiswa manajemen bisnis menempel di diri saya, he-he-he.

NGADUide #6 kali ini mengangkat tema sociopreneur alias social entrepreneur, dengan kata lain sebuah wirausaha yang berorientasi pada perubahan kondisi sosial lingkungan sekitarnya, tentu dengan tetap memperhatikan aspek profit, soalnya kalau tak ada duit tentu kegiatan itu susah berjalan, kalaupun iya pasti bakal tertatih-tatih, sempoyongan.

Tokoh yang diundang untuk mengisi sesi talkshow malam ini adalah Kang Goris Mustaqim dari Asgar Muda, dan Kang Zaini Alif dari Komunitas HONG. Seperti biasa, sebelum sesi talkshow adalah jatah untuk sesi #TerasIde dan #UnjukIde. Sebagai gambaran, #TerasIde adalah ajang pameran kecil untuk para pengusaha yang ambil bagian pada acara ini. Yang punya usaha scrapbook¸ kopi luwak, sepatu, croissant (salah satu jenis roti, dari namanya sudah jelas roti ini bukan berasal dari Korea), dan ada juga yang memamerkan trailer filmnya.

Karena saya datang terlambat, alhasil saya tidak bisa berlama-lama menengok satu per satu booth yang ada. Dan jika pembaca menebak saya mencari yang booth memberi sampel gratisan, mohon maaf sampeyan benar. Saya sempat mencicipi secangkir mungil kopi luwak yang dihidangkan gratis karena saya sendiri penasaran dengan rasa kopi yang dilabeli paling mahal sedunia ini. Coba tebak? Rupanya buat saya rasanya biasa saja, tak ada beda dengan kopi sachet yang kadang saya minum! Katanya kalau hobi minum kopi barulah kita bisa merasai bedanya, entahlah. Saya juga diminta untuk menghirup aromanya – yang lagi-lagi gratis – dan saya cuma geleng-geleng, “Ga ada aromanya tuh…” kata saya datar. Tetehnya yang meladeni saya pasrah, menyerah. Maaf Teh, sebetulnya saya sedikit pilek.

Para peserta #TerasIde mempersiapkan boothnya (poto : @NGADUide)

Croissant gratis dari Rumah Croissant, hmmm :9 (poto : @NGADUide)

Selepas #TerasIde, para pengunjung dan peserta digiring ke ruang utama untuk mengikuti sesi #UnjukIde. Nah kali ini para peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan singkat usaha yang mereka jalankan. Eeeeh ternyata si kopi luwak tadi unjuk ide juga loooh. Katanya kopi luwak bisa bermanfaat untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan, juga mengharmoniskan hubungan suami istri (kog saya jadi ingat iklan ‘pring cagak radio…’ ya?). Ada juga pengusaha properti yang presentasi dan langsung disambut pertanyaan seorang pegawai bank, “Bisa ga bantuin jual rumah yang dilelang bank saya?” dan dijawab mantap, “Bisa!” wah ini dia yang menarik dari acara NGADUide. Tak cuma mempertemukan business to consumer (B2C) tapi juga business to business (B2B), salut deh buat acara satu ini. [^_^]d

Dan akhirnya masuk juga ke sesi yang ditunggu-tunggu, talkshow bersama Kang Goris dari Asgar Muda dan Kang Zaini dari Komunitas HONG. Dua orang ini sebelumnya sudah pernah saya temui saat saya menjadi volunteer IYCS, awal bulan Februari kemarin. Karena MC utama berhalangan hadir, talkshow kali ini dipandu oleh Hani dan Kang Ben Wirawan (pemilik Maha Nagari). Sekedar selingan, entah sadar atau tidak, Kang Ben itu menurut saya berbakat jadi MC loh. Caranya membaur dengan suasana, dan berbincang dengan audiens serta pembicara tergolong luwes. Ayo Kang Ben, tingkatkan terus prestasimu, he-he-he

Kang Zaini yang ada di sudut merah diberi kesempatan untuk bercerita tentang Komunitas HONG, sebuah komunitas yang punya tujuan untuk melestarikan permainan tradisional dan nilai-nilai di dalamnya. Menarik mengetahui bahwa di tanah Sunda ada sekira 250 jenis permainan, di Jawa ada 214, dan total di Indonesia ada tak kurang dari 890 permainan tradisional. Saya yang masuk generasi 90-an dan seorang jawa tulen hanya pernah mencicipi beberapa permainan tradisional antara lain : benthik, singkongan, jumpritan, gethek-gethekan, tulup, jamuran, cublak-cublak suweng, betengan, dan satu permainan adu ranting daun pete yang namanya saya tak tahu sampai sekarang. Itu baru 9, kemana yang 205 jenis lainnya?

Banyak sekali manfaat dari permainan tradisional yang sudah diteliti oleh Kang Zaini, seperti untuk melatih koordinasi otak, kepercayaan diri, jiwa kepemimpinan, kepatuhan, kedisiplinan, kerjasama, dan masih sangat banyak lagi. Soal kepatuhan saya berikan contohnya, saat kita bermain petak umpet atau jumpritan, pernahkah pembaca menolak saat diminta menghitung sampai 10? Pernahkah mencoba bermain curang? Kalaupun pernah pasti malah diomeli teman-teman, ya kan? Atau permainan betengan yang menuntut kerjasama antar pemain satu tim demi menjaga beteng dari jajahan lawan. Jujur, saya kini menjadi tertarik untuk bermain lagi, menjadi anak kecil lagi.

Kang Zaini sedang bercerita tentang Komunitas Hong (poto : NGADUide)

Kang Zaini juga sukses mengajak warga sekitar untuk ikut aktif di komunitasnya, setelah meyakinkan mereka bahwa permainan tradisional itu banyak sekali manfaatnya. Dan untuk itu Kang Zaini butuh waktu selama 3 tahun! Cecep, salah satu ‘duta bicara’ di Komunitas HONG, dulunya cuma seorang penjual teh botol, dan sekarang ini cara bicaranya dan kepercayaan dirinya sudah sekelas motivator yang wira-wiri mengisi seminar di sana-sini. Saya tak asal ngomong karena saya pernah menyaksikan sendiri Cecep bicara di depan publik.

Setelah berhasil meyakinkan warga sekitarnya, dan semakin ramainya Komunitas HONG dari wisatawan, mulailah Kang Zaini menjual tiket masuk. Bukan apa-apa, niatnya adalah untuk ikut memberi pemasukan bagi warga di sekitarnya, ikut mengurangi angka pengangguran, ikut juga mengurangi angka orang yang berpotensi melakukan hal kurang bermanfaat karena saking luangnya waktu mereka. Pertama kalinya, Kang Zaini menjual tiket seharga Rp 25,000/orang, tapi rupanya tak laku. Dan kemudian baru laku setelah dijual seharga Rp 50,000! Nah lho, unik kan pricing­-nya?

Nah selesai bercerita panjang yang menarik, lebar yang inspiratif, kini giliran Kang Goris dari sudut biru untuk menceritakan Asgar Muda-nya. Berawal dari keprihatinan Kang Goris melihat Garut – daerah asalnya – yang masih belum tergali maksimal potensinya, padahal ia menilai bahwa Garut punya apa saja. Gampangnya kalau diibaratkan manusia, Garut itu dari ujung rambut sampai ujung kuku jempol kaki punya nilai ekonomi, dan sayangnya hal itu belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Kang Goris dengan idealisme ingin memajukan Garut. Jika Soekarno berorasi, “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia!” maka Goris juga punya seruan sendiri, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kubangun 10 daerah!” dan “Membangun bangsa dari desa.” Kalau gubernur Jateng saat ini bilangnya, “Bali desa mbangun desa” katanya sih kaya gitu, katanya…

Lihat karpet di bawah? Itulah kenapa disebut ‘sudut biru’ (poto : @NGADUide)

Filosofi menarik dijabarkan Kang Goris mengenai lambang Asgar Muda, domba Garut. Domba Garut dipilih karena berdasar penelitian di Inggris, domba tersebut adalah spesies domba terbaik. Sayangnya Kang Goris tidak menjelaskan terbaik dari segi apanya, indikatornya apa, yah tapi mari ikut berbangga saja bahwa domba lokal tak kalah kualitas dari domba interlokal. Jika dicermati, pada lambang Asgar Muda, mulut dombanya tidak ikut digambar, kata Kang Goris ini karena Asgar Muda ingin lebih banyak aksi dan hanya sedikit cuap-cuap. Filosofi yang menarik, saya tepuk tangan.

Kang Goris komitmen dengan keyakinannya bahwa masa depan negeri ini ada di bahu daerah, untuk itulah ia berjuang keras membangun daerahnya, Garut, dan menginspirasi pemuda lain untuk mengikuti jejaknya, agar Indonesia tidak lagi Jakartasentris. Ya, saya sendiri sependapat. Saya ingin orang nanti mengenal Bondowoso di Jawa Timur, Sangatta di Kalimantan Timur, Palabuhan Ratu di Jawa Barat, Pati di Jawa Tengah, Rantau di Aceh, atau Fak-Fak di Papua. Sehingga orang tak lagi melihat Jakarta sebagai satu-satunya labuhan mimpi, sehingga orang Betawi bisa lebih menikmati daerah tinggalan leluhurnya.

Lambang Asgar Muda (poto : padmanegara.wordpress.com)

Asgar Muda memiliki kegiatan-kegiatan seperti inkunbator wirausaha yang membantu pemuda Garut yang sedang menggeluti dunia usaha, membantu mereka pemasaran, membantu mencarikan investor. Ada pula program yang memberikan bimbingan belajar gratis bagi pelajar SMA di Garut yang bersiap menghadapi SNMPTN, yang punya mimpi untuk menembus perguruan tinggi pilihan mereka. Asgar Muda juga membuatkan usaha di bidang microfinance dengan mendirikan BMT (baitul mal wat tamwil), yang mana sekarang ini dampak sosialnya sudah terasa, dimana jika dulu sesama warga saling menjatuhkan tapi kini saling bekerjasama sehingga rentenir pun mundur teratur.

Pesan dari Kang Goris yang saya tangkap, saat membuat suatu program lakukan secara simpel (tidak ribet, mudah dipahami semua orang), bertahap, dan tentu saja dengan konsisten. Kata saya, Roma tidak dibangun dalam semalam Bung! Selain itu, jangan berpikir dulu tentang profit yang bisa didapat, tapi pikirkan bagaimana agar program tersebut bisa memberikan sebanyak mungkin benefit bagi stakeholder (warga sekitar, pemerintah, lingkungan).

Sampai jumpa lagi di acara NGADUide selanjutnya, insya Allah 6 April 2012 ^^

©Shesar_Andri, 3 Maret 2012

Siang hari yang cukup adem di Bandung

Poto-poto heula sebelum bubaran ^^ (poto : NGADUide)

2 responses »

  1. Ivan says:

    YOOOOOOOW…..

    Makasih bro reportasenya!!!
    Keren tulisannya🙂
    Izin di share yak!
    bulan depan #NGADUide7 dateng lagi yaa…

    **speaking of gratisan, dapet JnC cookies nya kah? Kemaren dibagi2 gratis untuk semua orang :)**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s