Bulutangkis, Berprestasi Tapi Kurang Apresiasi

Sebagai penggemar olahraga, saya merasa cukup miris saat membaca berita di portal Yahoo! Olahraga pada Minggu (25/3) kemarin. Berita yang berisi tentang keluhan Taufik Hidayat pada media di Indonesia dan pemerintah  yang lebih memperhatikan sepakbola dibanding bulutangkis. Padahal fakta sejarah membuktikan bahwa berkat bulutangkislah nama bangsa ini bisa harum di dunia internasional. Satu-satunya penyumbang medali emas di ajang olimpiade adalah cabang bulutangkis, yang mulai dirintis oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma pada olimpiade Barcelona 1992 dan terus dipertahankan hingga olimpiade 2008 oleh pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan.

Benar apa yang dikatakan oleh Taufik Hidayat, media dan pemerintah sekarang ini memang kurang memperhatikan bulutangkis jika dibandingkan dengan sepakbola. Lihat saja euforia dan gaung saat pasangan Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad menjadi juara nomor ganda campuran di gelaran All England 2012 Maret ini. Sebuah gelar yang sudah lama dinanti oleh nomor ini sejak tahun 1976 yang terakhir kali disumbangkan oleh Imelda Wiguna/Christian Hadinata, dan gelar buka puasa bagi Indonesia sejak terakhir kali memenangkan ajang ini pada tahun 2003 oleh pasangan ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto. Namun gaung kemenangan dan euforianya malah kalah jauh dibandingkan saat timnas sepakbola Indonesia berhasil masuk ke final Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011. Perlu diperhatikan, euforia sebesar itu baru berupa keberhasilan masuk ke final, belum jika berhasil menggondol trofi.

Sebagai penggemar olahraga, tanpa berpihak pada salah satu olahraga, kondisi tersebut memang terasa memprihatinkan. Bagaimana tidak? Prestasi di ajang All England sama sekali tidak bisa dibilang remeh. Jika dianalogikan di cabang tenis, levelnya mungkin setara dengan Wimbledon atau seri grand slam lainnya, jika di cabang sepakbola mungkin sejajar dengan Liga Champions Eropa. Alih-alih menggembar-gemborkan prestasi di All England, saya menangkap bahwa media lebih tertarik pada gonjang-ganjing yang terjadi di PSSI. Secara pribadi saya merasa kasihan pada Butet dan Towi yang kurang diapresiasi oleh media.

Prestasi kelas dunia yang kurang diapresiasi (poto : olahraga.kompasiana.com)

Bicara tentang kemeriahan bulutangkis, memang belum sepenuhnya tenggelam dari negeri ini. Menyaksikan final beregu putra antara Indonesia vs Malaysia pada ajang SEA Games 2011 yang lalu, bisa kita rasakan masih ada banyak masyarakat yang antusias dengan bulutangkis. Gegap gempita itu terasa oleh saya, meskipun hanya melalui layar televisi. Tentu mereka yang saat itu menyaksikan langsung di Istora Senayan merasakan gegap gempita yang jauh melebihi yang saya rasakan. Apalagi lawan di final saat itu adalah Malaysia, musuh bebuyutan sejak puluhan tahun lalu. Di akhir cerita Indonesia menang, Istora bergemuruh.

Namun jika menengok ke belakang, suasana final SEA Games tahun lalu masih kalah jika dibandingkan dengan kemeriahan final Piala Uber tahun 1994. Saya saat itu masih berusia 4 tahun, tapi saya masih bisa ingat jelas antusiasme di kampung saya. Kami sekampung beramai-ramai menonton lewat televisi di rumah masing-masing, meski begitu keramaiannya tak kalah dengan acara nonton bareng karena jarak antar rumah yang sangat berdekatan. Belakangan, saat saya ingin mengingat kembali momen itu dan mencari video pertandingan penentuan di final itu, antara Mia Audina, si bocah ajaib yang saat itu baru berusia 14 tahun, vs Zhang Ning, yang saat itu juga masih muda, baru 18 tahun, saya baru menyadari bahwa Istora saat itu sangatlah meriah. Penonton memenuhi bangku, bahkan membludak sampai ke pinggir lapangan, mepet dengan banner iklan yang dipasang, sepanjang pertandingan terus meneriakkan, “Mia… Mia… Mia”. Suasana yang barangkali membuat merinding pihak lawan. Dalam video itu juga bisa dilihat ada cukup banyak jurnalis yang meliput, menunggu momen untuk dijepret oleh kamera dari pinggir lapangan. Sungguh suasana yang cukup susah untuk diulang kembali saat ini.

Saya bilang susah karena seperti yang dinyatakan oleh Taufik, saat ini media lebih memperhatikan sepakbola dibandingkan bulutangkis. Bisa dimaklumi karena media mendapat pemasukan salah satunya dengan menjual berita, dan selayaknya orang jualan, tentu lebih memilih yang pasarnya lebih luas, dan sepakbola memang memiliki pasar yang lebih luas di negeri ini. Boleh suka boleh tidak itu lah kenyataan yang harus dihadapi. Meskipun prestasi yang dihasilkan sangat sedikit jika dibandingkan dengan bulutangkis, meski saat ini sedang ada dalam masa yang kelewat kacau, meski suporternya masih  belum dewasa dan suka bikin rusuh, meski pernah terbukti mantan ketua umumnya korup, meski belum pernah menghasilkan pemain kelas dunia sepakbola tetaplah sepakbola, olahraga yang lebih sering disorot oleh masyarakat dan jualan yang gurih bagi media. Tapi haruskah seperti itu? Haruskah media hanya mengakomodasi permintaan pasar?

Media, selain berfungsi memenuhi permintaan pasar, dalam artian menyajikan informasi yang diperlukan dan diminati oleh masyarakat, juga bisa berfungsi sebagai pembentuk opini, tren atau dalam hal ini pembentuk euforia. Pada masa sekarang, media yang memiliki kekuatan untuk membentuk opini tak lagi didominasi oleh media tradisional seperti televisi, radio, majalah, dan koran. Media baru semacam Twitter, Facebook, portal berita, Youtube, dan bahkan forum seperti Kaskus pun memiliki kekuatan. Lihat saja bagaimana orang-orang biasa seperti Shinta-Jojo dan Norman Kamaru bisa mencuat ke permukaan setelah mengunggah video di Youtube, lalu ramai dibicarakan di Kaskus, dan pada akhirnya menjadi sering diberitakan di televisi. Efeknya, mereka sempat meraih booming kepopuleran dalam waktu yang singkat. Bahkan media pun punya kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan seperti yang terjadi pada kasus Watergate yang menimpa Richard Nixon.

Jika saat ini bulutangkis tidak lagi sepopuler dulu, media punya andil di balik itu. Fokus media yang lebih terarah ke sepakbola menyebabkan pemberitaan mengenai bulutangkis menjadi berkurang. Berita mengenai keberhasilan menjuarai turnamen bergengsi seperti All England jarang mengisi headline di koran, jarang menjadi sajian utama di televisi. Tayangan pertandingan bulutangkis di televisi swasta (non berbayar) tak lagi sebanyak dulu. Contohnya adalah tidak ditayangkannya All England 2012 lalu, sehingga tak bisa menyaksikan momen kemenangan Butet/Towi di ajang itu.

Apakah media beralasan pada menurunnya prestasi Indonesia di cabang ini? Penurunan memang terjadi, dan salah satu penyebabnya adalah kurangnya regenerasi. Lihat saja bagaimana sampai saat ini belum ada pemain muda yang mampu menyaingi Taufik Hidayat. Padahal Taufik sendiri berhasil masuk ke kancah profesional pada usia 17 tahun, menggantikan masa jaya Haryanto Arbi. Pemain semacam Simon Santoso, maupun Hayom Rumbaka levelnya belum bisa disejajarkan dengan Taufik, dan dari level yang lebih junior pun masih belum muncul bakat yang istimewa. Salah satu yang dapat mendorong percepatan regenerasi adalah kepopuleran suatu cabang olahraga. Jika media membangkitkan kembali bulutangkis, dengan cara memberi porsi lebih untuk pemberitaan, penayangan pertandingan, tentu akan ada lebih banyak anak-anak yang tertarik untuk menggeluti olahraga tepok bulu ini.

Namun kondisi saat ini, media lebih sering memberitakan segala hal tentang sepakbola. Tentu hal ini mempengaruhi masyarakat, mereka kemudian menjadi berpikir tentang sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Olahraga lain, karena jarang dibahas oleh media, menjadi anak tiri di negeri sendiri, meskipun punya banyak prestasi. Salah satu yang controversial adalah saat Budiarto Shambazy mengomentari keberhasilan timnas sepakbola Indonesia masuk ke final SEA Games 2011, inti pernyataannya saat itu adalah,

“Tidak mendapat emas di cabang lain tidak apa-apa, asal dapat emas di sepakbola.”

Sungguh, jika saya atlet, perasaan saya pasti bakal campur aduk : sedih, marah, kecewa. Kerja keras selama masa latihan dan bertanding tidak dihargai, sama sekali.

Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya, saya percaya bahwa setiap bangsa dianugerahi kelebihan pada setidaknya satu cabang olahraga. Brazil, Italia, Belanda, Jerman, dan Argentina dengan sepakbola, Rusia dengan petenis putrinya, Amerika dengan basket dan bisbol, India dengan kriket, Jepang dengan bisbol dan karate, Korea dengan taekwondo, atau China dengan bulutangkis. Indonesia? Meskipun sedang malam masa krisis prestasi, Indonesia tak pernah berhenti memproduksi bakat istimewa dalam bulutangkis, setidaknya di level junior. Dibuktikan dengan terjadinya final sesama pemain Indonesia pada nomor ganda campuran di BWF Junior World Championship, antara Gloria Emanulle Widjaja/Alfian Eko Prasetya vs Tiara Rosalia Nuraidah/Ronald Alexander. Jadi, jika media mau membantu membangkitkan bulutangkis, bukan tak mungkin kejayaan yang sekarang dipegang China bisa kita rebut kembali, tak ada yang tak mungkin.

One response »

  1. sevenofcloud says:

    wah baca tulisan ini saya jadi tersadar kalau memang Bulu Tangkis sekarang agak tersingkirkan, khususnya sisi apresiasi pemerintah, media dan masyarakat (untungnya PT. D**rum masih konsisten mengembangkan atlet2 bulu tangkis Indonesia).

    Saya sendiri adalah penggemar berat bulu tangkis Indonesia. Dibandingkan dengan sepak bola, saya lebih milih bulu tangkis, krn ada nilai historis dan makna buat hidup saya, Saya berpendapat, negara kita bukannya tidak berapresiasi, tetapi masih kurang dalam pemerataan apresiasinya, disini mah bisa dibilang ajimumpung, lagi hot2nya bola, terusss aja diomonginnya bola, nanti kalo lagi hot2nya basket, baskett terus yg dibahas.
    jadinya yg lain terseingkir, alangkah baiknya apresiasi itu merata di semua cabang.

    well, shesar, this post is really great! I appreciate it! ^^

    regards,
    Nisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s