Namaku Kermit, dan Aku Benci Walt Disney

Namaku Kermit, dan aku bukan seekor anjing. Dewey, dia bukan seekor kucing sebagaimana mungkin kalian mengenalnya melainkan seekor anjing, berbulu pendek warna coklat dan putih, adalah sahabatku. Perkenalkan namaku Kermit, bersahabat dengan seekor anjing bernama Dewey, dan aku adalah seekor katak. Hijau sembilan puluh delapan persen.

Namaku Kermit

Majikan kami, seorang lelaki kere dengan janggut dan kumis yang untung saja terurus rapi, punya hobi yang tak terlalu menghasilkan kekayaan, menggambar. Walter Disney, begitu orang tuanya memberi nama pada majikan kami itu, sangat doyan menggambar binatang, utamanya kuda. Karena tak punya kuda, jangankan kuda makanan untuk Dewey saja dia kepayahan membelinya, ia terpaksa harus mampir ke peternakan Rodney, yang jauhnya 3 jam perjalanan untuk katak macam aku. Harus aku dan Dewey akui, coretan pensil majikan kami itu sangat bagus, kuda Rodney serasa hidup dalam versi mini dua dimensi.

Pagi tadi Tuan Disney jejingkrakan di rumah, bukan hal yang biasa sehingga aku dan Dewey tahu ada sesuatu yang terjadi. Jika bukan karena ada berita yang kelewat menggembirakan, ya mungkin memang majikan kami itu warasnya sudah jadi menipis gara-gara digerogoti kemiskinan. Dan untung saja yang datang adalah berita baik, aku dan Dewey akan jadi model gambarnya! Untuk sebuah buku karya seorang dokter hewan, namanya James Parrot atau siapalah itu. Untuk sebuah penerbit bernama St. Marlin atau apalah itu.

Aku dan Dewey digiring ke pekarangan luar. Kami disuruh diam mematung dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Mulanya aku nangkring di atas kepala Dewey, tapi Tuan Disney kemudian menyuruhku turun, “ Kau duduk anteng  saja di rerumputan Kermit. Di atas sana kau malah terlihat seperti topi yang aneh.” begitu kata Tuan, dan aku terpaksa menurut.

Sudah hampir sejam tiga belas menit aku dan Dewey mematung anteng saat sekonyong-konyong ada seekor tikus mondar-mandir di depan kami. Berkali-kali tikus itu mengganggu Tuan Disney, sampai ia jengkel bukan main. Dikejarnya tikus itu sampai ke dalam rumah.  Lama, sampai senja sudah hilang pun Tuan masih belum keluar rumah. Nasibku dan Dewey sebagai model kover buku? Entahlah…

Beberapa hari kemudian aku sakit, sakit hati. Tuan Disney malah jatuh hati dengan si tikus. Tak bosan sama sekali Tuan Disney berakrab-akrab dan menggambar tikus itu. Rupanya tak hanya aku, Dewey pun cemburu. Kami memutuskan untuk minggat dari sana, merantau ke kota, coba-coba mengadu nasib.

Aku kemudian berpisah dengan Dewey, ia diambil seorang pelukis penyayang binatang namanya Lesley Homes atau siapalah itu. Aku kemudian menghentikan pengaduan nasibku di sebuah tempat bernama Sesame Street.

Namaku Kermit, aku seekor kodok, bersahabat dengan anjing, dan aku benci pria bernama Walter Disney.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s