Argo Parahyangan, Si Kereta Wahana Wisata

Wahana wisata, begitu komentar teman saya pada perjalanan perdananya dari Jakarta-Bandung memakai jasa kereta api Argo Parahyangan. Sejak berangkat dari Gambir hingga sampai ke Stasiun Kota Bandung teman saya itu memang tak terpejam barang semenitpun. Ia asyik menikmati karya Tuhan yang terlukis indah selama 3.5 jam perjalanan.

Ya, menaiki kereta Argo Parahyangan memang menyajikan sensasi berbeda dibanding ketika menempuh perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya dengan memakai moda transportasi lain. Sepanjang perjalanan, tepatnya sekitar satu jam selepas kereta berangkat dari Gambir, kita akan disuguhi pemandangan alam yang teramat elok. Rimbun pepohonan di hutan Gunung Padalarang, sungai yang membelahnya, anak-anak kecil yang terkadang sedang nampak asyik bermain air di sungai, lembah dan bukit yang bergantian menyapa, penduduk desa yang sedang menggarap sawah dan kebun, memanennya, dan yang paling menakjubkan adalah sensasi saat melewati jurang! Pada momen tersebut saya sendiri merasa takjub dengan keindahan alam yang tersaji beberapa puluh meter di bawah jendela kereta. Kursi kereta kerap saya tinggal agar bisa melihat pemandangan elok tersebut dengan lebih jelas.

Rasa bosan dengan pemandangan kota yang itu-itu saja membuat apa yang tersaji dalam perjalanan Argo Parahyangan terasa istimewa. Memandangi Rumah-rumah pedesaan yang sederhana, wajah-wajah ceria anak kampung saat bermain, bapak-bapak yang bersarung tapi telanjang dada, ibu-ibu berdaster kusam, dan semua yang serba ‘tidak kota’ justru membuat hati terasa adem, penat pun menguap.

Sensasi menakjubkan saat melewati jurang (poto : indravaganza.wordpress.com)

Sungguh berbeda dengan saat melewati tol Cipularang, yang meski terkadang bisa menyaksikan pemandangan alam yang elok itu tapi kualitas dan intensitasnya masih kalah dibandingkan perjalanan dengan kereta Argo Parahyangan. Malah lebih sering dicekam ngeri kalau supirnya cukup sembarangan, atau dongkol karena terjebak macet (kemarin bahkan ada laporan warga yang menyebutkan terjadi kemacetan dari KM 65 sampai KM 12!

Tak cuma saya yang menikmati perjalanan kereta Argo Parahyangan. Beberapa bule tipe backpacker (memakai tas carrier besar dan naik di kelas bisnis) pun merasakan hal serupa. Tertangkap oleh mata saya, beberapa kali mereka terpaku menatap jendela ketika sekelebat pemandangan yang amat elok tersaji. Bahkan ada yang sampai senyum-senyum sendiri!

Yang menarik lainnya saat menaiki Argo Parahyangan adalah sensasi yang kita rasakan pada saat satu jam perjalanan selepas dari atau satu jam menuju Stasiun Kota Bandung, apa itu? Siang yang tiba-tiba saja berganti malam!

Pada saat memasuki terowongan yang panjang saya yang sebelumnya belum pernah naik Argo Parahyangan tersentak kaget karena suasana luar yang sebelumnya terang benderang tanpa aba-aba saja langsung berubah gelap gulita! Rasanya saat itu sedang ada di malam hari! Menariknya lagi, suasana itu terasa selama satu menit lebih, sehingga bisa dibilang, “Sensasinya dapet!”

Dengan semua kelebihan tersebut, menurut saya Argo Parahyangan sangat layak untuk ‘dijual’ ke publik, utamanya para wisatawan. Pihak KAI bisa memasarkan kereta Argo Parahyangan dengan memposisikannya sebagai moda transportasi yang nyaman dengan bonus pemandangan alam yang teramat elok, selain tentu saja bebas macet dan tepat waktu. Saya punya tagline sendiri untuk ‘menjual’ Argo Parahyangan kepada publik,

You Better Not Sleep


Serius, anda sebaiknya tidak tidur kalau tak ingin melewatkan pemandangan ini (poto : flickr.com)

Pihak KAI bisa semakin menguatkannya dengan menambah fakta bahwa tiap akhir pekan jalan tol Cipularang hampir selalu terjadi macet yang bisa mencapai berkilo-kilometer panjangnya, yang mana tentu saja sudah bosan dirasakan terutama oleh masyarakat Jakarta. Apalagi turun dari kereta para penumpang sudah berada di pusat kota Bandung dan Jakarta. Sejatinya semakin banyak value yang bisa ditawarkan kepada publik.

Namun tentu saja ada hal yang harus dilakukan pihak KAI untuk bisa menarik minat publik, yaitu peningkatan kualitas. Menurut saya yang paling krusial adalah peremajaan kaca jendela karena kondisinya sudah baret sana sini dan buram. Hal ini tentunya bisa mengurangi kualitas pemandangan yang tersaji karena kalau diibaratkan tivi itu antenanya kurang pas sehingga banyak semutnya, gambarnya ga cling, he-he-he.

Jadi, mari naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut, ke Bandung-Surabaya, eh Jakarta maksudnya ^_^d

© Shesar Andriawan

Bandung, 1 Juli 2012, beberapa jam jelang final EURO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s