Surat Terbuka Untuk Pak BeYe dari Gamer yang Bukan Antisosial

Salam sejahtera buat Pak Beye dari saya yang masih mahasiswa. Jumat (13/7) kemarin saya membaca sebuah tulisan di sebuah portal berita online tentang pidato Bapak di sebuah acara yang menyinggung tentang generasi video game. Pada acara pembekalan calon perwira remaja (CAPAJA) Akademi TNI dan Polri tahun 2012 di Akademi Militer, Magelang, Rabu (11/7) malam tersebut Bapak berpesan,

Jangan kalian menjadi generasi video games. Generasi video games pada umumnya tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Hal itu berbahaya bila terjadi di kalangan perwira. Seorang perwira dituntut untuk selalu waspada dengan kenyataan sosial. Hal itu diperlukan untuk membangun kesadaran dan kebersamaan,”

Saya tercengang mengetahui Pak Beye berbicara seperti itu. Asumsi saya bukan Bapak sendiri yang menulis pidato tersebut, tapi pasti Bapak sudah membacanya terlebih dahulu bukan? Jika iya artinya Bapak sudah

Berbicara seperti, Bapak seakan-akan menilai bahwa para gamer itu antisosial yang tidak peduli pada sekelilingnya. Memang ada benarnya, beberapa gamer yang kebablasan dalam bermain video game memang kerap menjadi individu yang cuek karena terlalu asyik dengan game yang dimainkannya, tapi itu hanya segelintir orang saja yang seperti itu Pak Beye.

Saya ingat pertama kali punya video game di tahun 1996, saat itu saya masih berusia 6 tahun, baru kelas 1 SD. Di kampung saya waktu itu hanya sedikit anak yang punya video game, sehingga konsol SEGA Genesis saya waktu itu tergolong barang idaman anak-anak sekampung. Orang tua saya membelikannya dengan alasan agar saya ga kebablasan kalau sudah keluyuran, agar sesekali diam anteng di rumah saja. Ya, sesekali. Orang tua saya hanya membolehkan saya untuk bermain video game di hari Sabtu dan Minggu.

Senin-Jumat saya dan teman-teman bermain di sekitar kampung, mulai dari kelereng, layangan, main bola, badminton, singkongan, sampai cublak-cublak suweng. Sabtu-Minggu teman-teman berkumpul di rumah saya untuk beramai-ramai bermain SEGA. Joystick yang saya punya cuma dua, tapi teman-teman yang datang bisa sampai sepuluh orang, Meski tidak ikut bermain, bagi kami menonton teman berrmain dan berhasil menamatkan satu level saja sudah asyik.

Ilustrasi main game rame-rame sama temen (poto : webmd.boots.com)

Jika karakter dalam game yang dimainkan mati, maka kami akan menyerahkannya ke teman yang lain. Pak Beye lihatlah, pada usia SD itu kami sudah belajar legawa dan berbagi. Kali lain saat kami menghadapi level yang kelewat sulit kadang kami berdiskusi strategi dan taktik apa yang bisa digunakan untuk melewati level tersebut. Sekali lagi lihatlah Pak Beye, di usia semuda itu kami sudah belajar berdiskusi, mengungkapkan ide, dan memikirkan strategi dan taktik. Bahkan terkadang kami membantu teman dari kampung lain yang kesulitan melewati level tadi. Lihat lagi Pak Beye, tidak semua gamer antisosial.

Video game juga membantu dalam belajar bahasa, umumnya Inggris dan Jepang. Saya sendiri belajar bahasa Inggris pasif (membaca dan menulis) dari bermain game Harvest Moon, Suikoden, dan Final Fantasy yang banyak sekali menampilkan teks dialog yang mau ga mau kudu dibaca agar main game-nya lancar. Dari situlah saya mulai bisa berbahasa Inggris walaupun sekedar pasif saja.

Gam dengan banyak dialog bisa melatih kemampuan bahasa asing (poto : diehardgamefan.com)

Dan tahukah Bapak bahwa di USA sana game bertema militer juga digunakan sebagai bagian dari proses perekrutan, pelatihan menembak, dan juga menekan stres akibat tekanan saat ada di medan perang? Ada juga game yang digunakan untuk melatih berpikir strategis dalam peperangan. Selain itu videogame juga sudah jamak dijadikan simulasi penerbangan pesawat, dan latihan mengemudi untuk mengenali sirkuit oleh para pebalap F1. Radiasi dari layar televisi yang digunakan bermain video game memang berakibat negatif untuk mata, tapi banyak juga game yang tanpa disadari melatih koordinasi dan reflek mata, salah satunya game bertema tembak menembak.

Game bertema perang sebagai media latihan militer USA (poto : majalahcomputer.blogspot.com)

Industri video game di Indonesia sendiri sudah mulai tumbuh dan dilirik perusahaan-perusahaan Jepang, USA, dan Eropa dalam 5 tahunan terakhir. Bahkan mulai tahun 2009 Sony sudah memasarkan produk video game-nya seperti PS3 dan PSP secara resmi di Indonesia. Artinya pasar Indonesia yang sampai sekarang masih dibanjiri barang bajakan sudah dilirik oleh Sony. Barang bajakan masih menjamur saja sudah dilirik, bagaimana kalau nanti barang asli sudah jadi mayoritas? Belum lagi kalau developer game Indonesia yang sekarang ini masih usia balita sudah semakin matang dan makin dikenal luas game-game yang dibuatnya, berapa banyak perekonomian yang tumbuh karena industri video game? Kira-kira berapa banyak PDB yang bisa disumbangkan? Saya bukan ahli ekonomi, jadi mungkin staf ahli Pak Beye bisa menghitungkannya.

Singkatnya, jika mau melihat sisi lain dari video game, Pak Beye bisa melihat banyak sisi positif video game, mulai dari belajar menerima kekalahan, belajar bahasa asing, simulasi latihan militer, latihan menerbangkan pesawat, sampai ke kontribusi ekonominya. Dengan begitu Pak Beye akan melihat video game dengan perspektif yang lain, tidak sekedar sebuah generasi yang tidak peduli pada lingkungan alias antisosial. Saya tidak menampik hal tersebut, tapi sekalin lagi saya tekankan bahwa tidak banyak gamer seperti itu, hanya mereka yang kebablasan yang menjadi individu seperti itu. Bahkan tidak cuma bermain video game, kebablasan dalam belajar, bermusik, bahkan bekerja juga bisa membuat seseorang jadi antisosial. Semua yang kebablasan memang tidak baik, karena harus ada porsi yang seimbang, bukan begitu Pak Beye?

Akhir tahun ini akan ada sebuah acara bernama Indonesia Bermain. Sebuah acara yang bertujuan untuk memperlihatkan sisi lain dari bermain, terutama manfaat positif yang bisa didapat. Jika ada waktu, saya bermaksud untuk untuk menyarankan Pak Beye bersedia menghadiri Indonesia Bermain agar Bapak bisa merasakan secara langsung sisi positif dari bermain, terutama video game.

Sekian dari saya yang masih mahasiswa ini Pak Beye, selamat bekerja, selamat berbakti untuk negeri, dan semoga bisa terus menginspirasi kami.

Indonesia Bermain, event dimana kita bisa melihat sisi positif bermain (poto : becakmabur.com)

©Shesar_Andri, 14 Juli 2012

Sabtu pagi beberapa saat selepas bermain tenis

2 responses »

  1. Bukan gamer , tapi kurang setuju dengan pak Beye😀

  2. hafifmada says:

    Dahsyat bagian ini :
    ” Jika karakter dalam game yang dimainkan mati, maka kami akan menyerahkannya ke teman yang lain. Pak Beye lihatlah, pada usia SD itu kami sudah belajar legawa ”

    setuju bagian belajar tentang bahasa asing. Uust saying,tapi yg kurang di Indonesia adalah gamer yg bermain sesuai rating/umur mereka, dan kontrol yg kurang dari org tua. #sesamaGamerDariKelas1SD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s