Beri Aku Pemuda dan Akan Kugaungkan Indonesia pada Dunia!

Demo mahasiswa, sesuatu yang sudah sangat biasa, terlebih sejak jatuhnya rezim sang jenderal yang murah senyum, Soeharto. Melihat pemandangan para mahasiswa negeri ini bertumpuk pada satu titik, mengibarkan bendera kampus, dan membentangkan tulisan protes ini itu sudah jadi makanan sehari-hari di televisi, koran, pun portal berita online. Objek yang diprotes pun beraneka ragam : harga sembako, tarif listrik, kasus korupsi, kedatangan seorang tokoh baik politik maupun seorang artis yang dianggap seronok, sampai urusan film juga. Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dulu agak dibelenggu oleh Soeharto, diberi ruang oleh masuknya reformasi. Masyarakat bebas berekspresi dimana saja. Berita di media yang dulu cuma searah pun kini bisa dikomentari, bahkan tak jarang di antara pembaca terjadi debat panas. Singkatnya, masyarakat sekarang ini punya ruang untuk lebih reaktif.

Kebebasan berpendapat dan berekspresi itu kemudian memberi ruang bagi para mahasiswa untuk berperan lebih sebagai watch dog bagi pemerintah. Mahasiswa kini lebih bebas dalam mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah yang dirasa kurang maksimal atau tidak sesuai dengan yang mereka pikir ‘seharusnya’. Beberapa acara televisi yang dalam acaranya banyak membahas tentang permasalahan di pemerintahan pun sering memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyuarakan pendapatnya dalam sebuah forum diskusi.

Sebuah kemajuan yang patut dihargai. Kini para pemuda memiliki lebih banyak wadah dalam menyuarakan pendapatnya secara lebih elegan, meskipun masih saja ada yang melakukan dengan cara kurang patut seperti demo anarkis. Semangat para pemuda (mahasiswa) yang ingin melihat negerinya menjadi lebih baik sungguh patut diapresiasi. Mereka dengan segala masalah yang dimiliki masih mau memikirkan masa depan Indonesia dengan cara-cara tersendiri. Hanya saja terkadang semangat yang besar itu membuat mereka sedikit lalai. Tak jarang mereka mengkritisi suatu hal dengan keras tanpa benar-benar memahami hal yang dikritiknya itu. Tak heran jika terkadang terjadi debat kusir antara pemuda dengan pejabat pemerintahan karena kedua pihak teguh berpegang pada paradigmanya tanpa benar-benar mau memahami paradigma pihak lain.

Mahasiswa, berperan sebagai pengawas kinerja pemerintah (poto : republika.co.id)

Sudah saatnya pemuda, terutama mahasiswa, mengambil peran yang lebih besar, tak lagi hanya menjadi watch dog. Kerap terjadi protes para mahasiswa dimentahkan oleh para pejabat pemerintah karena argumen mereka menggambarkan bahwa mereka tidak benar-benar mengetahui dan memahami masalah yang dihadapi pemerintah. Sudah saatnya mahasiswa menjadi lebih cerdas dalam melihat masalah yang dihadapi bangsa ini dengan lebih memahami apa benar-benar terjadi di pemerintahan. Tak lagi cukup hanya mendapatkan pemberitaan dari media massa. Kini sudah waktunya mengkolaborasikan mahasiswa dengan mereka yang sudah senior. Sudah saatnya mahasiswa diberi peran di pemerintahan, utamanya dalam pelayanan publik karena mereka juga adalah publik yang biasanya minta dilayani. Perubahan peran dari yang dilayani menjadi yang melayani tentu akan membuat mereka lebih mengerti dan memahami permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang melayani publik (pemerintah).

Apakah ini untuk membuat mereka lebih berkompromi dengan permasalahan dan kemudian menjadi diam kehilangan kekritisan? Tentu saja bukan. Idenya adalah agar mereka lebih paham sehingga terpancing untuk memikirkan solusi kreatif dan tepat untuk bersama-sama memecahkan masalah. Mengapa mengajak pemuda? Bisakah mereka yang masih hijau seperti itu?

Pemuda umumnya memiliki semangat menggebu, idealisme yang tinggi, dan percaya bahwa hal sesulit apapun bisa diubah asal ada kemauan. Sesuatu yang seringkali ditemukan sudah memudar pada diri mereka yang saya sebut golongan tua. Dalam sebuah konferensi pers, Brendan Rodgers, manajer Liverpool FC mengatakan, “Saya percaya pemain muda akan berlari melewati pagar berkawat duri untukmu.” Ya,pemuda memiliki semangat dan kepercayaan besar dalam mewujudkan mimpinya terlepas apapun rintangan di depannya.,

Di belahan dunia lain beberapa pemuda sudah diberi kepercayaan untuk mengambil peran penting dalam pelayanan publik. Paling fenomenal adalah Bashaer Othman, gadis 16 tahun asal Palestina yang pada 13 September 2012 kemarin berkunjung ke Indonesia. Dalam usia yang masih remaja itu ia sudah pernah diberikan kesempatan untuk menjadi memimpin Allar, sebuah kota kecil di Tepi Barat palestina, sebagai seorang walikota selama dua bulan. Bukan sekedar coba-coba, dalam dua bulan kepemimpinannya Othman berhasil mendatangkan tiga investor untuk Allar, membangun taman pendidikan anak, dan menggalang kekuatan untuk memperkuat lingkungan dan keamanan! Ini merupakan sebuah bukti nyata bahwa jika diberikan kesempatan, pemuda pun bisa memberikan kontribusi yang berarti.

Bashaer Othman, 16 tahun dan sudah memimpin sebuah kota (poto : giant41.blogspot.com)

Adhyaksa Dault, mantan Menpora, pernah berujar dalam Simposium Nasional Kepemudaan 2008 di gedung University Center (UC) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 19 April 2008, salah satu kelebihan pemuda adalah pergerakan yang cepat. Ia mencontohkan Bung Karno yang memimpin Indonesia pada usia realtif muda (44 tahun), serta Pak Harto pada masa-masa awal menjadi presiden.

Dengan segala kelebihannya, sudah saatnya pemuda diberikan peran lebih dalam partisipasi pelayanan publik, kesempatan untuk memimpin. Tentunya tanpa melepaskan peran penting golongan tua karena mereka juga punya kelebihan tersendiri. Mengutip pernyataan Brendan Rodgers, “Pemain yang lebih tua mencari lubang di pagar itu, dia akan mencoba menemukan cara melewati pagar itu dengan suatu cara lain, tapi pemain muda akan berjuang untukmu.” Pemuda dengan semangatnya yang menggebu dan idealisme tinggi, sementara golongan tua dengan kebijaksanaan dak kematangan berpikir. Sebuah komposisi manis untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Bung Karno pernah berujar, “Beri aku 1000 anak muda, maka aku akan memindahkan gunung. Beri aku 10 pemuda yang cinta tanah air, maka akan kuguncangkan dunia!” dan Bashaer Othman pun berpesan untuk para pemuda Indonesia, “Pemuda Indonesia sebaiknya lebih melibatkan diri sebagai pemikir dan penggerak kemajuan bangsa.” Indonesia adalah bangsa besar, kini sudah tiba saatnya para pemuda mencintai tanah airnya, bangkit bersama memotori roda kemajuan bangsa, dan mengguncang dunia lagi!

Sang orator, sang pembakar semangat (poto : akinini.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s