Dream Catcher : Bermimpilah Lalu Tangkap, Genggam, dan Dekap

Buku teranyar Alanda untuk semua yang punya mimpi (poto : alodita.blogspot.com)

Ini sebuah ulasan yang kelewat telat, maklum baru beberapa minggu lalu buku entah-ke-berapa karya Alanda Kariza ini baru sempat saya beli lalu baca. Dan agar berbeda, porsi mengulas Alanda akan lebih besar dari bukunya sendiri.

Dream Catcher, penggapai mimpi, satu jenis buku pengembangan diri atau pemasok motivasi yang dihasilkan seorang gadis 21 tahun ini bisa dibilang bakal menggetok-getok kepala pembacanya, terutama mereka yang seusia dengan Alanda. Di buku ini Alanda bercerita dengan tutur bahasa yang muda dan menyenangkan. Isinya, barangkali beberapa akan menganggapnya sedikit narsis, adalah cerita-cerita apa saja proses yang sudah dialami oleh Alanda untuk menggapai (hampir) semua yang diimpikannya, inspirasi yang didapatnya dari orang-orang yang pernah ditemui, juga beberapa lembar pandangannya terhadap apa itu mimpi.

Sebagian dari kita mungkin hanya tahu Alanda Kariza adalah seorang gadis muda brilian yang menyelenggarakan Indonesian Youth Conference (IYC), yang pernah berbicara di  Global Changemakers at the London Summit 2009 Reception dan One Young World in London 2011, yang ibunya pernah tersandung masalah terkait skandal Bank Century. Tapi berkat buku ini, kita bisa lebih mengenal sosok Alanda yang ternyata di usia 15 tahun sudah memiliki kepedulian tinggi pada masalah di lingkungan sekitarnya dan kemudian mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) The Cure for Tomorrow pada tahun 2006 bersama dua orang sahabat sebayanya.

Melalui buku ini kita juga semakin dibuat sadar bahwa tak ada manusia yang dibentuk oleh masalah setelah tahu bahwa saat masih SMP seorang Alanda harus bekerja sampingan untuk mengurangi beban orang tuanya yang waktu itu bank tempat keduanya bekerja dilikuidasi. Juga keterbatasan finansialnya waktu itu membuat Alanda menerima tawaran beasiswa di BINUS Internasional.

Simply cute and smart girl, Alanda Kariza (poto : about.me/alandakariza)

Tercermin dari buku ini, Alanda adalah seorang gadis muda yang peduli dengan banyak hal, punya banyak mimpi, dan bekerja lebih dari sekedar keras untuk mewujudkannya. Dan di buku ini ia menceritakan bagaimana cara untuk merealisasikannya. Alanda mengajak kita untuk pertama-tama menemukan apa yang paling kita sukai dan nikmati saat melakukannya, menata kembali alur hidup kita, melibatkan orang di sekitar untuk membantu, juga membedakan apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan.

Singkatnya, kalau selama ini kita merasa banyak mimpi yang susah atau malah gagal digapai, buku ini berperan sebagai rel untuk mengarahkan kita ke stasiun bernama ‘Mimpi Kita’. Yang membuat buku ini tambah istimewa adalah tergambar oleh Alanda sukses tidak selalu soal uang. Bukankah selama ini banyak buku pengembangan diri yang berlatar seorang tokoh hampir selalu berdasar mereka yang sukses dalam hal finansial alias kaya raya? Alanda mengajak beberapa temannya untuk ikut bercerita di buku ini, dan itu membuat saya (dan semoga pembaca lainnya juga) berpikir, “Wah orang ini hebat! Sukses dan menginspirasi saya!” hanya karena mereka telah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar, mengesampingkan berapa kekayaan mereka.

Nah, karena saya menghargai gairah Alanda untuk menjadi seorang penulis, dan ingin dia menjadi semakin baik ke depannya maka ada beberapa kekurangan buku ini yang akan saya sampaikan :

  • Pada bagian awal, Alanda bilang bahwa ia pernah mengalami fase dimana dia tidak benar-benar tahu apa yang disukainya. Ada bagusnya dia menjelaskan detail waktunya (pada usia berapa) agar pembaca bisa membandingkan. “Umur segini wajar ga sih belum nemu passion (gairah)?”
  • Di halaman 26 tertulis senpai yang berarti guru, padahal harusnya senior. Dalam bahasa Jepang, guru itu sensei
  • Halaman 36 tertulis, “Usia merupakan kemewahan…” harusnya tertulis “Usia muda merupakan kemewahan…” jika disesuaikan dengan bahasan pada bab itu
  • Terbawa ke-Inggris-Inggris-an. Masalah klasik pada anak muda akhir-akhir ini memang, bahkan kadang saya pun begitu. Mungkin sebaiknya Alanda (dan kita semuanya saja) belajar dari Anggun yang sudah lama berdomisili di luar negeri tapi masih sangat fasih dan tidak belepotan saat bertutur dalam bahasa Indonesia.

Buku ini sukses total membuat saya menemukan apa gairah saya : sepakbola, jalan-jalan, dan menulis ; membuat saya menuliskan banyak hal yang harus saya lakukan sebelum dijemput Izrail, dan salah satunya adalah : bertemu lalu mengobrol banyak dengan Alanda Kariza. Saya sudah pernah satu kali bertemu dengan Alanda di event Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) pada Februari 2012 kemarin namun tak sempat berkenalan dan berbincang. Lain kesempatan saya akan berbincang dengannya, mengupas banyak kisah yang tak tertulis di buku atau blognya, dan menuliskannya agar terus abadi dalam rekam sejarah.

Dream Catcher ini adalah sebuah rel yang sanggup menuntun kita menuju stasiun bernama “Mimpi-Mimpi Kita”. Baca saja dan nikmati perjalanan ke sana, ke mimpi-mimpimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s