Kamu dan Ayah Hebatmu

Homer und Lisa

Halo Mei Lan, hai Celin, hola Ismi Ariniawati. Sepertinya menjangkaumu melalui kabel telepon lebih susah dari yang kuduga sejak lima tahun lalu. Tak apa, aku tak mau egois memaksakan diri menyampaikan pesan melalui suara. Aku akan durhaka dengan penemu komputer dan blog jika tetap keukeuh memihak Graham Bell. Jadi, di sinilah akan kulukis sesuatu untukmu.

Aku tak pernah mengenal Sayuti ayahmu. Tak sekalipun pernah melihat wajahnya. Entah tatap langsung maupun gambar dua dimensi di sebuah buku atau surat kabar. Sifatnya seperti apa tak banyak kuketahui, selain bahwa ayahmu itu tak pernah merasa minder dengan almamaternya. Yang mungkin kuketahui dengan pasti adalah pada 16 Februari 1994 ia menjadi pria sekaligus ayah paling berbahagia di segala sudut planet. Tak ada duanya. Tangismu yang memecah kencan oksigen dan nitrogen itulah penyebab utamanya. “Putri yang cantik,” barangkali begitu ia pikir.

Ia melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan seorang ayah. Mendidik seorang gadis (mantan) tomboy menjadi bibit unggul negeri ini. Tak perlu kusebutkan atribut-atribut unggul itu, takut nanti kau jumawa. Biarlah tetap kautapak bumi.

Bahwa sampai sekarang ada banyak orang yang menyayangimu adalah satu bukti otentik betapa briliannya hasil kerja ayahmu. Tak perlu sampai mendatangkan detektif dan ahli forensik untuk mencari bukti empirisnya.

Sekarang biarkan aku  bertingkah sok tahu. Kau sangat mengagumi dan mencintai sosok ayahmu. Di tiap doamu beberapa hari ini kaububuhi dengan beberapa tetes air mata. Oksigen, dua hidrogen, dan cinta tanpa batas adalah penyusun air mata itu. Tetes-tetes itu lalu menguap saat kau harus menjumpai kerabat yang tulus menyampaikan duka ke rumahmu di Jatisemi. Seketika kaupun tersenyum. Pura-pura tersenyum dalam duka? Bisa jadi. Tapi kuyakin Mei Lan yang kukenal adalah gadis yang tak pernah suka melihat orang lain ikut susah. Untuk itulah senyum itu kaukembangkan, kaupertahankan untuk tujuan mulia. Satu lagi, kau sangat paham seorang ayah akan ikut sedih saat putrinya bersedih. Maka, senyum itu juga kautujukan untuk ayahmu agar ia bisa ikut mesem tanda bungah.

Kau berhak sedih, itu artinya kau manusia wajar dan bukan Manusia Buatan No. 18 apalagi Zordon. Tapi, pesanku, jangan lama dan terbawa. Kau kenal Yuni Kartika? Sama denganmu, ia ditinggal orangtuanya saat masih berusia 19 tahun. Terpuruk ia sempat, selama beberapa waktu. Di mana ia kini? Mbak Yuni adalah orang penting di PBSI, dia menjabat Kasubid Humas dan Media Sosial, dikelilingi tiga anak yang tampan dan ayu. Mbak Yuni bisa melewatinya, jadi sepatutnya Ismi Ariniawati pun bisa. Kalau tak bisa? Siap-siap saja kujitak kepalamu.

Akhirul kalam, jadilah versi terbaik dari Ismi Ariniawati. Biarkan orang tahu melalui dirimu bahwa pernah ada seorang ayah terbaik bernama Sayuti yang memimpin keluarga Arsachonila.

Jakarta, 27 September 2013

©Shesar_Andri,

beberapa saat sebelum ditugasi redpel nulis preview Derbi Madrileno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s