Akui Saja, Erick Thohir Seorang Brilian Pemasaran

"Gede banget coek! Segini!," kata Erick Thohir (poto: republika.co.id)

“Gede banget coek! Segini!,” kata Erick Thohir (poto: republika.co.id)

Bagian 1

Erick Thohir? Tentu sekarang ini kita sudah sangat tak asing dengan nama itu. Pengusaha super kaya ini sudah diambang kesuksesan membeli 70% saham Inter Milan dari pemilik lama Massimo Moratti. Angka £300 juta disebut oleh BBC pada 20 September lalu sebagai tebusan untuk melanggengkan niat Thohir. Namun beberapa pihak menyebut Thohir ingin membeli 100% saham Inter Milan. Berdasarkan laporan Forbes, nilai pasar Inter Milan ‘hanya’ £316 juta. Kesampingkan simpang siur itu dan biarkan para jurnalis melakukan pekerjaannya. Saya di sini tidak untuk membahas itu.

Satu hal yang sudah pasti, sejak tersiar kabar Thohir berniat membeli Inter Milan, namanya meroket tanpa aba-aba. Jika lima tahun lalu ada pembicaraan tentang Erick Thohir akan membeli satu klub raksasa Italia dalam satu diskusi sepakbola, maka tawa akan pecah. Ini sama pecahnya jika setengah dasawarsa lalu ada yang nyeletuk akan muncul pebulutangkis Thailand yang jadi seorang juara dunia. Tak masuk akal, tapi nyatanya terjadi betulan.

Dari sisi pemasaran, langkah Thohir membeli Inter Milan adalah satu kebrilianan tak terbantahkan. Pengusaha muda dari negeri antah berantah membeli pemegang scudetto 18 kali? Batalkan saja pemilu kalau sampai hal itu luput dari mata awak La Gazetta Dello Sport. Tanpa aba-aba Thohir jadi pembicaraan, di Milan dan di Indonesia. Kalau mau, di akhir saga nanti Anda bisa mengumpulkan kliping artikel tentang Thohir dan jadilah sebuah buku. Voila!

Semua orang yang punya kepentingan dengan sepakbola Italia dan Indonesia kini punya kesadaran penuh pada sosok 43 tahun berambut klimis itu. Namun kita kemudian akan bertanya, kenapa Inter Milan? Dari ratusan klub di Eropa, kenapa Inter Milan?

Memilih Inter Milan adalah keputusan bagus (maaf, saya masih enggan menyebutnya tepat). Jongos bola pun sepertinya tahu bahwa secara pangsa pasar dan nilai jual, Serie A Italia kalah jauh dibandingkan Barclays Premier League. Indikatornya, musim ini Sky membeli hak siar BPL seharga £ 1.78 miliar, sedangkan Sky Italia membeli hak siar Serie A ‘hanya’ € 1.149 miliar untuk dua musim. Lagi? Serie A sanggup dibeli TVRI dan diberi jatah lima pertandingan per minggu. BPL? Cuma tayang dua kali seminggu, di dua stasiun TV berbeda, dan kesempatan tayang korek besar (big match) pun tergolong kecil.

Singkatnya, membeli klub semisal Tottenham adalah investasi jangka panjang karena popularitas BPL yang terus menanjak. Di sisi lain, Serie A justru makin sepi.

Inter Milan dipilih justru karena marutnya kondisi di Italia. Thohir akan datang membawa uang ratusan juta euro untuk melunasi utang klub yang membukit tinggi. Seketika Interisti akan melihat Thohir sama seperti Kopites melihat John W. Henry. Matur nuwun utangnya sudah dibayar.

Membayar utang bukan hal sepele di Italia saat ini. Sampai sekarang, negara yang di peta bentuknya mirip kaki perempuan bersepatu hak tinggi itu masih merasakan imbas resesi ekonomi.

Kenapa tidak beli klub Spanyol? Yang negaranya juga sedang payah karena resesi ekonomi? Thohir bisa saja membeli klub yang sedang naik daun seperti Atletico Madrid dan Real Sociedad. Atau klub yang pernah merasakan pucuk juara, Valencia. Namun, masih sangat terasanya duopoli La Liga antara Barcelona dan Real Madrid barangkali membuatnya mundur. Apalagi melihat gagalnya niat mulia Malaga yang sempat ingin merusak dominasi. Di Italia, persaingan masih tergolong terbuka. Juventus memang klub terkuat, namun Milan, Inter, AS Roma, Napoli, dan (kadang-kadang) Lazio dan Fiorentina masih sanggup mengimbangi.

Dari fakta di atas, Jerman yang tergolong sangat sehat walafiat (pengangguran saja diberi tunjangan) sudah pasti dicoret. Mau hadir sebagai juru selamat? Klub-klub di sana masih sehat.

Bagian 2

Alasan lain memilih Inter Milan cukup apik namun ada misi terselubung di belakangnya.

Dalam satu wawancara, secara tak langsung (yang kemudian kebablasan jadi langsung) Thohir menyebut bahwa Inter Milan adalah jalan tol. Pemain Indonesia ia berikan jalan untuk bisa berkarir di Eropa meskipun tetap harus ada mekanisme seleksi. Alasan lain, Inter Milan punya kekuatan merek yang bagus.

Tapi, memasukkan pemain Indonesia ke BPL adalah hal yang mustahil. BPL punya aturan bahwa pemain harus berasal dari negara yang peringkat FIFA-nya 70 besar. Kita semua paham, jika PSSI masih dihuni lebih banyak kecoa dan tikus daripada filsuf, maka misi Thohir jelaslah mimpi kosong belaka. Paradorn Sricaphan, ah salah maksud saya Thaksin Sinawatra sudah pernah kecele saat membeli Manchester City dan berusaha memasukkan Suree Sukha, Teerasil Dangda, dan Kiatprawut Saiwaew. Gagal sudah jelas.

Thohir coba memanfaatkan sentimen nasionalisme masyarakat Indonesia. Jika ada satu saja pesepakbola Indonesia yang sukses menembus tim utama Inter Milan, hampir pasti media republik ini akan memberi perhatian lebih. Saya berani sesumbar Inter Milan akan selalu tayang di TV nasional (yang gratisan tentunya). Efeknya, jumlah Interisti Indonesia akan bertambah.

Namun, itu jangka pendeknya. Alasan jangka panjang, Thohir berniat mencitrakan diri sebagai seorang nasionalis yang peduli bangsanya. Hal serupa pernah sukses dieksekusi Putera Sampoerna. Kalau tak salah ingat, ada satu artikel Hermawan Kartajaya yang membahas ini. Beberapa puluh tahun lalu, Putera Sampoerna memutar otak bagaimana cara menaikkan pasar Dji Sam Soe yang kala itu dikangkangi Gudang Garam. Ia kemudian memilih mengikuti karnaval di Amerika membawa nama Indonesia. Kontingen Indonesia sukses menarik perhatian. Segera saja hal itu mendapat sorotan media. Nama Sampoerna dan Dji Sam Soe tak luput. Alhasil Dji Sam Soe kembali naik peringkat mengangkangi Gudang Garam.

Sama seperti Putera Sampoerna, Erick Thohir memilih jalan pemasaran yang tak narsistik dan menyentuh rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Suka tak suka, jika berhasil ia akan semakin sering muncul di media.

Jangan heran jika salah satu pemain pertama yang nanti dibeli rezim Thohir adalah Radja Nainggolan, untuk alasan teknis dan non teknis.

Muara dari semuanya adalah character branding. Selepas ini, dunia akan mengenal seorang pengusaha Indonesia yang jadi pemilik Inter Milan, Erick Thohir. Dengan reputasi itu, Thohir akan bisa lebih mudah mengenalkan bisnisnya kepada pasar. “Oh itu perusahaannya Erick Thohir ya?” Barangkali begitulah orang-orang melihat Mahaka di kemudian hari. Apa untungnya? Anda akan bisa lebih mudah bernegosiasi, menarik minat investor, atau sekedar mencari karyawan baru.

Tak percaya? Lihatlah bagaimana efek seorang J.K. Rowling pada satu buku berjudul The Cuckoo’s Calling. Minggu pertama Juli 2013 saat buku itu masih disebut ditulis oleh Robert Galbraith, hanya 43 buku yang terjual. Saat terungkap bahwa J.K. Rowling menyamarkan diri sebagai Robert Galbraith, 17,662 buku terjual selama 14 – 20 Juli.

What’s in a name?” tanya Shakespeare sang pujangga.

Brand it is,” jawab Kotler sang pemasar

Shesar_Andri, 1 Oktober 2013

iseng nyoba bisa masukin ke BolaTotal yang ternyata gagal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s