Hari ini ada seorang ibu-ibu menyambangi pintu pagar rumah dan meminta sedekah. Selama di Bandung dan Jakarta saya hampir selalu menolak menyalurkan sedekah dengan metode ini, tapi kali ini pengecualian. Saya memberinya Rp 2.000, tak banyak memang, tapi ibu tadi berterima kasih dan mendoakan saya macam-macam. Mulai dari kesehatan, kesuksesan, karir, tapi sayang ia tak menyinggung soal pasangan hidup. Salah saya yang sedang malas mencukur kumis dan jenggot.

Lalu sejenak, tetiba saya tersadar bahwa saya sudah banyak berubah sejak menetap di Jakarta selama 18 bulan belakangan. Saya sudah biasa mendengar dan melihat manusia Jakarta meremehkan nilai uang bergambar Pangeran Antasari, apalagi yang Kapiten Pattimura.

“Alah udah cuma seribu-dua ribu aja kok,” di Jakarta nominal itu memang tak banyak berarti dibandingkan gaji kelas menengah ngehe. Bahkan uang segitu pun tak cukup untuk membuat pengemis di Jakarta mendoakan kita.

Jakarta sudah terlanjur membuat saya selalu melihat ke atas. Entah dengan orang-orang lain yang tinggal di sini. Membanding-bandingkan nasib pun kadang jadi kebiasaan, padahal Allah sudah menggariskan rejeki yang berbeda-beda.

Beberapa bulan belakangan saya jadi kerap merasa penghasilan sekarang tak sepadan dengan waktu yang dicurahkan. Mengapa mereka yang jam kerjanya lebih singkat dan jelas bisa lebih makmur? Kok kayanya dia enak ya bisa sering jalan-jalan? Saya pikir itu pertanyaan normal setiap kali melihat teman sebaya dengan pekerjaan masing-masing.

Dan kemarin saya sepedaan keliling Jepara, masuk-masuk ke pedesaan yang sebelumnya belum pernah saya jamah.

Mas-mas yang sehari-hari mengamplas kursi itu tentu lelah, tapi bayarannya sebulan tak sampai sepertiga gaji saya. Tukang becak di depan gang tak punya banyak pilihan untuk loncat ke bidang lain, terpaksa bertahan dengan jumlah tarikan yang digerus sepeda motor. Ada keluarga yang butuh Rp 100.000 untuk biaya makan sehari-hari. Itupun usaha mereka sering gagal mencapai target.

Maka saya merasa bodoh ketika ingat pernah mencibir acara konferensi pers, “Makanannya cuma gini?”, atau saat datang ke acara buka bersama kampus dan menghabiskan lebih dari Rp 100.000 untuk sekali makan dan minum saja.

Alam bawah sadar ini sudah menganggap biasa makanan dan minuman overpriced. Foya-foya pun sama biasanya. Sesuatu yang tak pernah terpikir dan cenderung sering saya cibir semasa kuliah dulu.

Saya menghabiskan banyak uang untuk kebutuhan tersier, sementara di sini (Jepara) saya melihat banyak orang memproduksi keringat lebih banyak dari saya untuk mendapatkan kebutuhan primer mereka. Saya melamun kapan ya bisa beli laptop baru, padahal belum butuh-butuh sangat, sedangkan masih ada orang yang belum tahu kapan bisa beli magic jar baru untuk kepentingan dapur. Saya mengeluh kapan bisa studi ke Jepang, sedangkan ada orangtua yang pening gimana caranya beli buku pelajaran anaknya.

Sar, sudah bisa beli hewan kurban belum? Sebulan berani nggak sedekahin 25% gaji, alih-alih cuma 2.5%? Sudah bisa bantu anak kecil biar nggak putus sekolah? Udah ngapain aja buat masyarakat?

Pertanyaan tadi dipersembahkan oleh Shesar Andriawan dan harus dijawab sendiri oleh bujang lapuk 24 tahun itu.

©Shesar_Andri, 9 Agustus 2014
Kapan nikah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s