Sumber: Aquascript.com

Sumber: Aquascript.com

Sebentar, sebentar. Kalau kalian benar-benar berpikir bisa dapat skor IELTS tinggi dengan mudah (tanpa kerja keras, cukup berharap keajaiban, atau pakai sistem kebut semalam) sebaiknya sudahi saja membaca artikel ini sampai di paragraf ini. Tulisan selanjutnya hanya ditujukan kepada orang-orang yang mau berusaha demi skor IELTS sesuai keiinginan mereka. Sudah saya peringatkan lho ya.

Apa itu IELTS?

Bagi para pemburu beasiswa, IELTS tentulah sudah tak asing di telinga. Tapi bagi publik awam, barangkali ada pertanyaan, makanan apa itu? Tidak, kalian tidak akan menemukan menu IELTS di sudut kantin manapun karena IELTS adalah sebuah alat ukur kecakapan berbahasa Inggris, masih saudaraan dengan TOEFL yang lebih dikenal itu. Bedanya, TOEFL banyak dipakai di Amerika, sedangkan IELTS populer di Inggris dan negara-negara persemakmuran. Yang lainnya, TOEFL ada ragamnya seperti PBT (paper-based test), IBT (internet-based test), CBT (computer-based test), sampai ITP yang diselenggarakan institusi semisal ITB, UI, ataupun ILP. Sedangkan IELTS tidak punya ragam. Siji tok.

Mengambil tes IELTS, maka kalian akan berhadapan dengan empat jenis tes: listening, reading, writing, dan speaking. Skornya terentang dari 1-9, yang mana makin tinggi nilainya berarti makin fasih kemampuan berbahasa Inggrisnya. Setiap bagian (band) punya skor dan akan ditotal kemudian dirata-rata. Untuk beasiswa Chevening, mereka meminta skor 6,5 dengan minimal band score 5,5. Artinya, sekalipun skor rata-rata kalian 8 tapi speaking-nya 5, maka Chevening tidak akan meluluskan. Dan skor 6,5 pada dasarnya menjadi syarat kebanyakan beasiswa, tak terkecuali LPDP.

Kursus atau Tidak?

Sebagian banyak orang akan mengikuti kursus persiapan IELTS agar mendapatkan skor yang dikehendaki. Biayanya kalau tidak salah antaraRp 2-3 juta. Saya bilang kalau tidak salah karena saya tidak ikut kursus yang demikian. Alasannya? Sederhana, tidak punya uang dan juga waktu. Biaya tes IELTS saja sudah mahal, GBP 120 (Rp 2,35 juta), dan saya harus menabung sekitar enam bulan untuk bisa membayarnya. Belum lagi kerjaan yang posesif (namanya juga jurnalis).

Jika punya uang, ikutlah kursus karena kata teman saya itu sangat bermanfaat. Teman saya itu diberikan tips & trik, strategi, dan simulasi. Yang ikut kursus juga akan mendapatkan buku belajar terbitan Cambridge. Yang pasti, di manapun belajar dengan tutor memang lebih manjur daripada otodidak.

Bagaimana kalau tidak punya uang dan waktu sama seperti saya? Silakan lanjut membaca artikel ini.

Memilih Otodidak

Paling pertama, belilah buku belajar dan latihan soal IELTS. Tentukan sikap, jika kalian berhati mulia, belilah yang asli. Harganya Rp 500.000 – 900.000. Mahal? Memang. Kalian pikir bikin buku itu mudah? Kalau kalian kejam terhadap penulis buku, belilah bajakannya di toko buku seperti di Pasar Senen, Kwitang, Palasari, dan lain-lain. Kenapa kejam? Karena sudah bajakan, duitnya masuk ke orang yang tidak berhak pula (penjual buku dan pembajak). Kalau mau di tengah-tengah, unduh versi PDF-nya yang tersebar di internet. Ini sebetulnya juga jahat, tapi setidaknya kalian tidak memberikan uang kepada orang yang tidak berhak.

Saya memilih membeli buku Advance IELTS asli tapi bekas di Senen dan mengunduh PDF latihan-latihan soal di website-lokal-tempat-ngunduh-apapun. Ya kalian tahulah.

Dalam program latihan atlet, ada yang namanya periodesasi. Itu adalah metode memetakan kapan atlet mencapai puncak performa sehingga bisa mendapatkan hasil yang diinginkan. Puncak performa saya jelas pada saat hari H tes. Dan saya menetapkan waktu 3-4 bulan untuk menjalankan program belajar ini.

Persiapan

Pelajari betul-betul buku belajar IELTS. Isinya sangat berguna. Tidak cuma latihan soal tapi ada pula tips & trik mengerjakan setiap bagian.Berikut ini rangkumannya

– Listening: kunci utama bagian ini adalah fokus. Belajarlah untuk bisa betul-betul fokus karena rekaman suara hanya diputar satu kali. Tidak ada pengulangan dan alurnya runtut. Rekaman detik 60 ada kunci soal A, detik 65 kunci soal B, dst. Jadi jika ada yang terlewat, maka hampir pasti kalian akan bingung harus melacak dari mana. Tantangannya adalah, apa yang tertulis di soal tidak akan keluar persis plek di rekaman alias cuma mirip saja. Misal seperti same dan similar gitu lah.

Kalau sudah kelewatan? Segera dengarkan seksama rekaman dan cari tahu sampai di soal nomor/huruf ke berapa. Ini merugikan karena pasti ada skor yang terpaksa hilang dari genggaman, tapi tetap ada obatnya kok. Rutinlah mendengarkan siaran berita TV/radio. Kalau bosan, ganti dengan drama/komedi. Caranya? Streaming radio dong, kan udah banyak aplikasinya di Android/iOS/desktop. Saya paling sering mendengarkan siaran BBC 4 dan BBC 5.

Cara lain, unduh game Elevate. Ada mini game listening yang sungguh susah dan memaksa kalian fokus. Game-nya gratis, tapi cuma sesekali saja latihan listening keluar. Kalau mau dapat akses rutin, bisa berlangganan per bulannya Rp 60.000. Mahal? Cek lagi sebulan kalian habis duit berapa buat belanja atau rokok. Semuanya kembali ke niat kalian.

– Reading: pelajari dan kuasai teknik skimming (membaca cepat) dan scanning (mencari kata kunci). Dua teknik ini sangat krusial. Kenapa? Karena trik tes ini adalah tidak membaca keseluruhan artikel baru lompat ke soal. Baca dulu soalnya, baru cari tahu jawaban di artikel.

Beberapa sangat mudah, seperti mencari tema utama dalam paragraf. Tapi ada pula yang cukup rumit seperti apakah pernyataan ini benar, salah, atau tidak ada jawabannya.

Banyak-banyaklah membaca artikel berbahasa Inggris, terutama berita dari kanal terpercaya semisal The Guardian atau Hufftington Post. Kenapa? Agar kalian terbiasa membaca tulisan yang grammatically correct. Kalau sekedar membaca blog… resiko tanggung sendiri ya. Jika dalam sehari kalian rutin membaca 2-3 artikel sepanjang 300-500 kata, dalam sebulan kecepatan membaca otomatis akan meningkat. It worked on me.

 

Panjang? Masih ada lanjutannya lho :))

4 responses »

  1. Endoh says:

    Terimakasih sharingnya..
    Sangat bermanfaat buat saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s