Poto: Muvila.com

 

Ini buku programnya, ini tiketnya, dan ini jas hujannya. Terima kasih,”.

Misbar. Gerimis bubar. Tetapi dengan jas hujan, maka berganti menjadi gerimis nggak bubar. Budaya layar tancap sudah lama berada dalam status mendekatai kepunahan. Korporasi menyuntikkan budaya menonton di mal ke dalam vena dan arteri masyarakat Indonesia. Dalam masa kekinian, layar tancap hanyalah legenda kota (urban legend).

Tahun ini Kineforum Misbar hadir dengan tema “Lawan”, dibuka 22 November di Lapangan Blok S dan ditutup 6 Desember di Taman Menteng. Ruang publik selama ini kerap dikuasai oleh pihak-pihak tertentu, bagi Misbar hanya ada satu kata: lawan.

Saya orang Jakarta, tapi saya akui di Jakarta ini ruang publik kerap sulit diakses dan dimanfaatkan oleh warganya sendiri. Di car free day, itu ruang publik yang sudah dikuasai merek (brand). Pemerintah provinsi DKI Jakarta sedang giat-giatnya membangun taman, tapi akan sia-sia jika tidak diaktivasi,” ucap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Arie Budhiman.

Muncul ironi ketika ada yang ingin memanfaatkan taman atau ruang publik untuk kegiatan seperti ini tapi izinnya sulit,” Totot Indrarto, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, menambahkan.

Memang nampak seperti perlawanan. Yang hadir di Misbar adalah mereka yang biasa hadir menonton film di mal. Kegiatan yang identik dengan kursi empuk dan nyaman, tata suara terkini, film teranyar, dan tentu saja tanpa gerimis hujan. Misbar bagaimana? Bangku panjang dari kayu yang lebih sering basah daripada kering, sedikit gerimis hujan, dan kunang-kunang yang berseliweran.

Hampir tak ada penikmat Misbar yang bertahan pada posisi duduknya selama lebih dari 15 menit. Mereka sibuk mencari posisi yang nyaman, tapi sama sekali tak ada keluhan dan terus menikmati film dengan khidmat.

Apa yang ditawarkan Misbar hampir sudah sulit ditemui di bioskop kekinian. Yang hadir adalah film klasik dan film terbaru yang tayang perdana di sana. Kantata Takwa (2008) dipilih sebagai film pembuka, Kuldesak (1997) sebagai penutupnya. Di antara keduanya, ada judul-judul berikut, antara lain: Pagar Kawat Berduri (1961), Matjan Kemajoran (1965), Si Pitung (1970), Si Doel Anak Betawi (1973), Atheis (1974), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Mata Tertutup (2011), Ketika Bung di Ende (2013), serta 17 film pendek yang dikompilasi dengan tema Pendek dan Segar.

Kuldesak misalnya, adalah penanda kebangkitan dari perfilman Indonesia yang setelah selama dekade 90an mati suri. Film ini hasil iuran cerita Mira Lesmana, Nan Achnas, Riri Riza, Adi Nugroho, dan Rizal Mantovani. Berbeda dengan film Mira dan Riri sekarang, Kuldesak gelap. Kuldesak menampilkan fragmen kehidupan empat warga Jakarta yang tidak saling bersinggungan. Empat tokoh utama punya impian, keinginan, obsesi, dan masalah yang akhirnya tidak kesampaian.

Dengan berani, Kuldesak menghadirkan sepotong kecil kehidupan kaum gay, penjual tiket bioskop, musisi gagal, mahasiswa idealis yang menggemari film, dan pekerja kantoran yang bermasalah dengan bosnya. Jujur dan terkadang vulgar, justru komponen itu yang membuat Kuldesak terasa segar.

Cukup disayangkan oleh Arie, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama belum bisa hadir ke Misbar. Padahal ada satu film dokumenter pendek tentang dia. Cerita saat Ahok, sapaan akrab sang gubernur, berkampanye sebagai calon anggota DPR dari Bangka Belitung pada Pemilu 2009 silam.

Kami akan terus hadir. Jika tahun ini di dua tempat, tahun depan akan bertambah menjadi lima atau enam tempat,” ucap Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno.

Ruang publik memang perlu dinikmati kembali oleh khalayak. Bagi Misbar hanya ada satu kata: lawan.

 

 

Shesar_Andri, 7 Desember 2014

menunggu hujan turun biar punya alasan makan mi instan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s