[Review] Doraemon Stand By Me yang Tak Sesuai Ekspektasi

Yummy buns! (poto: Dailymotion.com)

Yummy buns! (poto: Dailymotion.com)

 

Baru 15 menit duduk di kursi bioskop dan rasanya saya sudah ingin keluar saja. Saya bukan orang yang rutin seminggu sekali nonton di bioskop, juga termasuk orang yang pilih-pilih film. Untungnya sampai sekarang jarang kena sial nonton film yang jelek, kecuali saat ada screening media. Tapi itu juga cuma sekali dan tentu saja gratisan.

Jujur, sebagai generasi 90an yang baik banyak harapan tertumpu pada Doraemon Stand By Me. Barangkali bisa nostalgia gila mengingat masa-masa celana dalam belum menjadi barang penting di kehidupan. Dan memang mayoritas penikmat film ini adalah mereka yang usianya 20 tahun ke atas, diselingi beberapa anak kecil.

Ada tiga kondisi saat saya mau repot-repot menulis review: (1) filmnya bagus banget, (2) kerjaan dari kantor, dan (3) filmnya sangat mengecewakan. Di sini Stand By Me kebagian kondisi ketiga. Maaf Mbah Fujio.

Mengambang

Ini kesan pertama saya. Sampai akhir cerita saya masih bingung, ini film untuk nostalgia anak 90an atau konsumsi anak kecil kekinian? Kalau buat nostalgia, rasanya nanggung karena ceritanya kurang dalam dan ada beberapa logika yang meleset. Sedikit bocoran, Doraemon diprogram untuk tidak kembali ke masa depan sampai Nobita menemukan kebahagiaannya, tapi setelah beberapa menit ceritanya bergeser ke Doraemon dan Nobita masuk ke laci legendaris itu untuk menjelajah masa depan. Emmm….

Dibuat untuk anak-anak? Masa sih? Kok inti ceritanya di sini cinta-cintaan? Apa iya kisah Nobita yang berambisi menikahi Shizuka itu konsumsi bocah yang belum paham romantisme purnama yang berbeda? Lagi pula ada beberapa adegan pelukan dan segala macam romantisme yang buat saya hanya cocok dikonsumsi usia 17+. Sejenak saya merasa tidak ada bedanya film ini dengan sinetron lokal. Mungkin mereka lelah.

Jiplakan Mentah dari Manga

Ekspresi yang berlebihan, tingkah konyol, lelucon slapstick, dan mulut yang dimonyong-monyongkan jadi bumbu sedap manga Doraemon. Formula tersebut berhasil, jika tidak mana mungkin Doraemon bisa sepopuler ini. Di Indonesia saja sampai dibuatkan pameran alat-alat ajaibnya di Ancol.

Tapi menerjemahkannya mentah-mentah ke format animasi 3D? Kesan yang muncul malah aneh dan tidak menarik. Untuk animasi 3D, saya terbiasa menonton film produksi Disney, Dreamworks, dan Pixar. Beberapa yang humornya segar dan menggelitik antara lain Wreck It Ralph, Despicable Me, dan Toy Story. Yang cukup mirip dengan gaya lelucon Stand By Me menurut saya sih Despicable Me, tapi eksekusinya beda jauh.

Minions juga kerap bertingkah konyol dan melucu ala slapstick, tapi tidak menimbulkan reaksi, “Apaan sih ini?”. Beda dengan kelakuan Nobita dan kawan-kawan yang benar-benar terjemahan mutlak dari manga. Saya pikir formula di manga tidak seharusnya dipakai mentah-mentah di format animasi 3D karena yang ada malah memicu reaksi, “Heleeeeeh….”.

Parameter saya hanya atmosfer di dalam teater. Saat menonton Despicable Me, tawa meledak. Stand By Me hanya bisa melakukan tak sampai 50 persennya.

Sedih? Nggak juga sih…

Saat ngecek Twitter, banyak yang terharu dengan film ini. Mungkin karena berhati batu, saya tidak merasakan apa yang mereka rasakan. Satu-satunya adegan yang menyentuh adalah saat ayahnya Shizuka mengenang masa lalu, ketika Shizuka lahir beranjak kanak-kanak, remaja, lalu dewasa. Sejauh ini, anime paling mengharukan masih tetap Hotaru no Haka (Grave of Fireflies) dari Studio Ghibli. Kalau dibandingkan dengan Stand By Me sih jauh.

Translasi yang Kacau

Sebelumnya, ketahuilah bahwa tugas menerjemahkan ada pada distributor, bukan oleh perusahaan bioskop. Jadi asumsi saya pengalaman menonton di Blitz dan Cinemaxx ya sama saja.

Entah apa isi kepala si distributor yang menyuguhkan dua terjemahan: Inggris dan Indonesia. Faedahnya apa? Bikin penuh layar sih iya. Saya lebih banyak fokus dengan terjemahan Inggrisnya karena posisinya lebih ke atas, dan lagi terjemahan Indonesianya kaku menjurus ngawur.

Ada satu adegan saat Nobita dihukum berdiri di luar kelas. Suneo menggodanya tapi Giant datang dan berkata, “Give him a break Suneo,”. Maksudnya ya kira-kira, “Udah biarin aja dia,” tapi tahukah kalian itu diterjemahkan menjadi, “Beri dia istirahat Suneo,”. Apaaaaaa? Bercanda kan? Dan sejak kapan baka berarti brengsek alih-alih bodoh?

Mau yang lebih lagi? Di versi Inggris Giant diterjemahkan jadi Big G, lalu Jaiko jadi Little G. Mungkin asalnya dari ko yang artinya kecil. Nobita jadi Noby, Suneo jadi Sneech, Dorayaki berubah jadi Yummy Buns, Pak Guru (sensei) jadi Mr. S, dan ini yang paling spektakuler. Ada tokoh bernama Ace. Tebak siapa? Dekisugi pemirsa! Gimme a break! Beri saya rem!

Asal tahu, di versi barat memang itulah nama-nama karakter tersebut. Tapi tentu saja di Indonesia tidak banyak yang kenal, jadi alangkah bijaksananya jika terjemahan Inggris itu ditiadakan saja.

Untungnya si penerjemah Indonesia paham. Dekisugi tetap Dekisugi, dorayaki tetap dorayaki, dan Pak Guru tidak berubah jadi Mr. S. Tapi secara keseluruhan terjemahan Indonesia kurang nyaman disantap, apalagi buat yang terbiasa menonton film Hollywood yang terjemahannya luwes dan enak.

Terpujilah mereka yang paham bahasa Jepang. Kerja keras kalian tidak sia-sia kawan.

Kesimpulan

Kalau tidak merasa sayang dengan uang Rp50.000, tontonlah film ini. Jika iya, unduh saja dari internet (tentu saja ilegal) dan pakailah uang itu untuk membeli manga Doraemon seken di Kwitang. Opsi terakhir lebih saya rekomendasikan.

Shesar_Andri, 11 Desember 2014

30 responses »

  1. Mia says:

    Ntar beli dvd yg gocengan aja ah😀

  2. arie says:

    Agreed, 80% dr total waktu justbspending with thinkin ‘what the what?’ Sama sperti saint seiya LOS, ekspresi monyong2an ato jawdropping kliatan off utk film2 itu, some of them laugh, some of the like me just stood witha poker face…..

    Sedih? Bikin nangis sesenggukan? Nopem… not to touching I guess…. sdikit banyak ngrasa rugi sih nontonnya…. the birth of doraemon ato pas ktmu piisuke ama kibo still has a greater bite than this.

  3. martindkd says:

    Mau sedikit ikut komentar.

    Saya sendiri udah nonton filmnya jauh-jauh hari yang lalu di Jepang. (Pakai subs english).

    Saya belum nonton yang di Blitz baru premiere tanggal 10 kemarin, tapi dari tulisan ini, saya nggak nyangka ternyata subs Indonesianya jelek sekali. Mungkin nggak ada konsultasi sama pihak penerbit Elex / RCTI yang sudah puluhan tahun menerjemahkan serial doraemon.

    Sebagai yang sudah khatam komiknya sejak kecil, saya sendiri nggak punya ekspektasi berlebih tentang film ini. Ya, just for fun aja..

    Mengomentari komentar penulis yang meragukan kalau film ini bukan konsumsi anak-anak karena banyak kisah percintaannya, ya jangan salahkan filmnya, toh semua plotnya diambil dari komik (dengan sedikit perubahan) yang memang sudah saya (dan anak-anak generasi 90an lainnya) baca sejak kecil.

    Saya lebih tertarik bagaimana si sutradaranya menyambungkan plot dari beberapa cerita di komiknya.

    [Spoiler dimulai disini, buat yang belum nonton, read at your own risk]

    __________________________________________________________

    Kalau direkap, kira-kira susunan plot filmnya kan begini:

    1. “Datang Dari Negeri Masa Depan” – Dari Jilid 1.

    Disini diperkenalkan Doraemon dan alasannya datang menolong nobita

    2. “Shizuka Dalam Telur” – Dari Jilid 37.

    Ketergantungan Nobita pada alat Doraemon mencapai puncaknya, tapi tetap tidak bisa mengalahkan Dekisugi yang tidak mau mendapatkan Shizuka dengan bantuan alat.

    3. “Selamat Tinggal Shizuka” – Dari Jilid 32.

    Nobita yang depresi karena nilai ulangannya 0 berpikir untuk meninggalkan Shizuka. Tapi Shizuka tetap mau menolong Nobita yang nyaris mati keracunan obat.

    4. “Roman Di Gunung Salju” – Dari Jilid 20.

    Kisah Nobita yang menolong shizuka naik gunung, Kemudian menerima lamarannya Nobita. Kalau di komik, Nobita pun akhirnya tetap payah dan malah ditolong Shizu. Tidak sedramatis yang di film.

    5. “Malam Pernikahan Nobita” – Dari Jilid 25.

    Melihat apa yang terjadi di malam sebelum Nobi dan Shizu Menikah.

    6. “Selamat Jalan, Doraemon” – Dari Jilid 6.

    Doraemon yang mau pulang ke masa depan karena sudah diprogram oleh Sewashi untuk pulang kalau Nobi sudah bahagia. Nobi kemudian membuktikan diri kalau dia bisa bertahan menghadapi segala persolalan (misalnya melawan giant) tanpa bantuan Doraemon. Di komik, alasan Doraemon pergi tidak diceritakan.

    7. “Doraemon Yang Kembali.” – Dari Jilid 7.

    Doraemon kembali setelah Nobi minum “Bohong 800”. Buat yang sudah pernah baca, adegan Doraemon kembali ini jadi nggak ada gregetnya sama sekali.

    _____________________________________________________

    Kalau saya pribadi sih menganggap flow film ini kurang oke. Yang saya tangkap di awal adalah cerita Nobita yang nggak bisa diandalkan dan nggak bisa apa-apa tanpa bantuan Doraemon. Mestinya kalau mau bertahan dengan plot ini, Di cerita “Roman Di Gunung Salju” seharusnya dibikin persis seperti komiknya: Yaitu Nobi yang mau nolong Shizu akhirnya nggak bisa apa-apa dan malah ditolong Shizu. Akhirnya Shizu menerima lamaran Nobi karena menurut dia, Nobi orangnya ceroboh dan nggak bisa apa-apa tanpa Shizu (yang menurut saya lebih lucu daripada filmnya). Tapi di film, adegan ini malah dibuat dramatis jadi Nobi yang menolong dirinya sendiri di masa depan. Jadinya, adegan Nobi yang lawan Giant di “Selamat Jalan, Doraemon.” klimaksnya kurang berasa.

    Apalagi setelah Doraemon, ternyata ini masih ditambah cerita “Doraemon Yang Kembali”. Menurut saya pribadi sih plot ini nggak usah ada. Karena esensi filmnya yang selama ini digembar-gemborkan sebagai “Akhir dari Doraemon” jadi hilang. Ya saya paham sih mungkin maksudnya buat bikin surprise, tapi mestinya mereka inget juga kalau sekitar lebih dari 80% yang nonton adalah orang-orang yang tumbuh besar bersama Doraemon, jadi ya begitu Doraemon pergi tapi filmnya belum beres, saya langsung spontan bereaksi “Yah, ini mah Bohong 800”, dan saya kira penggembar setia Doraemon juga berpikir hal yang sama. Jadi intinya si “surprise” ini nggak perlu ada. Kalo buat memfasilitasi yang belum pernah baca sih diemin aja dan suruh baca sendiri Doraemon jilid 7 kalo penasaran. He he he.

    __________________________________________________________________

    [Spoiler berakhir disini]

    Intinya sih, untuk penggemar setia Doraemon, nggak ada yang spesial selain untuk alasan Nostalgia.

    Maaf buat Mas Shesar, kalo komentar saya kepanjangan, cuma mau berbagi sudut pandang dari sesama penggemar Doraemon kok.

    Hatur Nuhun.

    • nuhun udah mau meluangkan waktu dan tenaga ngetik panjang Kang, hehehe. Appreciated it.

      Nah soal translasi kita sepaham. Aku sering nonton film yang terjemahannya persis sama yang di novel, misalnya Harry Potter. Itu bagus banget, sayang nggak dicontoh sama film ini.

      Saya juga merasa plot film ini nggak mengalir lancar, makanya 15 menit pertama langsung bosan. Mungkin karena sebelum ini nonton Interstellar yang plotnya menghanyutkan, bikin 3 jam kerasa cepat. Aku setuju kalau Stand By Me cuma film yang menyambung-nyambungkan fragmen-fragmen di manga dan ending-nya itu emang bikin gedeg-gedeg.

      Banyak yang bilang terharu nonton film ini, da aku mah henteu. Adegan paling mengharukan cuma pas ayahnya Shizuka mengenang masa lalu. Itu juga cuma karena tetiba kangen sama bapakku di rumah :’)

  4. ai says:

    GOBLOK YG REVIEW!

  5. expandxi says:

    wah, begitu ya ternyata, cukup menjengkelkan jika begitu

  6. ya kurang lebihnya sama dengan saya ketika selesai menonton flim ini kaka

  7. anonim geje says:

    Hai sebelumnya saya kritik tulisanmu dulu

    Soalnya english sub ditiadakan? Halo mas, emangnya indonesia isinya cuma orang indonesia? Ada turis juga kali, dan nama big G, Ace etc emang versi dari english version kan? Dan baka gak cuma bisa diartiin bodoh kok, bisa juga brengsek, tolol dll🙂 lain kali cek dulu yah

    Soal cinta2 an, lho justru ini bagus kan? Mengajarkan anak2 supaya gak cuma cinta sesaat, tapi cinta serius, lagian di adegannya gak ada pelukan, ciuman, mau di bandingin sama animasi disney yang ada ciuman yang gak di sensor? Padahal isi bioskop juga banyak anak kecil kalo animasi disney, Hayoo

    Jiplakan mentah dari manga? Emang kenapa? Salah? LOTR, Harry Potter dll aja jiplakan dari novel, kok yang jiplakan novel gak di protes? Hayoo

    Itu aja deh🙂 ohiya, kalo nonton film jangan serius2 amat, ini kan bukan film serius macam the hobbit, nanti hidupnya terlalu serius gak nikmat lho~

    • Terima kasih, saya terbuka pada kritik kok dan lagi kalau nonton film emang kebiasa serius, maklum kebawa sama kerjaan. Tapi kalau nggak ada yang serius nanti semua film dibawa nikmat dong? Kurasa bakal selalu ada orang yang bawaannya serius dan yang santai, so I play my part here🙂

      Ya karena ini Indonesia sih nggak masalah kalau ditiadakan, emang berapa persen sih populasi orang asing di sini? Berapa persen yang mau nonton? Coba dalami dulu definisi turis, rasanya cuma kemungkinan tipis turis liburan ke Indonesia buat nonton film, hehehe. Soal nama Big G kan udah saya jelaskan dan saya tahu itu kok. Udah nonton filmnya kan? Di situ baka konteksnya itu bodoh, makanya aku kritik.

      Berarti mbaknya jangan protes ya sama sinetron yang anak SD cinta-cintaan. Buat saya sih mau dari Disney atau mana kalau ceritanya cinta-cintaan ya ga cocok sama anak kecil. Dan kalau ada anak kecil masuk bisa jadi filmnya salah dikasih rating. Stand By Me ini ratingnya SU (semua umur lho), dan kupikir itu nggak tepat. Kalau BO atau 13+ sih boleh lah ya. Adegan yang meluk-meluk gitu harusnya bukan konsumsi anak usia SD.

      Di sini anda nggak nangkep maksud saya. Jiplakan itu dalam arti menerjemahkan formula di manga ke film mentah-mentah. LOTR, Harry Potter dll itu kenapa nggak kuprotes walau udah nonton juga? Karena isi novel dan filmnya beda. Dan memang harus begitu, film dan novel/manga itu dua platform yang beda, kalau dipindah mentah-mentah ya payah jadinya.

    • Bukan Siapa Siapa says:

      setuju sama yang ini

      review itu tergantung pada diri masing-masing
      tapi bener, buat apa terlalu serius nonton
      ini film juga untuk semua umur, kecewa dalam artian kita sebagai orang dewasa, mana tau buat anak2 itu ud sangat bagus

  8. Yuan says:

    Bener mas… saya juga ngrrasa gt. Kata baka yg diterjemahkan jd brengsek kurang bagus di konsumsi anak2

  9. anonim says:

    Jujur nih saya kurang stuju dgn review ini🙂 kalo ceritanya kurang dalam, memangnya mau kayak gimana lg? Bukannya memang ending sprti itu yg original spt komiknya? Dan memang doraemon gak akan pernah berakhir kan🙂 mungkin bbrp org kecewa dgn film ini karena memang film ini alur ceritanya “anak2” banget, gak ada adegan romantis dan cinta2an yg biasanya kita lihat atau adegan2 sihir/fantasy yg disukai byk org. Adegan cinta nobita shizuka jg menurut saya adegan yg biasa dan gak lebay, mungkin gak sama dgn selera org Indonesia zaman skrg🙂 film ini dibuat di Jepang jd mungkin dibuat sesuai dgn selera dan kondisi org Jepang misalnya dgn ekspresi atau suara para tokoh. Saya menghayati film ini karena sy tdk memperhatikan subs yg ada, sy langsung mendengar dari percakapan para tokoh yg menggunakan bhs Jepang krn saya memang paham bahasa Jepang. Apa yg diucapkan tokoh tdk sama persis dgn subs nya jadi makna lebih terasa ketika mendengarkan bhasa Jepangnya langsung. Sy kurang suka film2 zaman skrg yg bertemakan horror/fantasy/adventure yg jalan ceritanya bagus tp hanya utk saat itu aja, lain dgn Doraemon yg walaupun sdh diketahui jalan ceritanya namun tetap meninggalkan kesan. Setiap org punya pendapat yg berbeda, terima kasih🙂

    • tidak setuju itu wajar, namanya juga review pasti ada subjektivitasnya. Toh lebih banyak yang tidak sependapat, jadi sudah biasa, hehehe. Dan karena saya baca manga-nya dari awal sampai akhir, sudah tahu juga ceritanya bakal anak-anak banget, cuma ya tetep kecewa karena tidak seharu biru atau selucu yang saya harapkan. Barangkali ekspektasiku berlebihan😦

  10. fertpolin says:

    cerita memang standar menghibur aja ga sampe dalem, tapi justru menampilkan slapstick 2d into 3d mnurut saya ide yang bagus, dan mungkin ini yang pertama dan berhasil.. dan mnurut saya ga fair membandingkan ini dengan film pixar, karena konsepnya aja udah beda.. kaya kamu bandingkan spirited sway sama beauty and the beast kan laen eksekusinya karena emang konsepnya juga beda.

    • konsep memang beda, tapi saya bandingkan dengan Pixar karena sama-sama di platform 3D. Bedanya, Stand By Me bawa formula 2D mentah-mentah, sementara film Pixar seperti sadar bahwa 3D itu medium tersendiri yang harus diperlakukan beda.

      Senang bisa dapat komentar dari sesama penikmat film Ghibli🙂

  11. Jelly says:

    urusan translasi, hampir semua film jepang yg masuk ke indonesia emang gak pernah beres… film2 yg diputer di blitz akhir2 ini dari rurouni kenshin, saint seiya sampai doraemon ini selalu ada kesalahan penerjemahan. apalagi yg bahasa indonesianya…. maka dari itu teks yg inggris bagi saya penting keberadaannya karena sub inggris biasanya lebih mendekati arti sebenarnya daripada yg indonesia….

    untuk masalah story sih saya dari awal tidak punya ekspektasi berlebih ya, walaupun mungkin sedikit merasa tertipu dengan trailer yg dirilis tetapi buat saya keseluruhan film ini cukup menghibur, dengan animasi 3D yang apik tentu saja jadi point yg menarik mengingat selama ini kita hanya liat doraemon dalam bentuk anime 2D.

    saya bukan penikmat manga dari doraemon, saya hanya nonton doraemon kalau minggu pagi saja, dan jika membaca review dari anda juga sepertinya bukan penikmat manganya juga, seharusnya film ini banyak hal baru yg belom pernah dilihat sih… hampir semua adegan di film ini saya baru liat, kecuali adegan awal sampai dapat baling2 bambu… dan lagi, diubah mentah2 ke 3D tidak menarik? justru menurut karena sifatnya nostalgia maka hal2 yang ada dalam manganya tidak dirubah dan dibiarkan apa adanya… mungkin anda terlalu banyak menonton film disney ya saya maklum mungkin masih culture shock :p

    tapi kalo pendapat saya untuk film rating SU film ini cukup menghibur, kecuali anda mengharapkan action2 khas disney atau story yang penuh dengan plot twist seperti film adaptasi dari novel ya anda salah jurusan😀

    • ini kesalahan elementer saya yang gagal menunjukkan kalau saya baca manga-nya dari volume 1 sampai terakhir (kalau ga salah 30 sekian). Saya langsung familiar pas adegan Jaiko jadi istri di masa depan, begitu juga saat ayahnya Shizuka mengenang masa lalu.

      Saya tetep keukeuh berpendapat bahwa manga, anime 2D, anime 3D itu platform yang berbeda, jadi harus ada adaptasi yang tidak mentah-mentah. Rasa nostalgia harusnya tetap bisa dijaga tanpa perlu memindah mentah-mentah. Itu sih namanya ga mikir :p

      Dibanding nonton film Disney atau Pixar, saya lebih sering nonton anime macam Shingeki no Kyojin, Cross Game, dan Avatar (bikinan US sih, tapi gayanya anime). Yang terakhir, ya ga ngarep action dan plot twist juga, cuma pengen jalan cerita dan plotnya menyenangkan saja🙂

  12. Review film ini membuat saya malah ingin menonton : apakah sedemikian tak sesuai ekspektasi (anda) atau malah ekspektasi saya yg berlebihan. Saya akan buat review juga setelah menonton. Satu pertanyaan saya : ekspektasi anda utk film ini sbnernya apa ya… trims before…

    • ekspektasi saya setelah lihat trailer dan gosip di sekitar sih pengennya film ini 1) kalau dibuat untuk mewek bakal bikin saya terharu biru sama seperti saat menonton Hotaru no Haka, 2) kalau dibuat untuk jadi lucu, ada baiknya selucu Wreck It Ralph

      kalau udah jadi review-nya tolong bagi tautannya ya, pengen baca juga, danke

  13. azkiya2008 says:

    jadi.. apa cuma saya yang merasa posisi tangga dan kamar nobita berubah…?

  14. anon says:

    Nonton movie 3D dari negara barat dgn movie dari Jepang itu beda rasanya apa karena saya lbih bisa memahami dan menghayati bahasa Jepang ya?? Saya gak kaget dgn ekspresi para tokoh di stand by me yg menurut temen2 saya lebay & berlebihan karna saya udh terbiasa bgt nonton anime dan gak kaget kalo ekspresi muka&suaranya terlihat lebay. Sebagian besar org sudah tau jalan cerita stand by me gimana, mngkin stand by me ditayangkan bukan utk menjual jalan cerita tp utk menghadirkan kembali rasa rindu dan kesan pas kita semua masih kecil dulu🙂 saya scr pribadi udh nonton stand by me 4 kali di bioskop dan belum juga merasa bosan :):):)

  15. anon says:

    Kalo aku sih bs hayatin filmnya gara2 lbih dger bahasa jepang nya karna udh kebiasa bgt nonton anime jd udh familiar dgn kata2 dalam percakapan dan ekspresi si tokoh. sebagian org udh tau gimana jalan cerita ni film , penonton di jepang jg udh banyak yg tau. mungkin stand by me ditayangkan bkn utk menjual jalan cerita tp utk menghadirkan kembali rasa rindu dan kesan pas kita smua msih kecil🙂 jg ga butuh adegan action seru atau menegangkan deh soalnya yg sederhana aja bisa menimbulkan kesan sampe2 yg mau nonton banyaaak banget. Aku sendiri udh nnton sampe 4 kali malah wkwkwk dan gak bosen2 :):):)

  16. Fitra H Nisa says:

    ternyata memang bukan saya saja yang kecewa. film Doraemon kali ini memang kualitasnya ‘jatuh’ banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s