gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

Pakem yang berkembang di masyarakat, dari Mesopotamia sampai pusat Surabaya, gadis ayu itu sudah sepatutnya punya tingkah polah anggun, manis, kalem, dan tidak glegek’en (jenis suara saat mengeluarkan gas dari mulut) sembarangan. Gadis ayu harus terjaga bicaranya, kentutnya, dan rapi gambar alisnya. Sayang pakem tadi tidak berlaku di hadapan Devina Aureel.

Devina, terindikasi berasal dari Malang, dengan ayu menyobek-nyobek pakem yang sudah disepakati oleh entah berapa generasi. Semalam, saya tidak habis pikir bagaimana seorang yang begitu manis bisa punya tingkah yang sangat cacat. Cacat di sini adalah sebuah ameliorasi.

Peduli iblis dengan angle depan kamera, Devina selalu pasang muka suka-suka. Ada bintik-bintik di muka? Keren gila macem Fernando Torres. Begitu pikir Devina. Kayanya sih. Bibir monyong, lambe ndomble juga suka-suka dipamerin sama gadis itu. Oh ya, jangan lupakan lubang hidung.

Malam itu pukul 00.69 dini hari. Versi sopannya, 01.09. Dan Devina kampret masih saja bikin saya dan seorang kawan cekikikan di kamar. Ya tentu lewat video di Instagram, masa iya ngarep dia standup comedy di dalam kamar yang isinya dua lelaki lajang. Nanti jadinya smackdown kak.

Melihat Devina, saya jadi teringat karambol lama di rumah dan tukang becak langganan kawan semasa SD dulu. Sama seperti Mba Dev, karambol dan kang mbecak juga pelanggar pakem. Kapan lagi bisa bernostalgia dengan karambol dan kang mbecak dalam syahdunya pergantian hari?

Tentang karambol ini sudah pernah dibahas oleh Mojok. Karambol dengan sangat elegan melabrak pakem kebanyakan olahraga: tiada licin di antara kita. Karpet lapangan bulutangkis kena keringat, tolong dipel bro biar ndak bikin kepleset. Rumput lapangan sepak bola basah selepas hujan, mari kita keringkan dulu kakak.

Lihatlah karambol. Tepung kanji jadi kunci permainan ini. Tiada tepung kanji, koin karambol tidak akan berjalan mulus. Licin adalah teman kata Tsubasa. Sama seperti pedekate. Tanpa kencan dan perhatian ia akan seret. Sayang seratus sayang, perkara asmara belum masuk kategori olahraga.

Kang mbecak juga sama saja. Lihat dan amati. Posisi pengemudi kendaraan jasa ada di mana? Kalau ndak  sejajar ya di depan. Naik taksi, supirnya kalau ndak di depan ya di samping penumpang. Naik kereta, ya jelas masinis di depan. Pun begitu halnya dengan pesawat, delman, dan jinrikisha, becak tradisional Jepang.

Becak Indonesia sungguh ngawur. Kang mbecaknya di belakang, penumpang di depan. Rasanya seperti para penumpang disodorkan ke jalanan. Enak ndak enak sih. Kalau ada apa-apa, misal ketabrak ayam dari depan, penumpang kena duluan. Tapi ya enak juga, bisa lihat pemandangan dengan utuh. Ndak pakai filter model apapun.

Maka jangan heran kalau di kemudian waktu muncul pepatah bijak dan lirik lagu,

“You are the karambol of my eye” atau “You’re my kang mbecak, you’re reality”

Oke yang barusan maksa.

Tengah malam itu, saya terkagum dengan Devina yang fasih menggambar alisnya menjadi dua bukit. Plus matahari di antara keduanya. Begitu pula ketika Devina yang anggun mengkover lagu secara bilingual, Enggres lan Jawa.

“I’m only human. And I bleed when I fall down”

“Aku mek menungsa. Aku berdarah nek tiba”

Menakjubkan. Christina Perri dan Nurhana perlu diduetkan lewat kreativitas Devina. Dengan Manthous sebagai produsernya, pasti akan jadi lagu yang disukai di Suriname.

Hal lain yang perlu dikagumi dari Devina adalah kefasihannya dalam misuh. Kata asyu begitu pas makhrajil huruf dan tajwidnya. Panjangnya dua harakat, tak lebih dan tak kurang. Sungguh pas, enak di telinga.

Medoknya pun gurih, mengutip Indro Warkop. Sekali lagi soal pakem. Lazimnya gadis ayu bakal melorot tingkat keayuannya seketika dia ngomong medok. Tapi apa daya itu semua ditepis Devina. Medoknya Devina aduhai dan semlohai. Sangat renyah dan elegan. Bahkan ia pun bangga dan mengaku gilo kalau ngomong lo-gue. Wahai saudara sejawat, sesuku, selidah medok, Lestarikan kebanggaan terhadap medok.

Saya sudah saja celotehan ndak jelas ini. Pengen sih makin ngalor-ngidul lagi, tapi sayang eek-ku sudah di ujung.

Susah memang kalau sudah di ujung

Susah memang kalau sudah di ujung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s