Karena tak melulu foto yang dicari para penikmat jalan-jalan. Bagi sebagian, pengalaman bepergian ke daerah baru bukan selalu soal memburu foto apik nan ciamik. Tidak, bukan soal kegiatan mendokumentasi tidak penting apalagi menarik. Tapi ada hal lain yang bisa dinikmati selain jepret menjepret.

Dalam penelitian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada 2003, ditemukan bahwa faktor budaya dan alam jadi penarik utama kunjungan wisatawan mancanegara. Sudah tentu seseorang berwisata untuk melihat dan merasai sesuatu yang beda dari habitatnya. Contohnya, orang gunung penasaran ingin ke pantai. Dan orang pesisir ingin mendaki guna tahu apa rasanya puncak gunung itu.

Sudah banyak sekali biro perjalanan dan tur operator yang menjual paket wisata dengan alam dan budaya sebagai produk utama. Namun, belum banyak yang mengajak wisatawan meresapi budaya (juga memahami sejarah) penduduk setempat.

Ceruk pasar alias niche market. Begitu pakar pemasaran menamainya. Di sanalah Campa Tour memilih perannya.

Salah seorang pendirinya, Fitri Utaminingrum, membagikan pengalaman dan wawasannya dalam kelas Encourage Club. Seperti kelas-kelas sebelumnya, kegiatan ini kami hadirkan untuk memperkaya wawasan PNS Kementerian Pariwisata pada khususnya, dan keseluruhan PNS pada umumnya.

Kelas ketiga ini berlangsung 6 Agustus lalu. Dan seperti yang sudah-sudah, beruntung sekali kami mendapatkan lokasi gratisan. Terima kasih GrowInc🙂

Fitri menceritakan bagaimana awal mula Campa Tour berdiri. Menyingkat yang panjang, mulanya Campa Tour belum mengkhususkan diri menawarkan paket wisata budaya dan sejarah. Diferensiasi menjadi alasannya. Harus menjadi beda agar tidak terkapar di tengah persaingan.

 

Kak Fina ketjeh ngemsi

Kak Fina ketjeh ngemsi

 

Mengapa budaya dan sejarah?

Karena dengan memahami sejarah dan budaya, dengan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, ada nilai dan pengalaman lebih yang bisa dibawa pulang. Campa Tour menjadikan paket yang mereka jual lebih bernilai karena ada pula misi sosial yang dibawa.

Salah satu contoh, Campa Tour mengajari penduduk di salah satu desa di NTT cara melayani wisatawan. Ada kecanggungan di awal, namun seiring waktu berjalan, mereka pun terbiasa.

Satu hal lainnya, dengan mengajak wisatawan memahami budaya dan sejarah, penduduk setempat merasa lebih dihargai.

Satu cerita dari Cirebon, seorang pengrajin topeng merasa senang saat dikunjungi wisatawan. Tak sekedar menonton dan menjepret, tapi juga mencari tahu sejarahnya. Sederhana, tapi si pengrajin merasa dihargai karena keingintahuan seperti itu jarang hadir ke mereka.

Ada pula cerita dari Sumba, yang mana seorang penduduk lokal senang kala wisatawan mau menginap di rumah tradisional.

“Kami senang merasa diperhatikan. Soalnya biasanya wisatawan cuma ke pantai dan berfoto,”. Sesederhana itu.

Dengan berinteraksi penduduk lokal , wisatawan juga diajak untuk memahami apa dan siapa mereka. Apa yang mereka inginkan, siapa mereka sebenarnya. Satu cerita lagi dari tanah Nusa Tenggara, seorang penduduk ditanya apa impian dan harapannya.

Kita di kota barangkali terbiasa memimpikan sekolah di luar negeri, kerja di perusahaan mentereng, punya cuan tak berseri, mobil mengkilap dengan plat nomor yang bikin dahi mengernyit, atau punya usaha dengan cabang di sana-sini. Si bapak dari Nusa Tenggara itu tidak.

“Saya ingin sawah ini tetap ada dan anak saya bisa melanjutkan bertani,”

Bapak tadi tiada berbicara pertumbuhan ekonomi di atas 6%, rasio gini yang membaik, rumah yang lebih baik, atau cuan untuk beli kendaraan. Bapak tadi cuma ingin sawahnya tetap ada untuk diwariskan ke anaknya.

Ini membuka mata bahwasanya Indonesia tak berpusat di Jawa saja. Dunia tak berputar mengorbit Jakarta. Jangan sih. Saya sedikit paham karena bertahun-tahun lalu mendengar banyak orang kasihan pada orang Karimunjawa yang cuma menikmati listrik sejak pukul 6 sore hingga 6 pagi. Gusti, sedari kecil saya menghabiskan liburan keluarga di Karimunjawa, topik listrik 12 jam itu tak pernah sekalipun terdengar di telinga.

Orang kota memang nggumunan. Padahal sebetulnya banyak juga orang Tokyo atau London nggumun bagaimana orang Jakarta kok betah sama kota yang angkutan massalnya nggak oke sama sekali. Kok ya betah naik Kopaja? Barangkali penduduk dunia pertama pun nggumun kok kita nggak modar karena makannya muluk pakai tangan? Duhdek.

Kunci dari gembok itu sederhana: memahami. Dengan lebih dekat pada budaya dan sejarah destinasi yang disambangi, wisatawan bisa tahu dan membuka pikirannya.

Ada membagi, ada pula memberi

Seperti sebelumnya, kelas ini dibuat dua arah. Giliran Kak Fitri bertanya pada peserta. Maka tiap-tiap orang menjelaskan satuan kerja dan tugasnya.

Bang David memberi pengertian mengenai sedikit arah kebijakan pengembangan pariwisata, yang mana promosi sangat ditekankan. Promosi dulu, menarik kunjungan dulu untuk dapat pemasukan, lalu perlahan destinasinya dikembangkan. Ya amenitasnya, kemudahan aksesnya, juga atraksinya.

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS :)

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS🙂

Kemudian dilanjutkan pula penjelasan dari satuan kerja pemasaran luar negeri, komunikasi publik, hubungan kelembagaan kepariwisataan, dan pengembangan destinasi. Tentu yang kami jelaskan tidak bisa mendalam. Sebagai pegawai baru, ada hal lain yang baru akan kami ketahui bertahun-tahun kemudian.

Tidak mengapa. Setidaknya dari kelas ini kami bisa saling memahami. Dari sisi pemerintah mendapatkan pandangan dari sudut pelaku usaha dan vice versa. Salah satunya, pemahaman bahwa destinasi dimiliki oleh pemda karena adanya otonomi daerah. Pemerintah pusat tidak bisa mengatur seenaknya karena garis komandonya horizontal, bukan vertikal.

Tidak selesai sampai di sini

Ini adalah kelas ketiga usai public speaking sebagai yang perdana dan dilanjutkan tourism beyond sightseeing. Kelas selanjutnya bisa saja bertema hubungan masyarakat, keuangan, maupun topik penelitian. Ada banyak kemungkinan, tapi muaranya satu: sumber daya PNS yang kian baik dan berwawasan. Semoga dilancarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s