Aku punya teman. Dia punya pulpen. Pulpennya selalu menuliskan nama-nama tempat makan ramai. Setiap kali bingung mau makan di mana, kawan tadi punya satu pakem: cari yang ramai. Yang ramai pastilah enak. Ada kalanya benar, ada kalanya tidak.

Kawan saya tadi, jika dihadapkan pilihan mendukung klub sepak bola, hampir pasti pilihannya berputar-putar di antara Manchester United, Real Madrid, Juventus, AC Milan, Barcelona, Inter Milan, atau Liverpool. Susah berharap dia akan menunjuk West Ham, Sevilla, apalagi Consadole Sapporo.

Logika ini menurut Rolf Dobelli (penulis buku The Art of Thinking Clearly) berakar dari masa pra sejarah. Yang mana kala itu manusia zaman dulu, ketika sedang berburu/diburu, akan cenderung mengikuti gerak keramaian ketimbang berpikir kemudian beraksi sendiri. Atas nama kelangsungan hidup.

Mereka yang pernah/sedang tinggal di Bandung, utamanya di area Setiabudi dan Gegerkalong, sudahlah akrab dengan warung makan AEP (Asli Enak Pisan) dan Sate Ayam di dekat Alfamart Gerlong Girang. Selalu ramai. Dan memang sedap masakannya.

Di beda kesempatan, ada pula tempat makan ramai yang cuma penuh orang tapi sedapnya medioker. Kusebutkan salah satunya: sate ayam Heri di Sabang, Jakarta Pusat. Mahal iya, sedapnya biasa saja. Es Teler 77, Solaria, dan tempat makan lain yang kebanyakan cabang tak usahlah dibicarakan. Nama memang besar dan membesar, tapi soal rasa malah mengecil.

Sewaktu berlibur di Belitung, aku dan istri mampir ke tempat makan (dan minum) yang ramai dan tak ramai. Harus adil. Ingat kata Pramoedya, terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran. Kami mampir ke Kopi Kong Djie dan Mie Atep. Tempat terakhir nanti saja kusebut namanya.

Warung kopi ini sudah ada ejak 1973. Tidak, aku tidak salah ketik. Lihat saja sendiri, tulisannya memang ‘ejak 1973’. Aku memesan coklat susu, istriku kopi susu. Harganya lebih murah dari tempat ngopi asal Amerika itu. Ya terang saja.

Mana kopi, mana coklat?

Mana kopi, mana coklat?

Aku tiada berbohong kawan

Aku tiada berbohong kawan

Tempat air diseduh pakai tungku

Tempat air diseduh pakai tungku

“Ini pakai kopi Belitung Pak?”

“Itu campuran arabika dan robusta. Kopinya dari Jawa dan Lampung,”

Yang namanya kopi Belitung itu tidak (atau belum) ada kawan.

“Di sini tidak ada yang tanam kopi.  Yang bikin khas ya campurannya itu. Kami racik sendiri,” kata si bapak yang lupa kutanya nama dia. (pembaruan: ternyata ada, menurut artikel ini)

Bapak itu generasi kedua. Kong Djie adalah nama bapaknya. Generasi ketiganya belum ketahuan siapa. Anaknya yang kuliah di Selandia Baru memilih kerja di sana.

Waktu itu Kamis malam. Warkop itu sepi. Kupikir akan sangat ramai.

“Di sini ramainya kalau pagi. Orang-orang ngopi sebelum kerja. Atau selepas absen mampir ke sini dulu sebentar,”. Sepagi itu, rayuan kasur dan selimut hotel masih begitu kuat Pak, ketahuilah.

Aku tak paham kopi. Dari dulu. Tapi kalau coklat yang kuminum itu sedikit aku bisa paham. Rasanya lebih pekat dan pahit dari yang biasa kalian minum wahai orang kota. Lebih sedap kubilang.

Dibanding kopi, aku lebih bisa lagi merasai mie. Sedap atau tidaknya lebih kentara. Mie Atep begitu tersohor bagi pelancong. Sepeda motor pun kami parkirkan di sana. Duduk, pesan, lalu makan.

Mienya lebih tebal dari mie burung daraaaaa enaknyaaaa nyambung teruuuus. Kuahnya cukup kental. Ada mentimun, kentang, dan satu bahan dari terigu yang biasa ada di capcay itu. Ah lupa, udang kecil pun disertakan.

Rasa kuahnya manis dan gurih. Berhubung kepekaan rasaku belum sedetail koki, cukuplah kubilang begini: enak, makanlah. Satu setengah porsi, karena satu kurang, dua kebanyakan.

Suasana di Mie Atep.

Suasana di Mie Atep.

Mie Atep ada di Belitung, bukan Sunda.

Mie Atep ada di Belitung, bukan Sunda.

Yang paling enak kusimpan paling akhir. Ingatlah bagaimana Leicester City bisa jadi juara Liga Inggris musim lalu. Sedikit sekali orang menduga. Rasio taruhannya saja 5000/1. Artinya, kalau memasang satu juta rupiah, kalian akan memenangkan lima miliar rupiah. Cukup untuk stok tempe seumur hidup.

Kedai Ishadi berjarak cuma 100 meter dari Green Tropical Village Resort. Menunya biasa saja: nasi goreng, pempek, kwetiau, mie goreng. Tapi ada juga yang kurang dikenal orang Jawa (pikirku sih begitu) semisal pantiaw.

Kupesan pantiaw karena menu nasi dan mie goreng sedang kosong. Pempek juga, karena sedang ingin saja. Makanan kami bawa pulang ke penginapan.

Oh tuhan. Kenapa bisa ada makanan seenak ini?

Itu adalah pempek terenak yang pernah kumakan. Peringkat pertama sebelumnya ditempati pempek KPAD Gegerkalong. Empat tahun lalu sekeluarga asal Palembang pindah ke Bandung, coba-coba berjualan pempek. Harganya kala itu Rp10.000.

Pempek di Kedai Ishadi ada dua jenis: lenjer dan kapal selam. Tapi ukurannya kecil. Yang bikin enak, kulit luarnya tidak terlampau keras. Dan yang paling juara adalah cukanya. Begitu gurih dan sedikit manis. Istriku yang doyan makan mengamini.

Pantiaw ternyata semacam kwetiau. Namun kuahnya kental. Lebih kental dari Mie Atep. Warna kuahnya putih ada tekstur kasar. Aku tak yakin itu apa, kemungkinan telur. Tapi mungkin juga bukan. (pembaruan: ternyata itu dari ikan, tapi apa jenisnya sulit dilafalkan) Rasanya gurih. Kwetiaunya biasa saja, tapi kuahnya istimewa. Cukup, aku jadi terbayang-bayang.

Pantiaw

Pantiaw

Pengusaha kuliner sekalian, mengukur tingkat kepuasan pelanggan itu sederhana. Jika pelanggan membeli lagi dan merekomendasikannya, maka ia puas. Seperti yang kulakukan ini.

Dari Belitung ini bisa kuambil pengalaman. Warung makan yang ramai kadang memang benar-benar sedap masakannya, tapi yang sepi tak serta merta berarti tidak sedap. Cobalah, itu tak akan membunuhmu. Ini bukan masa berburu dan tidak ada kjokkenmodinger di samping guamu.

©Shesar, Belitung 9 Oktober 2016

mager di atas kasur

3 responses »

  1. Eda says:

    gaya penulisannya keren…bikin betah dibaca sampe beres

  2. warung kopinya unik. masih menggunakan tungku. Baru tau kalo tnyata belum ada kopi belitung😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s