bajingan

Gambar: antarafoto.com

Bajingan itu lewat di depannya. Dan seperti biasa, ayam kampung dan serombongan bebek angonan sontoloyo mendului si bajingan. Bocah lelaki kecil yang selalu malas pakai baju itu mematung. Bajingan lewat itu menyeret kengerian dalam tiap putaran rodanya. Segunung rumput ditumpuk di belakang, dan ada tiga tangan warna coklat bergelayut di bawah tumpukan itu.

Ilham, si bocah tanpa baju itu, memandangi tangan-tangan itu dengan santai. Itulah satu dari keuntungan saat manusia kurang pengetahuan. Kecuali Ilham dan bocah-bocah lain, orang tahu kalau bajingan itu menyeret tumpukan mayat, yang agar tidak bikin mata orang melotot lalu menutupi mulutnya maka ditumpukilah dengan gunungan rumput.

Bagian paling mengerikan bagi warga bukanlah tangan-tangan coklat bernoda darah yang bergelayut. Adalah laju pedati si bajingan itu yang bikin orang gemetar, lelet tiada tanding. Bajingan itu tak membekali pedatinya dengan pecut. Dikombinasikan perangai si sapi yang santai tiada banding dan beratnya tumpukan mayat itu, lengkap sudah.

Sepanjang jalur si bajingan, bau anyir masuk tanpa permisi ke hidung kerumunan. Gunungan rumput tak kuasa menahan karena ada banyak sekali celah untuk dilewati bau anyir mayat. Dan konon, mayat komunis itu baunya paling juara. Jika bukan juara anyir, maka juara wangi.

Hari itu dan enam hari berikutnya, bau anyir tadi datang dan pergi silih berganti. Setiap kali bajingan dan pedatinya tampak dari kejauhan, warga berteriak girang. Mereka tahu, siksaan buat hidung akan berkurang kendati harus diangsur. Seminggu awal bulan Oktober itu, kebahagiaan di Halimunda bertumpu pada sosok bajingan yang membawa pergi mayat orang-orang komunis.

Kamino si tukang gali kubur tak sanggup menangani mayat yang jumlahnya ribuan. Mayat yang oleh warga semula dikubur selayaknya manusia, namun dengan rasa capai yang makin terhimpun, perlakuan layak itu hilang. Warga yang capai awalnya membiarkan mayat bergelimpangan begitu saja, memandangnya sehina seburuk tahi kucing yang biarlah begitu saja. Kutukan bau pun datang beberapa hari kemudian. Dibantu hujan yang sering dan udara lembab, segera saja mayat-mayat tadi jadi lebih busuk baunya dari tahi kucing.

Kamino si tukang gali kubur, dengan kesadaran penuh pada tugasnya, menyeret mayat dua demi dua pada kakinya lalu dilemparkan dengan agak sopan ke lubang. Ia kemudian membuat lubang lebih besar, muat untuk empat orang. Kemudian ia besarkan lagi untuk dimuati delapan orang, enam belas, tiga puluh dua. Dalam usaha untuk liang berukuran enam puluh empat, kakinya terkilir dan tangannya meluntir hingga bengkak. Terpaksalah ia ngaso.

Tak ada cukup warga yang sadar pada bengkaknya kaki dan tangan Kamino. Beberapa anjing adalah saksinya, tapi Shodancho lupa melatih mereka bicara. Sehingga bagaimana cerdas dan setianya anjing, ia menjadi tak ada guna dalam kasus Kamino ini karena Shodancho lupa melatihnya bicara. Halimunda pun dilanda kutukan bau anyir. Para komunis lokal itu gagal melenyapkan borjuasi, namun sesedikitnya mereka sudah berhasil meneror Halimunda dengan bau mayat mereka.

Setelah seharian diteror anyir komunis, lewatlah si bajingan. Shodancho bukan orang pertama yang melihatnya, tapi dialah orang yang punya ide cara melenyapkan komunis-komunis tengik ini sepenuhnya dari Halimunda.

“Hei kau bajingan, kemarilah!” maka si bajingan pun berhenti, turun dari pedati, dan menghampiri Shodancho.

“Bantu kami menyingkirkan komunis-komunis tengik ini. Pedatimu lebih dari mampu mengangkut banyak mayat sekali waktu.”

Si bajingan melihat tumpukan mayat setenang ia melihat tahi kucing.

“Apa imbalanku?”

“Kau boleh lewat lalu pulang kembali tanpa ada lubang peluru di kepalamu.”

“Tidak cukup adil.”

“Kau lebih suka ada lubang peluru di kepalamu?”

“Lakukanlah, maka kau rupa-rupanya memang lebih suka kota ini bau anyir.”

Si bajingan mengingatkan Shodancho pada kekurangajaran Maman Gendeng bertahun lalu, saat si preman masuk sesuka hati ke kantor dan mengancam dirinya.

“Beri aku seminggu ikan.”

Andai si bajingan meminta pada awal September, imbalan yang diminta itu remeh bukan main. Perkara peliknya, awal Oktober ini sebagian besar nelayan sudah jadi mayat yang menumpuk itu. Setiap tujuh dari delapan nelayan adalah anggota Serikat Nelayan, dan awal bulan ini anggota serikat diteriaki komunis. Itu sudah lebih dari cukup bagi para bawahan Shodancho untuk menembusi badan mereka dengan peluru panas.

Shodancho tak melihat ada pilihan lain. Si bajingan ini peduli anjing pada nyawanya sendiri. Tampak jelas bagi Shodancho, si bajingan ini menghargai nyawa sendiri begitu rendahnya.

“Istriku sudah mati dimakan cacing. Tak seorangpun anak ia tinggalkan sebagai penghiburku. Jadi, mati kautembak pun sapiku ini tak akan peduli, apalagi aku sendiri.”

Shodancho yang tak pernah menyukai orang yang lebih berani darinya pun memerintahkan prajuritnya berkeliling kota. Pintu demi pintu diketuk. Ikan demi ikan diminta, dikumpulkan dalam satu bakul besar.

“Ini imbalan awalmu. Besok kembalilah dan bawa lebih banyak komunis tengik ini.”

“Hanya ini tangkapan orang-orang yang kotanya ada di pesisir?”

Bakul besar itu hanya terisi setengahnya. Sudah tiga hari tak ada orang melaut.

“Satu hari sudah habis olehku sendiri, setengah bakul ini.”

Maka si bajingan dengan kecongkakan yang menemukan momentumnya, menyuruh Shodancho memberinya tiga bakul lagi. Tenang dan sangat pelan, si bajingan keluar dari Halimunda, disaksikan Ilham dan segenap warga yang berkerumun tertib.

Hambok dari tadi.”

Ilham Hambok begitu ia biasa dipanggil. Amin dan Ayu memberi nama anaknya Ilham Husni. Ilham kecil, entah siapa yang mengajari, dalam sehari mengucapkan kata hambok lebih dari dua puluh kali. Kebiasaan sejak umur lima tahun itu membuat nama Husni berganti jadi Hambok.

“Haaaaam, Ilhaaaaam!” maka jelas itu orangtua atau kerabat yang memanggilnya.

“Haaaaam, Hamboook!” maka terang sudah itu kawan-kawan dan warga Halimunda yang memanggil.

Warga Halimunda lahir dan besar sebagai pelaut, maka sangat sedikit yang punya alat bertani. Alat penggali tanah satu-satunya hanyalah milik Kamino. Namun Kamino yang satu itu diminta bersumpah pada ayahnya, yang juga tukang gali kubur, bahwa hanya keturunan mereka yang boleh memakai alat gali kubur itu.

Kebanggaan sebagai tukang gali kubur sudah dimulai sejak masa kakek Kamino. Dan alat gali kubur itulah simbol kebanggaan yang haram dioper ke sana kemari. Maka bersetialah ia dengan sumpahnya.

“Aku bersumpah pada ayahku yang bersumpah pada kakekku. Jika ada orang lain kecuali keturunan langsung yang memakainya, maka selesai sudah tugasku. Menyerahkan alat itu sama artinya mengakui diri ini tak sanggup lagi menggali.

“Silakan saja kalian pakai, tapi itu artinya aku tak akan menggali lagi.”

Rumah Kamino ada di area kuburan dan jauh dari anyir mayat komunis. Jadilah ia tak paham kesusahan warga kota. Sama tak pahamnya warga kota dengan kesetian Kamino dan keluarganya pada pekerjaan tukang gali kubur.

Warga mengalah dan memaksa diri melaut. Kesukaran lain menghadang karena mereka yang cakap melaut sudah kena rematik dan keriput kulitnya banyak nan tegas. Pemuda-pemuda yang cakap melaut sudah kadung ditembaki, dibacok, dan ditusuk awal bulan ini.

Saat warga susah payah melaut, dengan orang-orang tua yang kena rematik sebagai pembimbing, Ilham Hambok tak ikut-ikutan. Ia punya hal menyenangkan lain untuk dikerjakan: membaca koleksi cerita silat milik Kamerad Kliwon.

Di markas Partai Komunis Ilham Hambok biasa melakukannya. Kamerad Kliwon sendiri yang mengkurasi bacaan baginya. Silat Indonesia paling Ilham Hambok gemari, namun ketika jenuh ia berpindah ke silat China.

“Silatmu kuwi! Sudah kubilang namanya kungfu.”

Ilham Hambok tak pernah mau peduli. Silat ya silat. Peduli anjing itu silat Indonesia, silat China, ataupun silat Brasil.

———-

Sore hari saat Ilham Hambok sedang asyik membaca cerita silat di bawah pohon, ada suara yang biasa ia dengar. Ia tahu itu suara Kamerad Kliwon si pimpinan partai.

“Sudah sore begini koranku belum juga datang. Bocah pengantar itu mungkin sedang kena bocor ban.”

“Makanlah dulu. Sudah empat hari kau tak makan.”

“Mana ada orang yang bisa makan tanpa baca koran?”

“Ada. Orang yang waras, yang bukan seperti kau.” Adinda sudah lelah meladeni ketidakwarasan Kamerad Kliwon empat hari ini.

Empat prajurit bawahan Shodancho mendatangi Ilham Hambok.

“Bocah, di mana Kliwon?”

“Kamerad ada di dalam, menunggui korannya.”

“Kau ini komunis? Jangan panggil dia kamerad!” si prajurit ceking membentaknya.

“Tapi memang begitu ia biasa dipanggil orang-orang.”

“Orang-orang itu sudah mati, jadi berhenti memanggilnya kamerad!”

Seperti petunjuk Ilham Hambok, empat prajurit tadi masuk ke dalam markas partai. Dan seperti tiga hari sebelum ini, tidak ada siapapun di sana.

“Bohong! Tidak ada siapapun di sini bocah!”

Hambok dilihat yang betul. Tadi Kamerad duduk di ruang tamu, dibuatkan teh Adinda.”

Ada teh di sana memang. Prajurit yang lebih gempal memegang cangkir. Masih hangat. Kebingungan, empat prajurit menggeledah markas selama tiga puluh lima menit untuk tidak menemukan apapun.

Empat prajurit pulang ke Shodancho. Yang ceking mampir dulu ke Ilham Hambok, menempeleng bocah tanpa baju itu.

“Jangan lagi panggil dia kamerad!”

Ilham Hambok masuk ke markas, hendak mengembalikan buku cerita silat China ke rak. Di sana ada Adinda tengah membaca majalah partai. Kamerad Kliwon tidak membaca apapun dan membiarkan teh hangat mendingin.

“Sudah hampir maghrib dan koranku tak juga diantarkan bocah itu. Ia berhutang empat koran. Jika ketemu akan kutempeleng bocah itu.”

“Sebelum itu terjadi, akan kutempeleng dulu kepalamu.” Adinda masih kesal, jelas sekali. Kamerad Kliwon peduli anjing pada itu dan terus gelisah menunggui korannya.

Esok hari adalah jadwal si bajingan mengangkut mayat. Satu bakul ikan sudah disiapkan warga, ikan-ikan yang bau amisnya kalah telak dari anyir mayat komunis. Ikan-ikan yang mengakibatkan satu orang tua kena rematik mati karena dinginnya angin malam lautan.

Orang-orang lupa kalau pedati si bajingan digerakkan sapi, binatang yang jauh kalah lincah dari kuda. Shodancho dan warga gemas menunggui si bajingan yang lama betul sampainya.

“Bajingan! Lama betul sampainya!” gerutu seorang warga. Bertahun-tahun kemudian, dalam setiap waktu menunggu yang melebihi batas kesabaran, kata bajingan akan keluar dari mulut.

Menaruh bakul ikan di sampingnya, si bajingan bergerak pelan keluar dari Halimunda. Seperti yang sudah terjadi, ia tak membekali pedati dengan pecut. Maka sapi pun berjalan ogah-ogahan seperti biasa. Maka penduduk pun menutupi hidung seperti dua hari lalu.

Hambok cepat sedikit jalannya!” Ilham Hambok kecil tak tahan bau anyir kali ini.

Si bajingan menoleh ke si bocah tak berbaju, memandangnya sedingin es balok yang biasa dipakai nelayan agar ikan tangkapan tak buru-buru amis.

——————-

Ilham Hambok baru pulang dari melaut pagi itu. Tangkapan tiga hari kemarin lebih dari lumayan. Dibantu tiga orang kawan, kapalnya membawa pulang sembilan bakul besar ikan. Cukup untuk memenuhi nafsu makan sepersepuluh Halimunda dua hari ke depan.

Ilham Hambok dan kapal kecilnya melaut empat hari sekali, selalu membawa ikan yang sekedar cukup. Dengan sengaja Ilham Hambok mewarisi kelakuan anggota Serikat Nelayan dulu: menangkap ikan secukupnya. Meski tanpa serikat, Ilham Hambok dan pemilik kapal lain sepakat mewarisi kebiasaan pendahulu mereka. Mereka enggan suatu hari dipaksa tak melaut lalu harus bertani. Karena orang Halimunda, kota pesisir itu, tak cakap dan tak pernah berminat pada tetek bengek cocok tanam.

Membawa uang hasil jualan ikan, Ilham Hambok ingin segera ngaso di rumah. Dalam setiap perjalanan menuju rumah, Krisan anak Kamerad Kliwon selalu menyapanya.

“Kapan Kamerad Kliwon pulang?” begitu ia sering bertanya, membalas sapaan Krisan.

“Entahlah” begitu Krisan selalu menjawab jujur. Namun pagi itu Krisan berbohong, Adinda ibunya menyuruh begitu. Kamerad Kliwon sudah beberapa minggu pulang dari eksil di Pulau Buru, tapi istrinya ingin tak seorangpun tahu suaminya sudah pulang.

Beberapa langkah dari jawaban bohong Krisan, Ilham Hambok mendengar suara yang tak asing di telinganya. Itu suara orang bercinta. Itu suara dari dalam rumah Shodancho. Ilham Hambok yang masih tetap malas pakai baju, namun kini untuk memamerkan kekar tubuhnya, ,mengintip. Bukan Shodancho yang bergulat dengan Alamanda istrinya. Itu Kamerad Kliwon yang sudah susut badannya.

Tentu saja ia tak segera pergi, apalagi sekedar menutup mata. Ilham Hambok menikmati aksi yang ia sebut sebagai silat kasur. Beberapa kali ia sendiri pun bersilat kasur dengan modal jualan ikan-ikannya. Uang itu hampir selalu berakhir di tangan Dewi Ayu, pelacur tua namun yang paling legit di Halimunda. Pelacur tua yang adalah ibu Alamanda dan Adinda.

Tentu saja Ilham Hambok butuh pelarian setelah memelototi silat hebat itu. Larilah ia ke rumah Dewi Ayu, memberinya uang, lalu melakukan silat kasur dengan jurus-jurus versinya sendiri. Bahkan setelah silat yang berkali-kali itu, Dewi Ayu masih tetap legit bagi Ilham Hambok.

Hambok pelanggan setia diberi diskon.”

“Asal kau mau legitnya juga kudiskon.” Tentu saja Ilham Hambok lebih memilih bayar mahal.

Masih tanpa baju, Ilham Hambok bangun dari tidur nyenyaknya. Ini hari liburnya dan ia ingin ke rumah Kamerad untuk minta dipinjami cerita silat. Dari jauh, ia lihat kerumunan di jalan raya Halimunda. Tetap tanpa berbaju lebih dulu, ia mendekati kerumunan itu. Sebelum sampai, ia membeli koran dari seorang bocah tak beralas kaki. Koran itu akan ia tukar dengan buku cerita silat milik Kamerad Kliwon.

Memegang koran di tangan kirinya, Ilham Hambok bernostalgia dengan pemandangan belasan tahun lalu. Pemandangan pada awal Oktober yang penuh teror bau anyir mayat komunis. Si bajingan itu kembali lagi. Mengangkut mayat komunis lagi.

Kamerad Kliwon mati gantung diri. Kamerad Kliwon mati sehari setelah adu silat kasur dengan Alamanda, cinta lamanya. Kamerad Kliwon mati setelah buang peju di kelamin Alamanda yang ia idamkan puluhan tahun silam. Kamerad Kliwon mati tanpa membaca koran hari ini.

“Bajingan! Tunggu!” kerumunan menoleh ke Ilham Hambok.

Hambok jangan buru-buru!”

“Dulu kau pernah menyuruhku jalan cepat-cepat kan? Kau bocah yang tak pernah pakai baju itu .”

Peduli anjing dengan sindiran si bajingan, Ilham Hambok mendekati mayat, memberikan barang di tangan kirinya ke tangan kanan Kamerad Kliwon.

“Kamerad, koranmu hari ini sudah datang.”

 

Shesar Andriawan

Jakarta, 30 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s