gambar: efftronics.com

gambar: efftronics.com

Dalam dinginnya hujan bulan Februari, seorang bapak melindungi koran dagangannya di bawah rimbun pohon mangga. Seorang bocah kecil lari ke sana ke mari menikmati derasnya air yang tumpah dari awan. Cerita yang didengar si bocah tadi, hujan adalah waktu ketika tuhan menangis. Menangis karena ada anak yang bandel bukan main. Dasar bocah, mereka malah terus membandel karena hujan bukanlah penyakit, hujan adalah teman bermain dan belajar.

Saat bapak tadi masih menunggu tuhan berhenti menangis, si bocah beberapa kali hampir mati disikat mobil. Bocah tadi kecipak-kecipak asyik di perempatan jalan ibukota. Mobil-mobil berhenti dan meneriaki si bocah,

“Di trotoar saja anak setan!”

Salah. Orangtua si bocah memang garong kampung, tapi kelakuannya masih belum setara setan. Kadangkala setan, diiming-imingi jin, suka bikin istri orang hamil. Kadang malah bukan orang, kambing dan ayam pun setan sodok daging jepitnya. Legit sih, mau bagaimana lagi. Si orangtua bocah itu meski garong tapi hanya menyodok istrinya sendiri. Tapi kalau bosan, ia bisa gonta-ganti istri. Setahun ada lah dua kali.

Si bapak sedih melihat mobil-mobil tadi. Tidak, ia peduli anjing pada si bocah, sekalipun ia mati disikat mobil atau penyek dilindas truk sekalian. Lampu merah adalah rejekinya, sebaliknya hujan adalah sial buatnya.

Dua belas menit setelah bocah tadi diteriaki anak setan, tuhan baru bisa berhenti menangis. Bapak tadi membopong lagi koran-koran dagangannya ke taman kecil pembatas jalan. Menunggu 210 detik untuk lampu merah selanjutnya.

“Koran Pak? Beritanya anggota dewan selingkuh lagi,”

“Itu berita?” pria berkumis lebat di kursi supir bertanya.

“Memangnya bukan Pak?”

“Bapak makan itu berita tidak? Bapak jualan koran itu berita? Atau saya berangkat ke kantor pakai mobil, itu berita tidak?”

“Tidak lah Pak. Itu kan sudah biasa, sehari-hari juga begitu,”

“Lha iya sama kalau begitu dengan selingkuhnya anggota dewan tadi. Apanya yang berita?”

Lampu hijau menyala 60 detik sesudah itu dan mobil-mobil melaju terburu-buru. Si bapak duduk di taman, kembali menunggu lampu merah. Lampu hijau adalah saat-saat si bapak membaca berita di koran atau mencicil buku yang ia bawa dari rumah.

Merah kembali menyala. Si bapak menawarkan lagi korannya ke mobil-mobil.

“Ke yang lain saja Pak, saya sedang pusing!” galak betul pikir si bapak.

Lampu merah habis jatah. Belum satupun koran laku.

Lampu hijau lagi, lalu merah. Si bapak masih berusaha.

“Koran Pak? Ada berita tahun depan ekonomi kita tumbuh tujuh persen,”

Dor. Otak si bapak muncrat kemana-mana dibedil pemilik mobil. Si bapak mati, lampu merah habis jatah, mobil melaju terburu-buru. Matinya si bapak dianggap sama saja seperti matinya tikus terlindas mobil. Ya sudah, mati saja sana.


Om-om usia 35 tahun buru-buru menyelesaikan pekerjaan kantornya. Ada telepon, 210 detik lalu, mengabarkan pacarnya semaput disenggol truk. Pekerjaan hari ini tak banyak, untunglah.

Om-om 35 tahun yang rambutnya masih tebal berjalan ke parkiran, menuju mobil kodok yang baru lunas cicilannya bulan kemarin. Ia baru sampai depan warung Mbok Belek, kira-kira satu isapan batang rokok dari kantor, saat atasan menelepon.

“Ke kantor ya, besok direktur audiensi dengan menteri. Kamu bikinkan materinya,”

Asu, babi, bedes, sapi kudisan meloncat dari mulut si om. Putar balik ia dengan gerutuan yang tak karuan.

Membongkar data sana lalu sini, tanpa bantuan kawan-kawan yang semuanya memang sudah pulang, ia butuh 60 menit untuk membuatkan materi itu.

“Ini ya Pak, silakan dikoreksi. Kalau sudah tak ada revisi, saya izin pulang Pak,”

“Ah ndak usah, saya percaya sama kerjaan kamu,”

Si om lalu kembali menginjak pedal gas. Ia sudah mengisap habis dua batang rokok, saat ada telepon lagi. Sepertinya asu akan keluar lagi dari mulutnya.

“Tolong kembali ya, ada revisi dari direktur,”

Asu, babi guling, ayam cemani, prenjak mambu. Si om putar balik lagi, dengan gerutuan yang lebih tak karuan.

“Buka dokumennya, kata direktur nama beliau salah tulis. Harusnya Muhammad, bukan Mohammad. Pakai u, bukan o,” ah sial, kenapa u dan o harus bertetangga pula.

“Itu saja Pak?”

“Iya kata beliau,”

“Sampai harus memanggil saya?”

“Saya ndak biasa pakai Ubuntu, dari dulu pakai Windows,”

“Kan Bapak bisa pakai komputer saya,”

“Ada password-nya kan?”

“Bisa saya kirimkan lewat SMS,”

“Ya sudah, kerjakan saja jangan banyak tanya. Kamu sudah terlanjur di sini kan,”

Kadal pohon, brontosaurus, buaya buntung, kirik.

“Sudah Pak, beres,”

Si om melajukan mobilnya lebih cepat. Menjauh dari kantor adalah hal pertama yang ia inginkan sore itu. Bahkan lupa sudah pada pacarnya yang semaput tersenggol truk.

Dering telepon mengusik lagi. Bodoh! Kok lupa kumatikan sekalian ponselnya! Kepalanya makin mendidih.

“Halo Pak, ada apa lagi?”

“Kembali lagi ke kantor ya. Direktur minta dibuatkan infografis,”

“Infografis? Saya tidak paham desain visual sama sekali Pak,”

“Bukannya kamu lulusan DKV?”

“Saya sastra Belanda,”

“Loh salah?”

“Tejo yang lulusan DKV Pak,”

“Tapi Tejo sedang cuti,”

“Lalu?”

“Ke kantor saja, saya sudah kadung bilang bisa ke direktur,”

Bajing mencret, singa berak, macan korengan. Putar balik lagi ketiga kalinya. Tiap putar balik berimbas pada kosakata makian yang tambah kaya.

“Kamu ada teman yang bisa buat infografis?”

“Ada, mau saya panggilkan?”

“Bagus. Kita berdua temani kawanmu itu bekerja,”

Kawan itu butuh waktu satu pertandingan sepak bola untuk menggarap pesanan direktur.

“Kamu bayar dulu ya, nanti diganti bendahara,”

Celeng alas.

Si om pulang. Tiga isapan batang rokok sampai ia berhenti di perempatan. Seorang pedagang menawarinya koran.

“Tidak Pak, saya sedang pusing. Malas baca koran,”

Setengah isapan batang rokok, bukan oleh mulut tapi angin pendingin udara, saat si om tiba di perempatan kedua.

“Koran sore Pak?”

“Tidak! Saya sedang malas baca koran!”

Si bocah pedagang koran kaget, nyaris menangis. Itu bentakan pertama dalam karir berdagang korannya yang dimulai tiga bulan lalu.

Mendekati perempatan ketiga, telepon berdering. Suma, pacarnya, meninggal akibat pendarahan di otak. Ia tak semaput biasa. Senggolan truk membuat kepalanya bocor membentur pinggiran trotoar. Semaput adalah kebohongan sepupunya agar ia tak panik

Si om menangis melolong. Segala macam nama binatang, kecuali antelop dan cheetah, keluar sebagai sumpah serapah. Dari jauh, pedagang asongan merapat ke tengah jalan. Tolong, jangan koran lagi.

“Koran Pak? Ada berita tahun depan ekonomi kita tumbuh tujuh persen,”

Diam kau pak tua. Pacarku modar dan kau menawariku koran? Kubedil sekalian kepalamu. Dor.


“Bu, bapak jadi beli hadiah aku ulang tahun hari ini?”

“Doakan koran bapak laris ya Nak,”

“Aku mau tamiya ya Bu,”

“Kalau koran bapak laris, pasti dibelikan Nak. Kamu berdoa saja,”

Sampai malam, tamiya tak kunjung didapat. Tidak juga besok, lusa, minggu depan, bulan depan, juga selamanya.

©Shesar Andriawan

Jakarta, 25 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s