“Kami justru bertanya, sejak kapan sunni lahir?” pria di hadapan saya malah mengajukan pertanyaan yang tak bisa kami jawab.

Sabtu kemarin, saya dan istri berdialog dengan seorang syiah di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Jika bukan karena kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, saya yakin tak akan repot-repot berdialog dengan orang syiah. Mencap mereka sesat dan mendoakan yang buruk jauh lebih mudah dan praktis.

“Seorang pelajar sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran,” seingat saya itu ucapan Nyai Ontosoroh alias Sanikem kepada Minke. Mbah Pram, semoga surga jadi tempatmu.

Sebagai orang yang lahir dan besar di lingkungan sunni (tepatnya NU sampai lulus sekolah dan Muhammadiyah semasa kuliah), tentu saya ikut dalam gelombang orang yang menganggap syiah sesat. Tak sampai mendalami betul, tapi setidaknya saya pernah dengar bahwa syiah itu salatnya beda (cuma tiga waktu) mengkultuskan Ali sembari mencaci Umar, Abu Bakar, dan Utsman, juga berniat merusak akidah umat Bahkan dalam ceramahnya, Khalid Basalamah bilang syiah dibuat oleh sekelompok orang Yahudi.

Sekali lagi, matur nuwun kepada Mbah Pram karena berkat wejangannya saya jadi tertarik untuk membaca buku yang menjelaskan apa itu syiah. Salah satunya karangan Quraish Shihab (yang tentu saja dituding banyak orang sebagai syiah). Karena ternyata tudingan rezim Soeharto terhadap PKI tidak semuanya benar, saya berpikir serupa terhadap syiah. Bedanya, tak ada kesempatan untuk berdialog dengan orang PKI (karena sudah disikat habis). Jadilah sore itu saya ke Pejaten untuk mempraktikkan wejangan Mbah Pram.

 

Bagaimana Syiah Lahir

“Pak, saya ingin tahu syiah itu apa dan kapan lahirnya? Bedanya apa dengan sunni?” yang ia jawab dengan balik bertanya apa saja yang saya ketahui soal syiah. Saya jlentrehkan sedikit yang saya tahu tadi.

“Yang saya tahu dari buku sejarah yang ditulis orang netral (bukan sunni bukan pula syiah. Carilah buku Muhammad dan Umat Beriman karya Fred M. Doner), syiah itu lahir setelah masa kepemimpinan Utsman,” dari buku itu saya percaya, lahirnya syiah (ataupun sebaliknya, sunni) hanyalah urusan politik belaka.

Dan Pak Ahmad membahasnya mulai dari beragam versi. Ada yang bilang sejak wafatnya Rasulullah, ada pula versi sejak wafatnya Utsman.

“Kalau menurut kami, syiah itu tidak pernah muncul. Syiah itu sudah ada sejak islam ada,” lalu ia sambung dengan pertanyaan pembuka tulisan ini di atas.

Ia menjelaskan, syiah justru mengikuti tuntunan Rasulullah yaitu bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin sah bagi umat sesudah wafatnya Rasulullah. Argumen itu ia perkuat dengan menceritakan bahwa Nabi Muhammad menegaskan itu lebih dari sekali. Maka, bagi syiah justru salah jika mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman sementara Rasulullah sudah duluan mendapuk Ali sebagai penerusnya. DI mata syiah, justru sunni yang menyeleweng.

Jika tak salah ingat, pernah ada tulisan (saya betulan lupa ada di buku/artikel apa) yang menjelaskan alasan umat memilih Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin adalah kesalehan mereka. Ali dipandang tak cukup saleh dan cuma menang status sebagai mantu dan keponakan Rasulullah. Utsman sendiri konon dipilih karena selain saleh juga kaya, sehingga bisa membantu rencana umat Islam berekspansi ke wilayah sekitar umat berada (tentu saja fakta ini harus dicek ulang sebelum dipercaya mentah-mentah).

Sampai di sini, dugaan tentang perpecahan sunni dan syiah adalah perkara politik hampir terbukti benar. Dan jika versi tersebut valid, maka versi yang menyebut syiah dibuat oleh Yahudi adalah salah belaka.

 

Mazhab

Pak Ahmad kemudian menjelaskan tentang salat tiga waktu. Ternyata persis seperti yang dituliskan oleh Shihab (Quraish ya, bukan Rizieq), yaitu syiah tetap salat lima kali, 17 rakaat, namun disingkat dalam tiga waktu: subuh, dzuhur/ashar, dan maghrib/isya. Penjelasan saya tak akan bisa sebagus Pak Ahmad maupun Prof Quraish, namun sederhananya ada waktu irisan di antara dzuhur dan ashar serta maghrib dan isya (ingat lagi diagram venn)  yang bisa digunakan untuk mengerjakan dua salat dalam sekali waktu.

“Tapi tidak langsung delapan rakaat. Tetap setelah salat dzuhur salam dulu, wirid dulu, baru salat ashar. Jadi salatnya tetap lima, tetap 17 rakaat,”

Penjelasan yang ia berikan, dalam Quran tertulis (belum saya cek ulang ada di surat mana ayat berapa) waktu salat adalah sebelum fajar, tengah hari, dan terbitnya malam. Maka, tiga waktu itulah yang jadi rujukan syiah.

“Ini kan sudah dimudahkan oleh Allah, jadi kenapa harus dibuat sulit oleh manusia,”

Tapi sah-sah saja jika mau salat lima waktu. Pak Ahmad berkisah, ia terkadang melakukannya. Pernah satu ketika usai salat maghrib ia tak langsung salat isya karena ojek pesanannya sudah datang. Ia putuskan untuk segera pulang, lalu salat isya di rumah.

Saat berdialog, ada seseorang yang sedang salat. Sebagai alas jidat, ada benda sejenis kayu dan batu. Dijelaskan Pak Ahmad, hakikatnya salat itu harus menyentuh bumi, maka kepala wajib bersentuhan dengan sesuatu yang alami seperti batu atau kayu.

Posisi tangan tidak ada di dada, namun sejajar paha. Beda dengan kebanyakan orang Indonesia memang, sehingga jadi bahan yang empuk untuk mencap sesat. Menurut penuturan Pak Ahmad, syiah menganut mazhab Jafar as Sadiq. Dengan fasih ia menjlentrehkan empat mazhab utama sunni: Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Dilanjutkan dengan urutan ilmunya: Hambali berguru ke Syafii yang berguru ke Maliki yang berguru ke Hanafi.

“Jafar as Sadiq gurunya Hanafi, jadi orang syiah bermazhab yang ilmunya paling tinggi. Gurunya keempat imam itu,”

Jika penganut mazhab Syafii membaca qunut saat salat subuh sementara penganut Hambali tidak, penganut Jafar as Sadiq malah membaca qunut di semua salat. Pak Ahmad juga menjelaskan bahwa maghribnya syiah berbeda kurang lebih 15 menit dari sunni. Itulah mengapa saat azan maghrib berkumandang, orang tak akan melihat orang syiah segera berbuka.

 

Imam

Syiah meyakini Quran adalah sesuatu yang saking kompleksnya, tidak bisa diajarkan  menyeluruh dalam waktu singkat. Syiah meyakini butuh masa 12 imam untuk mengajarkan kandungan Quran dengan menyeluruh dan benar. Dimulai dari Ali dan berakhir di Imam Mahdi nanti.

Pak Ahmad berkata, Rasulullah hanya punya 23 tahun untuk mengajarkan isi Quran. Dan bagi syiah waktu itu terlalu singkat dan tidak cukup, apalagi Quran hanya dihafal, belum ditulis saat itu. Maka dibutuhkan 12 imam untuk meneruskan kerja besar Rasulullah. Kedua belas imam itu semuanya adalah Ali dan keturunannya, dengan kata lain semuanya menurunkan garis darah Nabi Muhammad.

Tentang azan syiah yang menyelipkan kalimat sanjungan terhadap Ali (asyhadu anna ‘aliyan waliyullah), ia menjelaskan bahwa itu bukan bagian azan, namun hanya kalimat ikrar syiah terhadap legitimasi kepemimpinan Ali. Kalimat seruan yang menjunjung Ali kabarnya juga ada pada syahadat (sehingga lagi-lagi jadi bahan mencap sesat), dan Pak Ahmad menegaskan itu pun hanya ikrar. Oleh sebabnya tak sah syahadat dan azan jika diembel-embeli ikrar terhadap Ali.

Azan dan iqamah syiah sendiri berbeda. Yang paling kentara adanya kalimat hayya ala khoiril amal. Penjelasannya, kalimat itu adalah seruan untuk kembali beramal. Pak Ahmad justru bertanya mengapa kalimat itu hilang, padahal diamalkan semasa hidup Rasulullah.

“Apakah Bilal pernah azan seperti itu?” tanya saya.

“Pernah,”

 

———————————————–

Pak Ahmad terburu-buru menutup dialog karena harus membimbing jamaahnya. Beberapa orang sedang ndarus Quran saat kami berdialog. Ia berjanji akan menyediakan waktu jika kami punya pertanyaan lebih lanjut.

Di akhir dialog, Pak Ahmad mengaku ia tahu banyak tentang sunni karena ia lahir dan besar di keluarga sunni. Ia pun bercerita tentang mengapa ia tak khawatir menyebut terang-terangan nama tempat ini di media. Tak takut jika suatu saat Islamic Cultural Center di Pejaten ini digeruduk kelompok radikal.

“Karena memang dari awal sudah pada tahu,”

Ada obrolan yang tak akan saya tulis di sini, yaitu pandangannya terhadap Aksi Belas Islam, juga soal Rizieq Shihab dan FPI. Yang bisa saya pastikan (dari pengakuannya), ada sejumlah orang syiah yang ikut di Aksi Bela Islam tempo waktu itu.

Benar kata Kyai Anwar Zahid, Ahok itu orang hebat karena bisa membuat orang Islam bersatu. Bahkan syiah dan sunni sekalipun.

©Shesar

Jakarta, 24 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s