“Chaniago itu nama batak lur,”

“Kalau bodoh jangan tanggung, jelas-jelas itu nama minang,”

“Kau ini. Bodoh jangan dipiara, kambing dipiara bisa gemuk,”

“Nah itu! Kau mengutip Warkop DKI barusan. Lupa kau film Warkop yang ada koki Robert Davis Chaniago? Ahli masakan Prancis asal Padang!”

“Kalau belum pernah nonton, memang kenapa?”

Bu Asih cuma geleng-geleng dan tersenyum melihat kelakuan dua pelanggannya. Perempuan tua itu memperhatikan sambil mengelap piring dan sendok. Garpu dan mangkok sudah beres lebih dulu.

Zul, yang bilang Chaniago nama batak, mahasiswa semester enam di sebuah kampus yang tidak biasa. Bagaimana bisa dibilang biasa kalau kampus berembel BUMN besar ada di gang kecil. Saking kecilnya, kalau ada mobil lewat semua kendaraan lain, motor sekalipun, kudu menyingkir. Panjul, lawan debat Zul tadi, masih satu kampus dan satu angkatan tapi lain kelas. Kedua remaja ini sering mampir makan di Kantin 52.

Kantin 52 memasang papan tulis putih di dinding. Ada spidol hitam dan biru untuk urun suara.

“Bu, ayam serundengnya enak! Besok lagi ya!” Zul sepakat.

“Kantin 52 masakannya mirip buatan ibuku. Enak!” Panjul tak paham karena ibunya nyaris tak pernah memasak.

“Orek tempe dong Bu, tanggal tua nih :(“ dasar proletar.

“Harganya jangan naik ya Bu, pliiiiiis” ini juga proletar.

“Bu Asih bikin ayam cordon bleu dong, ya ya ya?!” ada juga borjuis menyusup.

Zul dan Panjul tak pernah ikut mencoret-coret. Langsung bilang saja Bu Asih apa susahnya. Dua remaja konservatif. Tapi Zul segera mengkhianati Panjul pada satu sore Februari yang dingin.

Sayup-sayup, hampir kalah dari rintik hujan, ada musik mengalun entah dari mana. Zul langsung berhenti makan. Ia tahu betul lagu itu. Judulnya ia lupa, tapi itu dari Harvest Moon, gim kesukaannya.

“Itu awewe yang main piano. Kadang makan di sini kok Jul,” maksud Bu Asih Zul, tapi ia selalu mengganti z dengan j.

“Siapa Bu?”

“Tanya sendiri dong, hehehe,” goda Bu Asih.

“Ah pelit nih Ibu,” Zul menyelesaikan makan sambil mendengarkan lagu itu. Nikmatnya.

Zul pulang membopong rasa penasaran. Semua gara-gara saat membayar, Bu Asih bilang kalau gadis itu cantik. Mana rambutnya pendek pula. Untung tak ditambahi lagi ia berkacamata, bisa langsung Zul sembah dan puja nanti.

Tiga hari berlalu tanpa ada ide mampir di kepala Zul. Lewat saja tidak, apalagi mampir. Di kantin, Zul memelas lagi ke Bu Asih. Siapa namanya? Kuliah atau sekolah? Di mana? Kapan makan ke sini lagi?

Zul duduk malas-malasan sambil menyantap ayam serundeng dan orek tempe kesukaannya. Ia melihat dinding. Ada papan tulis baru.

“Habis dibersihin ya Bu?”

“Bukan, itu memang ibu beli baru,”

“Ibu memang selalu beli baru Zul. Istri saya ini maunya coretan di papan tulis disimpan. Sampai numpuk di rumah tuh,” suami Bu Asih ikutan.

Zul mengambil spidol dan menulis Ia tersadar dari kedunguannya sekian lama..

“Hai kamu yang mainin lagu Harvest Moon pakai piano, siapa namamu? ~ Zul”

Demi balasan gadis piano, Zul salat lalu berdoa memohon welas asih-Nya. Cih, kalau ada maunya saja.

“Wah kok tahu itu lagu Harvest Moon. Nama aku Adel,”

Zul girang seperti bocah kecil diberi permen.

“Kok aku jarang lihat kamu makan di sini? Padahal aku sering makan di sini,”

“Kalau ada menu kesukaanku, aku selalu makan di sana kok,”

“Adel suka apa?”

“Sukanya kamyuuuuuuuuu,”

“Apa aja asal sama aa deh,”

“Yang gratis pokoknya,”

Brengsek. Anak-anak pelanggan kantin lain yang menulis itu. Lima hari berlalu tanpa balasan dari Adel. Tapi alunan piano itu masih ada. Zul sesekali mendengarnya saat sedang makan.

Hari ini Zul absen makan di Kantin 52. Tadi ia mendapat balasan SMS Bu Asih. Hari ini menunya terung. Ia benci terung. Tiap kali ada terung, ia memilih makan di tempat lain dulu. Melihatnya saja muak. Memakannya? Tidak, terima kasih banyak.

Gara-garanya, Zul pernah baca surat pembaca di sebuah majalah pria dewasa. Seorang perempuan suka memakai terung sebagai torpedo pemuas syahwatnya. Zul memandang terung sebagai sesuatu yang jijik bukan main.

“Kan pasti dicuci dulu lur sebelum dimasak,” argumen Panjul masuk akal. Tapi persoalan terung tak pernah membuat Zul punya akal. Emoh. Titik.

Maka ia selalu bertanya pada Bu Asih apa menu hari ini. Dan Bu Asih selalu ingat Zul benci terung.

Siang itu terik. Di halaman 128 Burung-burung Manyar, ia lapar tak tertahankan. Bu Asih hari ini masak apa ya?

“Ibu nggak masak terung,”

“Oke Bu. Siapin kesukaan Zul ya,” maksudnya nasi ayam serundeng, orek tempe, dan es teh manis.

“Paham ibu,”

Zul berjalan ke Kantin 52. Kos dan kantin cuma berjarak satu blok. Hari ini Panjul ada kuliah, jadi ia sendirian.

Kantin 52 tengah ramai siang itu. Hanya tersisa dua kursi kosong, saling berhadapan. Bu Asih memberi tanda jempol. Artinya makanan sudah siap, Zul tinggal duduk dan makan.

Tersaji di hadapan Zul: es teh manis, orek tempe, dan terung balado. Bajigur! Terung! Zul melotot ke Bu Asih. Belum sempat protes, Bu Asih menepuk bahunya dan bilang.

“Sudah, makan saja dulu. Adanya cuma itu,” bohong. Masih ada ayam serundeng tapi sengaja Bu Asih taruh di dapur.

Zul masih ogah memegang sendok. Ia cuma minum es. Cuaca siang itu panas betul.

“Bu, terungnya masih banyak kan? Balado kan?”

“Iya, pedas kok. Kamu suka kan?”

“Hehehe iya. Ibu paling tahu deh,”

Manusia macam apa sih yang gemar terung. Pasti golongan laknat. Calon penghuni rumah sakit jiwa. Zul mengutuk dalam diam.

“Suka terung juga ya A? Itu terungnya banyak banget,” orang yang memesan terung tadi menanyai Zul. Suara perempuan.

Rambutnya pendek. Tubuhnya mungil dan langsing. Mancung hidungnya pas. Tebal alisnya sempurna. Punya lesung pipi. Dan pakai kacamata. Zul diam lagi. Jenis diam yang berbeda dari sebelumnya.

Sembah Zul, sembah! Puja Zul, puja! Entah siapa yang berbisik di kepalanya.

Zul mau saja melakukannya andai gadis cantik itu tidak memesan terung. Sekarang Bu Asih sudah menyajikan pesanan si gadis di meja. Di hadapan Zul ada dua piring berisi terung balado. Nasib macam apa ini.

“Eh sebentar A, aku mau nulis di papan tulis dulu. Kelupaan dari lama,”

Sebentar, sebentar. Kelupaan? Dari lama? Rambut pendek… ah bukan pastinya. Dari belakang punggung Zul, Bu Asih berteriak,

“Del, mau minum apa?”

Eh? Del?

“Jus terung belanda Bu,” brengsek, terung lagi.

Gadis itu duduk lagi. Zul tak lagi diam.

“Adel?”

“Iya. Kok tahu A?”

“Yang suka main piano?”

“Iya,”

Telunjuk Zul menunjuk muka, “Zul. Zul saja, bapakku pelit kasih nama. Manajemen Bisnis kampus masuk gang,”

Adel tersenyum. Gusti, kebesaranmu memang nyata.

“Adelia Chaniago. Seni Musik universitas yang dulunya IKIP,”

“Orang batak ya?”

“Hahaha, bukan. Kalau Chaniago ya minang dong,”

Bajigur. Bu Asih terkekeh di belakang. Zul makan terung. Terpaksa.

Shesar

Jakarta, 8 Oktober 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s