Encourage Club #3: Sejarah, Budaya, dan Sedapnya Interaksi Sosial

Karena tak melulu foto yang dicari para penikmat jalan-jalan. Bagi sebagian, pengalaman bepergian ke daerah baru bukan selalu soal memburu foto apik nan ciamik. Tidak, bukan soal kegiatan mendokumentasi tidak penting apalagi menarik. Tapi ada hal lain yang bisa dinikmati selain jepret menjepret.

Dalam penelitian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada 2003, ditemukan bahwa faktor budaya dan alam jadi penarik utama kunjungan wisatawan mancanegara. Sudah tentu seseorang berwisata untuk melihat dan merasai sesuatu yang beda dari habitatnya. Contohnya, orang gunung penasaran ingin ke pantai. Dan orang pesisir ingin mendaki guna tahu apa rasanya puncak gunung itu.

Sudah banyak sekali biro perjalanan dan tur operator yang menjual paket wisata dengan alam dan budaya sebagai produk utama. Namun, belum banyak yang mengajak wisatawan meresapi budaya (juga memahami sejarah) penduduk setempat.

Ceruk pasar alias niche market. Begitu pakar pemasaran menamainya. Di sanalah Campa Tour memilih perannya.

Salah seorang pendirinya, Fitri Utaminingrum, membagikan pengalaman dan wawasannya dalam kelas Encourage Club. Seperti kelas-kelas sebelumnya, kegiatan ini kami hadirkan untuk memperkaya wawasan PNS Kementerian Pariwisata pada khususnya, dan keseluruhan PNS pada umumnya.

Kelas ketiga ini berlangsung 6 Agustus lalu. Dan seperti yang sudah-sudah, beruntung sekali kami mendapatkan lokasi gratisan. Terima kasih GrowInc 🙂

Fitri menceritakan bagaimana awal mula Campa Tour berdiri. Menyingkat yang panjang, mulanya Campa Tour belum mengkhususkan diri menawarkan paket wisata budaya dan sejarah. Diferensiasi menjadi alasannya. Harus menjadi beda agar tidak terkapar di tengah persaingan.

 

Kak Fina ketjeh ngemsi

Kak Fina ketjeh ngemsi

 

Mengapa budaya dan sejarah?

Karena dengan memahami sejarah dan budaya, dengan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, ada nilai dan pengalaman lebih yang bisa dibawa pulang. Campa Tour menjadikan paket yang mereka jual lebih bernilai karena ada pula misi sosial yang dibawa.

Salah satu contoh, Campa Tour mengajari penduduk di salah satu desa di NTT cara melayani wisatawan. Ada kecanggungan di awal, namun seiring waktu berjalan, mereka pun terbiasa.

Satu hal lainnya, dengan mengajak wisatawan memahami budaya dan sejarah, penduduk setempat merasa lebih dihargai.

Satu cerita dari Cirebon, seorang pengrajin topeng merasa senang saat dikunjungi wisatawan. Tak sekedar menonton dan menjepret, tapi juga mencari tahu sejarahnya. Sederhana, tapi si pengrajin merasa dihargai karena keingintahuan seperti itu jarang hadir ke mereka.

Ada pula cerita dari Sumba, yang mana seorang penduduk lokal senang kala wisatawan mau menginap di rumah tradisional.

“Kami senang merasa diperhatikan. Soalnya biasanya wisatawan cuma ke pantai dan berfoto,”. Sesederhana itu.

Dengan berinteraksi penduduk lokal , wisatawan juga diajak untuk memahami apa dan siapa mereka. Apa yang mereka inginkan, siapa mereka sebenarnya. Satu cerita lagi dari tanah Nusa Tenggara, seorang penduduk ditanya apa impian dan harapannya.

Kita di kota barangkali terbiasa memimpikan sekolah di luar negeri, kerja di perusahaan mentereng, punya cuan tak berseri, mobil mengkilap dengan plat nomor yang bikin dahi mengernyit, atau punya usaha dengan cabang di sana-sini. Si bapak dari Nusa Tenggara itu tidak.

“Saya ingin sawah ini tetap ada dan anak saya bisa melanjutkan bertani,”

Bapak tadi tiada berbicara pertumbuhan ekonomi di atas 6%, rasio gini yang membaik, rumah yang lebih baik, atau cuan untuk beli kendaraan. Bapak tadi cuma ingin sawahnya tetap ada untuk diwariskan ke anaknya.

Ini membuka mata bahwasanya Indonesia tak berpusat di Jawa saja. Dunia tak berputar mengorbit Jakarta. Jangan sih. Saya sedikit paham karena bertahun-tahun lalu mendengar banyak orang kasihan pada orang Karimunjawa yang cuma menikmati listrik sejak pukul 6 sore hingga 6 pagi. Gusti, sedari kecil saya menghabiskan liburan keluarga di Karimunjawa, topik listrik 12 jam itu tak pernah sekalipun terdengar di telinga.

Orang kota memang nggumunan. Padahal sebetulnya banyak juga orang Tokyo atau London nggumun bagaimana orang Jakarta kok betah sama kota yang angkutan massalnya nggak oke sama sekali. Kok ya betah naik Kopaja? Barangkali penduduk dunia pertama pun nggumun kok kita nggak modar karena makannya muluk pakai tangan? Duhdek.

Kunci dari gembok itu sederhana: memahami. Dengan lebih dekat pada budaya dan sejarah destinasi yang disambangi, wisatawan bisa tahu dan membuka pikirannya.

Ada membagi, ada pula memberi

Seperti sebelumnya, kelas ini dibuat dua arah. Giliran Kak Fitri bertanya pada peserta. Maka tiap-tiap orang menjelaskan satuan kerja dan tugasnya.

Bang David memberi pengertian mengenai sedikit arah kebijakan pengembangan pariwisata, yang mana promosi sangat ditekankan. Promosi dulu, menarik kunjungan dulu untuk dapat pemasukan, lalu perlahan destinasinya dikembangkan. Ya amenitasnya, kemudahan aksesnya, juga atraksinya.

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS :)

Bang David, petromax dalam kegelapan sejak masa pendaftaran CPNS 🙂

Kemudian dilanjutkan pula penjelasan dari satuan kerja pemasaran luar negeri, komunikasi publik, hubungan kelembagaan kepariwisataan, dan pengembangan destinasi. Tentu yang kami jelaskan tidak bisa mendalam. Sebagai pegawai baru, ada hal lain yang baru akan kami ketahui bertahun-tahun kemudian.

Tidak mengapa. Setidaknya dari kelas ini kami bisa saling memahami. Dari sisi pemerintah mendapatkan pandangan dari sudut pelaku usaha dan vice versa. Salah satunya, pemahaman bahwa destinasi dimiliki oleh pemda karena adanya otonomi daerah. Pemerintah pusat tidak bisa mengatur seenaknya karena garis komandonya horizontal, bukan vertikal.

Tidak selesai sampai di sini

Ini adalah kelas ketiga usai public speaking sebagai yang perdana dan dilanjutkan tourism beyond sightseeing. Kelas selanjutnya bisa saja bertema hubungan masyarakat, keuangan, maupun topik penelitian. Ada banyak kemungkinan, tapi muaranya satu: sumber daya PNS yang kian baik dan berwawasan. Semoga dilancarkan.

Encourage Club, Langkah Kecil Kami

Rasa-rasanya PNS dan kebobrokan itu sudah berkawan karib sejak lama. Dan kami menolak perkawanan karib itu berlanjut. Sepenuhnya percaya bahwa masih banyak PNS yang cerdas, mau berkembang, tidak bekerja gitu-gitu aja, dan benar-benar punya niat memberi lebih bagi bangsa.

Bermula dari obrolan keresahan di kafe, berteman sepiring makan siang dan segelas jus buah, tercetuslah pikiran untuk melakukan sesuatu yang akan bermanfaat bagi PNS. Untuk terus berkembang tidak bisa kami hanya melulu bercumbu dengan rutinitas. Kami harus belajar. Dari manapun, dari siapapun. Jadi, kenapa tidak membuat sebuah wadah yang memfasilitasi itu?

Instansi kami bukannya tidak memberi kesempatan untuk belajar. Sebelumnya sudah pernah diadakan kelas public speaking, pemasaran, dan pariwisata berkelanjutan. Yang jadi persoalan, kelas tersebut tidak bisa diakses bebas. Tidak semua yang mengikuti punya antusiasme besar, sebaliknya yang punya antusiasme besar bisa mengikuti.

Berenam, kami merancang sebuah wadah untuk itu. Untuk kami belajar, untuk bertukar pikiran, untuk barter ilmu, untuk berjejaring. Tercetus sejak Agustus, tapi wujud nyatanya baru ada saat Januari sudah hampir berlalu.

Kelas perdana kami putuskan untuk belajar public speaking. Sederhana saja alasannya, kemampuan bicara di depan massa penting. Sebagus apapun ide di kepala tidak akan jadi berguna jika mulut dan segenap tubuh tak mampu menjadi penyampai. Baik untuk presentasi, pembukaan, atau berjualan. Gagal membuat pendengar menangkap maksud kita tak lebih baik daripada memendam maksud itu.

Langkah kami dimulai dari yang kecil. Tentu sulit mengundang orang sekelas Panji Pragiwaksono atau Tjokroaminoto. Nama terakhir sulit diakses, nama kedua sudah lama masuk pekuburan. Tapi kami berhasil membujuk Kak Putri Lestari. Keberhasilannya membuat ide besar SabangMerauke tersampaikan ke juri IdeaFest bukanlah satu hal yang bisa diremehkan. Dan terbukti di kelas perdana.

Kak Putri mengajarkan cara bicara di depan publik dengan santai. Tanpa jarak, tanpa niat menggurui. Suasana santai dan asyik. Satu per satu peserta yang hadir maju untuk praktek. Ide-ide di kepala harus ditumpahkan oleh mulut. Tangan juga segenap tubuh harus bergerak meyakinkan. Itu kelas yang menyenangkan.

Ah iya, ada 14 orang yang hadir di kelas perdana itu. Semuanya PNS. Tidak insan pariwisata saja, ada pula insan kesehatan yang datang. Kelas ini memang selalu dipromosikan ke para PNS. Yang terdekat tentu rekan-rekan insan pariwisata, tapi insan bidang lain pun kami ajak. Bahkan mereka yang bekerja di luar pemerintahan pun dipersilakan, namun dengan pembatasan. Bukan karena pelit, namun agar sesuai koridor awal yaitu sebagai wadah belajar PNS.

Praktek :D

Praktek 😀

Langkah pertama :)

Langkah pertama 🙂

Kehadiran insan bidang lain dan yang di luar pemerintahan justru disukai. Dengan begitu teman bertambah dan jejaring semakin luas. Syukur pula jika ada yang berjodoh …

Sudah 400 lebih kata tersusun tapi nama wadah ini malah belum disebut. Baiklah jika pembaca memaksa. Kami menyebutnya Encourage Club. Agar keren, sedikit filosofi akan dituangkan di sini.

Disebut encourage karena wadah ini diharapkan bisa mendorong PNS untuk mau dan mampu mengembangkan diri. Jika kapasitas dan kapabilitas PNS meningkat, keluarannya tak lain tak bukan bangsa yang semakin maju. Saya pribadi menyukai pemikiran dan perkataan Ahok, bahwa masih banyak PNS yang bagus.

Disebut club karena kami berenam tak ingin wadah ini eksklusif milik kami. Dengan menjadikan ini klub, kami ingin lebih banyak orang terlibat. Keterlibatan menghasilkan rasa kepemilikan. Rasa kepemilikan menimbulkan kasih sayang. Kasih sayang berujung di pelaminan. Pelaminan jadi titik mula untuk saling menjaga dan merawat. Dan apa apa yang terawat usianya lama.

Maka ketika kelas kedua berjalan pertengahan Maret ini, ada rasa senang. Senang karena tidak terhenti di kelas perdana. Senang karena mereka yang di luar pemerintahan berkenan hadir. Lebih senang lagi karena rekan-rekan PNS mau datang lagi dan memberi masukan.

Teh Annisa Potter bersedia menjadi pembicara di kelas yang bertajuk “Tourism Beyond Sightseeing”. Si teteh mengisahkan perjalanannya ke 21 negara dalam lima tahun. Perjalanan yang tak melulu mengagumi pemandangan. Lebih dari itu, Teh Potter memberi gambaran mengapa kota ini ramai turis, bagaimana danau kota itu dirawat, juga bagaimana sebuah bekas tempat pembantaian diubah jadi lokasi wisata sejarah.

Di senja acara, ganti Teh Potter yang bertanya beberapa hal tentang kantor kami. Tentu saja menyenangkan bisa memberi gambaran kondisi pariwisata Indonesia saat ini, sesuai pengetahuan kami yang terbatas. Ada terselip beberapa ide cara berpromosi Wonderful/Pesona Indonesia yang semakin baik. Ini menggembirakan.

Men-cerah-kan

Men-cerah-kan

Semakin menggembirakan karena ada masukan mengenai siapa yang selanjutnya layak diundang sebagai pembicara. Bahkan ada pula masukan dalam hal pendanaan. Segala jenis masukan dibutuhkan untuk – seperti yang sudah dibilang di atas – merawat bersama klub ini.

Kelas ketiga, keempat, dan seterusnya harus ada. Dan semoga lebih banyak orang yang datang. Semakin banyak masukan dan usulan. Terus bertambah orang yang bersedia hadir membagi ilmu. Klub ini, kami para PNS, hukumnya fardhu ain untuk terus dapat nutrisi.

Jakarta, 24 Maret 2016

Devina Aureel, Sinergi Prima Kang Mbecak dan Atlet Karambol

gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

gambar: kusumastutidiyah.blogspot.com

Pakem yang berkembang di masyarakat, dari Mesopotamia sampai pusat Surabaya, gadis ayu itu sudah sepatutnya punya tingkah polah anggun, manis, kalem, dan tidak glegek’en (jenis suara saat mengeluarkan gas dari mulut) sembarangan. Gadis ayu harus terjaga bicaranya, kentutnya, dan rapi gambar alisnya. Sayang pakem tadi tidak berlaku di hadapan Devina Aureel.

Devina, terindikasi berasal dari Malang, dengan ayu menyobek-nyobek pakem yang sudah disepakati oleh entah berapa generasi. Semalam, saya tidak habis pikir bagaimana seorang yang begitu manis bisa punya tingkah yang sangat cacat. Cacat di sini adalah sebuah ameliorasi.

Peduli iblis dengan angle depan kamera, Devina selalu pasang muka suka-suka. Ada bintik-bintik di muka? Keren gila macem Fernando Torres. Begitu pikir Devina. Kayanya sih. Bibir monyong, lambe ndomble juga suka-suka dipamerin sama gadis itu. Oh ya, jangan lupakan lubang hidung.

Malam itu pukul 00.69 dini hari. Versi sopannya, 01.09. Dan Devina kampret masih saja bikin saya dan seorang kawan cekikikan di kamar. Ya tentu lewat video di Instagram, masa iya ngarep dia standup comedy di dalam kamar yang isinya dua lelaki lajang. Nanti jadinya smackdown kak.

Melihat Devina, saya jadi teringat karambol lama di rumah dan tukang becak langganan kawan semasa SD dulu. Sama seperti Mba Dev, karambol dan kang mbecak juga pelanggar pakem. Kapan lagi bisa bernostalgia dengan karambol dan kang mbecak dalam syahdunya pergantian hari?

Tentang karambol ini sudah pernah dibahas oleh Mojok. Karambol dengan sangat elegan melabrak pakem kebanyakan olahraga: tiada licin di antara kita. Karpet lapangan bulutangkis kena keringat, tolong dipel bro biar ndak bikin kepleset. Rumput lapangan sepak bola basah selepas hujan, mari kita keringkan dulu kakak.

Lihatlah karambol. Tepung kanji jadi kunci permainan ini. Tiada tepung kanji, koin karambol tidak akan berjalan mulus. Licin adalah teman kata Tsubasa. Sama seperti pedekate. Tanpa kencan dan perhatian ia akan seret. Sayang seratus sayang, perkara asmara belum masuk kategori olahraga.

Kang mbecak juga sama saja. Lihat dan amati. Posisi pengemudi kendaraan jasa ada di mana? Kalau ndak  sejajar ya di depan. Naik taksi, supirnya kalau ndak di depan ya di samping penumpang. Naik kereta, ya jelas masinis di depan. Pun begitu halnya dengan pesawat, delman, dan jinrikisha, becak tradisional Jepang.

Becak Indonesia sungguh ngawur. Kang mbecaknya di belakang, penumpang di depan. Rasanya seperti para penumpang disodorkan ke jalanan. Enak ndak enak sih. Kalau ada apa-apa, misal ketabrak ayam dari depan, penumpang kena duluan. Tapi ya enak juga, bisa lihat pemandangan dengan utuh. Ndak pakai filter model apapun.

Maka jangan heran kalau di kemudian waktu muncul pepatah bijak dan lirik lagu,

“You are the karambol of my eye” atau “You’re my kang mbecak, you’re reality”

Oke yang barusan maksa.

Tengah malam itu, saya terkagum dengan Devina yang fasih menggambar alisnya menjadi dua bukit. Plus matahari di antara keduanya. Begitu pula ketika Devina yang anggun mengkover lagu secara bilingual, Enggres lan Jawa.

“I’m only human. And I bleed when I fall down”

“Aku mek menungsa. Aku berdarah nek tiba”

Menakjubkan. Christina Perri dan Nurhana perlu diduetkan lewat kreativitas Devina. Dengan Manthous sebagai produsernya, pasti akan jadi lagu yang disukai di Suriname.

Hal lain yang perlu dikagumi dari Devina adalah kefasihannya dalam misuh. Kata asyu begitu pas makhrajil huruf dan tajwidnya. Panjangnya dua harakat, tak lebih dan tak kurang. Sungguh pas, enak di telinga.

Medoknya pun gurih, mengutip Indro Warkop. Sekali lagi soal pakem. Lazimnya gadis ayu bakal melorot tingkat keayuannya seketika dia ngomong medok. Tapi apa daya itu semua ditepis Devina. Medoknya Devina aduhai dan semlohai. Sangat renyah dan elegan. Bahkan ia pun bangga dan mengaku gilo kalau ngomong lo-gue. Wahai saudara sejawat, sesuku, selidah medok, Lestarikan kebanggaan terhadap medok.

Saya sudah saja celotehan ndak jelas ini. Pengen sih makin ngalor-ngidul lagi, tapi sayang eek-ku sudah di ujung.

Susah memang kalau sudah di ujung

Susah memang kalau sudah di ujung

Gegara Teman Saya Ndak Baca Twitnya Mas Felix

Ini Sabtu. Harusnya kan saya enak-enakan yang-yangan sama Dek Kasur, tapi mak bedunduk ada foto nongol di Facebook yang bikin pengen nulis. Dan tulisan ini teruntuk Mas Felix yang gantengnya gak ketulungan.

Begini Mas Felix, kemarin tuh jebulnya dua kawan saya, Alsa sama Bintang menikah. Njengan pasti ndak kenal. Wong peredaran mereka ndak sejauh njenengan kok yang sampai nampang di tipi-tipi nasional. Tak kenalke sini. Alsa itu temen sekelas saya pas kelas X. Anaknya ndak sek isa bal-balan, tapi dia yang ngajari saya renang. Mas Felix percaya toh kalau renang itu salah satu kecakapan yang kudu dikuasai muslim di samping memanah dan naik kuda? Walau saya nggak yakin yang dua terakhir ini masih relevan atau ndak.

Nah kalau si Bintang ini temen sekelas saya di kelas VI. Dia dulu wakil ketua kelas yang agak galak. Kerjaannya tiap Rabu pasti inspeksi kuku-kuku kami. Kalau kotor dikethok. Kalau panjang nggih sami mawon, dikethok. Lak ya medeni toh?

Bintang sama Alsa setahu sahaya udah pacaran sejak SMP lho mas. Yah walaupun putus nyambung sih, tapi intinipun mereka awet yang-yangane. Dan sakniki sampun rabi dan (kayanya sih sudah) ahak-ihik-uhuk-oh-yes-oh-no gitu. Ndakpapa, sudah halal kok.

Saya heran lho, gimana ceritanya sampai mereka bisa sampai nikah gitu. Padahal kan kalau menurut yang saya tangkap dari dakwah njenengan pacaran itu The Most Tembelek Lencung in The World. Pacaran kuwi lapo jal? Gak guna gitu kan, bener ndak?

Menurut njenengan pacaran bakal rugiin cewek, enak di cowok tok, ladang maksiat, gak jelas juntrunganipun, dan lain sebagainya. Dari baca twit njenengan saya udah yakin lho kalau yang pacaran itu bejat kabeh. Yang cowok gak ada niat serius salah satunya. PHP jarenipun, tapi saya sih lebih suka HTML atau JAV. Wuiiiiih.

Lha kok si Alsa ini ada niat serius sampai nikah ya? Pasti Yang Dipertuan Alsa ndak baca twit njenengan sampai anomali gitu. Ckckckck. Ada juga teman saya yang lain Mas, namanya Mirza dan Elfa. Sama-sama pernah jadi teman sekelas, mereka yang-yangan sejak SMA dan sekarang sudah punya anak. Tentu mereka sudah nikah dulu lah sebelum ahak-ihik-uhuk-oh-yes-oh-no.

Coba Alsa baca twit njenengan, pasti mikirnya udah beda. Jadi kaya saya ini lho yang nangkep kalau pacaran itu wagu, nanti kalau udah berkeluarga rawan pecah karena sejak awal udah maksiat. Belum lagi anak-anaknya nanti gimana. Intinya keluarga yang dibentuk bakal wagu gitu.

Kayanya saya ini juga wagu deh Mas. Lha wong bapak-emak saya dulu yang-yangan. Wis ya pokokmen mereka bejat lah. Gak peduli emak saya rajin ngaji, rajin tahajud, sama puasa Senin-Kamis. Ngapain juga peduli emak saya dulu yang nyuruh anak-anaknya belajar ngaji, nyekolahin ke sekolah arab (bahasa globalnya madrasah Mas), atau ngajarin puasa. Udah lah pokoknya emak saya bejat karena nikah lewat proses pacaran yang mbelek lencung itu.

Tuh yang pacaran, dikatain Spongebob tuh

Pacaran di budaya kita Mas, memang buat perkenalan. Ndak semuanya bisa jadi spekulan seperti yang Mas Felix teriakkan, yang mana hari ini ketemu, lamar, ta’aruf beberapa waktu (yang jelasnya gak sampai menahun macam orang pacaran mbelek lencung itu), lalu cocok dan halal deh buat ahak-ihik-uhuk-oh-yes-oh-no. Keluarga pun jaminan mutu di masa depan. Wuih hebat.

Ada lho Mas yang butuh kenal lamaaaaa banget sebelum rabi. Yang ditakutin tuh malah kalau nanti salah memutuskan, njuk malah pegatan di tengah jalan. Pegatan kan dibenci Gusti Allah, ngoten nggih?

Pacaran itu salah satu jalan Mas. Kalau yang ndak suka dan ndak cocok nggih mangga. Tapi kalau cocok model begitu, ya silakan sejak awal diniati yang bener. Intinipun kalau mau nikah, jalur kenalan mendalamnya bisa lewat pacaran maupun ta’aruf. Masing-masing ada kelebihan kekurangan kan? Lha wong kenyataan banyak orang pacaran yang berujung nikah (nah, yang dasarnya serius ke sana juga ada kan?) dan keluarganya oke-oke saja. Bahkan yang-yangan sejak SMP-SMA berujung nikah pun ada, tapi kok ndak pernah njenengan bahas? Seolah-olah pacaran ki wueleke pol, The Most Tembelek Lencung in The World.

Jangan karena segelintir orang pacaran maksiat kebablasan, lalu dipukul rata semua pasti bakal gitu. Njenengan ndak setuju kan kalau ada satu orang Islam ngebom lalu pada mukul rata kalau semua orang Islam begitu? Atau malah nuding Islam itu agama teroris?

Oh ya terakhir deh Mas, kalau dakwah mbok ya yang adem macam Prof. Quraish Shihab yang katanya liberal, syiah, dan komunis cuma karena mendukung Jokowi yang dituduh komunis itu. Heran, gimana ceritanya liberal sama komunis ada di satu kepala. Coba ngana bayangkan Korea Utara sama Amerika Serikat main congklak, ngopi, lalu haha-hihi bersama. Bayangkan.

Baca deh buku Prof. QS yang 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui. Beliyo ngaku kalau sangat berhati-hati sama anjing, enggan megang karena khawatir najis. Tapi pas jawab pertanyaan tentang hukum memelihara anjing, beliyo kasih pandangan yang membolehkan, membolehkan dengan kehati-hatian, dan yang mending tidak usah saja karena khawatir najis. Ndak seperti njenengan yang hobi memutuskan suatu perkara.

“Hukumnya X! Udah nggak usah bantah! Kamu Islam nggak?”

Weleh weleh. Lagian njenengan ki wagu. Ngaku ndak suka Yahudi tapi kok Facebookan.

Kasihan jemaah njenengan yang kebanyakan anak muda labil seperti saya dulu yang bisanya mung manthuk-manthuk manut. Daripada ngajari kalau 36 + 33 = 69, mending ngajari X + Y = 69. Jemaahnya diajari mikir kalau ndak cuma ada satu jawaban. Alhamdulillah sekarang ada MikiroSitik di Facebook. Ndak usah mampir Mas, nanti bisa kzl dan zbl loh.